Social Media

Share this page on:

Serial Cerpen Bersambung

Serial Cerpen Bersambung (5) Parak Pagi Aku Merindumu

03-12-2016 - 08:33
Ilustrasi cerbung (istimewa)
Ilustrasi cerbung (istimewa)

MALANGTIMES Serial Cerpen Bersambung (5)

Parak Pagi, Aku Merindumu*
dd Nana

/6/Luka

Pagi, seharusnya bening. Indah. Karena pagi, serupa rahim. Karena segala suara dan gerak melambat di saat itu. Ya, pagi ini seharusnya indah. Tapi kini, pagi terkoyak sempurna. Lesi, dirobek kabar dari sahabat. 

Apa yang terjadi?

-Wajahku ditinggalkan darah-
Petaka. Luka.

Apa yang terjadi!!!
-Sempurna seluruh tubuhku bergetar. Detak jantungku, liar-

Maafkan aku, Merah. Ternyata, angkara, tidak pernah puas. Angkara selalu haus. Dan, mereka, para lelaki yang berseteru, menjelma satu. Kebencian, rasa malu, ternyata senyawa yang mampu menautkan satu dengan yang lainnya. 

Padahal, mereka berseteru lama. Mereka, para lelaki sekawan bapakmu dan pendatang yang telah lama merasa menjadi tuan tanah.
Ibu, Biru? Mereka.........??

Ya, Merah. Angkara membawa petaka kepada para perempuan kinasihmu. Tubuh mereka, rengkah. Berdarah-darah. Di parak pagi, yang seharusnya indah.

Getar tubuhku. Luruh. Air mata. Aku kini siapa? tanpa para perempuan yang kucinta. 
Ibu, Biru..andai aku Yudhistira yang mampu menahan segala luka duka dengan kebijakan samudera. 
Andai aku Karna pun Bisma, yang sejiwa dengan tanah tumpah darahnya. 

Ah..andai aku tidak meninggalkan kalian, sekedar membangun rumah nikah. Andai.......
Arrggh…maka kusempurnakan takdirku sebagai penari luka. Kuhitung tiap kepala lelaki dari dua seteru dengan kesumat. Kalau kalian sempat mengumpat, mengumpatlah senyaring luka.

Mengaduhlah sedalam duka. Percayalah, aku akan datang meniti angin yang bersekutu dengan kesumatku. Menagih apa-apa yang telah kalian renggut. 

Tuhan dimanapun Kau kini menetap, saksikanlah. Kutempuh titah dan mau-MU ini. Saksikan aku. saksikan aku...

Maka, tanah, tumpah darah. Berulang kembali. Telaga-telaga kehilangan jernihnya. Kini, merah. Angin, mengaduh-aduh. 

Tariku, begitu merah. Masa, berdarah-darah. Kini, mereka menamakanku Iblis. Tak bertempat, tak berpihak. Hanya ada kesumat. Menjadi binatang buruan para lelaki yang terus berseteru. Menguarkan aroma birahi para lelaki pencinta kilau. 

Maka, logam-logam dengan pukau kilau, bergemerincing. Cukup banyak. Banyak. Semakin banyak. 
Hadiah, bagi siapapun yang mampu meremukkan kepalaku. Kau lapar? pangkaslah leherku, bajingan. Lontarkan timah-timah panasmu ditubuhku, penjajah. 

Aku, Iblis yang merah. Sangat marah. Mampu berbiak dan membagi barah. Meski terkadang lelah. 
Ah, ternyata senyum para perempuan kinasih, begitu mengekal. Ternyata, air mata para perempuan yang mencinta, begitu kental. Menerobos kesumat. Mengistirahkan luka duka, amarah yang sangat. Cinta, ruang terbuka. Bagi dada, kepala dan edar darah. Karenanya, bibirku tersenyum. Karenaya, aku terkadang lupa. Bahwa aku binatang buruan. 

Hangat senyum, hangat airmata mereka, memberi ruang bagi para lelaki itu. Sebutir, dua butir, tiga butir, berbutir-butir timah panas para lelaki yang berseteru, menciumi sekujur tubuhku. 

Aku, luruh. Tubuh ini mendekap kubur kalian, para perempuan yang mencinta. Ah, Ibu, Biru, kusiram semayam kalian dengan darahku. Darah cinta dari kalian. 
Cinta, ruang terbuka. Untuk luka, duka, sepi, harapan, doa-doa (Bersambung).


Pewarta : Dede Nana
Editor : Redaksi
Publisher : Anang Sugara


Top