Social Media

Share this page on:

Serial Cerpen Bersambung (8) Parak Pagi, Aku Merindumu*

11-12-2016 - 09:03
Ilustrasi cerbung (istimewa)
Ilustrasi cerbung (istimewa)

Serial Cerpen Bersambung (8)
Parak Pagi, Aku Merindumu*
dd nana


/8/Ular
Namaku Ular. Melata dikelam malam. Menguarkan bisa rayu kesetiap lelaki limbung. Para lelaki yang sebenarnya ku benci. Karena, lelaki limbung, bagiku adalah kanak-kanak manja yang hanya pintar merajuk. Meminta. Hanya pintar mengumpat segala yang tak pernah bisa ditaklukkannya. 

Para lelaki yang dimanjakan keadaan. Tidak sepertimu. Lelaki api yang entah sejak kapan begitu ku rindu. Disetiap malam. Disetiap pori-pori tubuh. Lelaki yang tiba-tiba datang dengan mata begitu santun. Tubuh yang begitu kencana. Pualam penuh luka. 

Aku mengingatnya, saat parak pagi. Kau, menyapaku. Mengajakku. Memberiku segepok uang. Dan, aku terkesiap atas semua yang kau lakukan. Kau, tidak menyentuh tubuhku. Mencegahku yang siap melaksanakan tugas sehari-hariku. Melayani setiap syahwat.

Kumohon, pakai kembali busanamu, perempuan. Aku membayarmu bukan untuk syahwat sesaat. 
Aku hanya butuh kau menemaniku. Bercakap-cakap tentang sesuatu yang kurasa hilang. Sangat lama. Mungkin, sebelum aku menghuni tubuh ini.

Ya, seharian kita hanya saling pandang. Bertukar kata. Banyak yang tak kufahami. Hanya satu yang kuyakini. Kau, lelaki api bertubuh kencana, memberiku rasa yang asing. Rasa rindu yang entah. 

Kelak, kita akan kembali bersua. Kata terakhir, darimu. Bayangmu pelahan, menghilang. Lubang dalam dadaku. Sepi yang merajam.

Ah, dimanakah kau sekarang, lelaki api dengan tubuh kencana. Sungguh, aku rindu. Cukup lama kuintip kau disela selangkanganku. Disela dengus syahwat para lelaki limbung. Diantara derai mabuk dan tangisku. 
Dimanakah kau?  Terlalu kuduskah tubuhmu? Beri aku petanda, kekasih yang tak kumiliki. Ah, andai kau tahu, betapa hasratku menguliti tubuhmu yang kencana untuk kujadikan kelopak hari. Menempelkan rupa telanjang penuh luka di sekujur tubuhku. Agar mata ini tak pernah kehilangan wujudmu. 

Tetapi, aku tidak ingin sekedar menggambar tubuhmu, karena rambut, mata, mulut, tubuh, tangan, kaki dan alat kelaminmu telah begitu sempurna tercetak terekam di seluruh ruang kehidupan. Dari produk pasta gigi, sabun, deterjen, buku, makanan dan minuman, televisi, radio, komputer, spanduk, baliho, kaos, topi, stiker, rumah, dan lainnya. Dipuja dan dicaci. Setelah kau kobarkan api dititik-titik tanah ini. Tanah tuah penuh berkah. Penuh darah. Meluluhluntakan segenap yang berwarna beda dengan warnamu. 

Maka pecahlah suara-suara. Menjadikan kau berjuta rupa berlaksa jarak. Menindih para hikayat para sejarah.  Negeri hikayat negeri para penjahat. 

Awalnya, mustahil menemukanmu lagi. Hingga suatu senja kita bersitatap, mungkin sejenak tetapi cukup untuk saling mengenal luka yang diemban. Saat api meraja di belantara kota-kota, kreasimu yang sama. Sepasang matamu hinggap di mataku. Mengantarkan kita di taman duka. Tempat yang mengenalkan kepada kita bentuk dosa dan do’a. 

Dan akupun harus kembali mengupas makna tentang getar yang merambat, pelan. Getar yang sebenarnya tidak menggelegar, tetapi cukup merampas kesadaran di senja yang mengembun petanda. Getar yang meranggas sunyi di selisih kesadaran waktu yang rapuh. 

Akupun harus kembali bergetar oleh panas nafasmu, panas darahmu, panas takdir kita. Namaku ular. Pelacur jalanan pemuja warna biru (Bersambung).


*Penulis wartawan MALANGTIMES


Pewarta : Nana
Editor :
Publisher : Aditya Fachril Bayu

TAG'S


Top