Social Media

Share this page on:

Belajar Hidup dan Kehidupan dari To Kill a Mockingbird

25-09-2016 - 17:08
Foto Istimewa
Foto Istimewa

MALANGTIMES - Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan merampungkannya, apa pun yang terjadi (Atticus kepada Jem).

Itulah sepenggal kalimat yang ada pada novel To Kill a Mockingbird. Sebagai novel terlaris sepanjang masa, karya Harper Lee ini masih relevan dibaca saat ini. 

Mengangkat tema tentang hak asasi manusia pada abad ke-20 tentang isu kulit hitam dan kulit putih di Amerika tahun 1930, Harper Lee mengguncang dunia dengan keberaniannya. Dimana saat itu isu ras menjadi sesuatu yang sangat sensitif untuk dibicarakan.

Keberanian yang indah dan sarat pesan moral yang menggedor nurani, membuat novel fenomenal ini meraih berbagai penghargaan antara lain Pulitzer Award 1961, Presidential Medal of Freedom 2007, dan The Highest Civilian Honor USA. 

To Kill a Mockingbird menceritakan tentang kehidupan seorang anak bernama Scout bersama abangnya bernama Jem dan ayahnya, Atticus, yang berprofesi sebagai pengacara di sebuah kota kecil bernama Maycomb.

Scout yang kala itu masih berusia delapan tahun begitu banyak belajar melihat dunia melalui kehidupan sang ayah. Di usia yang masih sedini itu Scout dipaksa memikirkan banyak hal yang tak ia mengerti, seperti: mengapa orang kulit hitam seolah berada di bawah kuasa orang kulit putih.

Mengapa Atticus menjadi musuh banyak orang ketika menjadi pembela hukum bagi orang kulit hitam, mengapa bibi Alexandra begitu ingin sekali menanamkan nilai-nilai kebaikan pada diri Scout dan Jem meski bagi Scout apa yang dilakukan bibinya tak semuanya benar. 

Begitu banyaknya pelajaran kehidupan yang bisa kita temui di setiap bab yang kita baca, membuat novel ini serupa akar filsafat yang tidak membuat kening berkerut.

Beberapa petikan menarik yang mungkin bisa menjadi inspirasi hidup kita dalam To Kill A Mockingbird, sebagai berikut :

"Selalu saja ada jenis orang yang terlalu sibuk memikirkan akhirat sehingga tidak pernah belajar hidup di dunia ini"

Sebuah percakapan yang agak menggelitik antara Scout dan Miss Maudie. Scout mempersoalkan bagaimana bisa tetangga-tetangganya yang rajin ke gereja kadang memperlakukan orang lain dengan tak baik.

"Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya," Ini kata-kata yang dikatakan Atticus pada anak perempuannya, Scout. 

"Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang," Atau petikan "Bagaimana mungkin orang bisa membenci Hitler demikian sangat, lalu berbalik bersikap buruk pada orang-orang yang justru ada di kotanya sendiri?"

Satir yang begitu telak menghajar nurani kita dalam menjalankan kehidupan sehari-hari yang semakin absurd ini. To Kill a Mockingbird juga mengajarkan kepada kita melalui tokoh Scout, seorang anak kecil yang menjadi sentral di novel, bahwa yang merasa menjadi orang dewasa agar bisa lebih banyak belajar dari seorang anak kecil.


Pewarta : Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Abdul Hanan


Top