Social Media

Share this page on:

‘Membeli’ Tuhan

18-05-2015 - 17:09
Rurin Hamarta
Rurin Hamarta

(In Memoriam Moh Jufri)
Oleh: Rurin Hamarta

Hari ini aku berbahagia
Tuhan menepati janjiNya
Memberiku kesempatan terakhir
Untuk mengantarmu hingga hari akhir
Memberiku kesempatan besar
Ketika engkau mengawali perjalanan akbar
Menuju dunia lain yang telah terhampar…

Hari ini aku berduka
Tuhan menepati janjiNya
Memintamu dariku untuk pulang ke rumahNya..
Dia telah kirimkan utusanNya, menjemputmu menuju sisi lain dunia
Yang indah telah Ia sediakan,
Namun tempatnya Ia rahasiakan..

Wahai kekasih Tuhan,
Wahai kekasihku yang tak tergantikan….
Telah kuhabiskan air mata untuk mengemis atas hidupmu
Telah kutawarkan diri agar Ia menggantikanmu denganku
Bila memang hari ini harus ada jumlah yang ditentukan
Untuk menghadapNya, dan menyelesaikan segala urusan..

Wahai kekasih Allah…
Wahai kekasih jiwaku yang telah lelah.
Telah kulakukan segala yang harus
Telah kutempuh segalanya dengan tulus.
Hingga aku hampir hilang keyakinan,
karena segala amal yang telah aku lakukan sejak dahulu
Tidak juga mampu menghentikan waktu

Wahai kekasihku hidup dan mati…
Sudah kutawarkan segalanya yang kumiliki
Membeli jiwamu dari mati
Bahkan kuamalkan hidupku demi mendapat hidupmu kembali
Betapa  cara kerja Tuhan yang tak pernah bisa dimengerti
Ia memberi satu, lalu mengambil yang lainnya tanpa sangsi….
Bila ini terbaik untukmu, seharusnya  terbaik untukku pula
Bila ini ujian untukku , ukuran kelulusannya sangat menimbulkan luka

Wahai kekasih Allah…
Wahai kekasih jiwaku yang tak terbelah
Lihatlah jiwaku yang merana
Tersesat dalam pertanyaan pada Sang Pencipta.
Beri tahu aku, apakah yang bisa kupinta
Karena Ketika Ia mengambilmu, Ia telah mengambil segalanya.

Wahai kekasihku yang tak tergantikan…
Selamat jalan….
Nantikan aku kelak di hari depan.
Jangan kau terima siapapun meski bidadari rupawan.
Aku pasti datang, aku pasti pulang
Tahukah kau, bahwa aku seperti raga tak bertulang
Terhempas pada kepedihan yang tak terukurkan.

Wahai kekasihku yang  tak tergantikan..
Terima kasih telah memberiku kebahagian yang tak tertukarkan
Setiap detik bersamamu adalah cahaya intan berlian
Setiap saat senyum lesung pipitmu adalah keberkahan
Setiap sudut adalah kenangan ,
setiap kenangan adalah air mata dari penyesalan atas sedikitnya waktu..
betapa aku telah berusaha membayar hidupmu
dengan apa saja yang Tuhan mau…

wahai kekasihku.. selamat jalan,
pergilah ke rumah Tuhan, berkunjunglah padaku bila kau senggang
aku mengharapkanmu, meski cuma sekelebat bayangan.

Hari ini Tuhan menepati janjiNya..
Meletakkan wajahmu dalam pelukanku
Memberimu kesempatan padamu, mengucapkan padaku kata “I love You“
Sebelum aku menuntunmu menyebut nama Rabb mu…
Lalu mengantakanmu pada akhir hidupmu..

Hari ini Tuhan menepati janjiNya
Dan hari ini pula aku meminta yang lainnya
Agar menyediakan aku satu tempat untuk kita bersama
Kelak bila tiba masanya….Semoga nanti Tuhan menepati janjiNya
Tidak mengirimkan siapapun untukmu kecuali aku
Tidak menciptakan bidadari kecuali aku
Tidak memberikan tempat  lain di sisimu kecuali untukku.
Wahai kekasihku,
Berangkatlah sayang, kelak aku menyusulmu
Jagalah tempat disisimu untukku
Pastikan tak seorangpun akan merebutnya dariku.
Kelak aku pasti datang…..
Menjadi bidadari terbaik , yang membuat malu semua bintang
Karena aku datang dengan cahaya yang paling terang.

Bersabarlah sayang…
Kelak aku pasti datang…..
Kematian ini tidak mengakhiri  cinta dan kasih sayang.


Pewarta : Rochmat Sobirin
Editor :
Publisher : Yatimul Ainun


Top