Social Media

Share this page on:

Serial Cerpen Bersambung (1)

Rumah Api- Nada ke-9 yang Tak Usai

18-12-2016 - 08:52
Ilustrasi cerbung (istimewa)
Ilustrasi cerbung (istimewa)

2/
Awalnya dimulai dari persekongkolan kelamin yang tak tepat janji. Kelamin yang tak mengenal ikrar awal. Kelamin yang abai atas sejarahnya sendiri. 


Begitu perempuan yang menjadi ibuku dulu berucap. Saat kelamin berbicara di ruang kepala tanpa ingatan, maka nestapa yang meraja. 


Ibuku, melanjutkan kenangan itu. Aku, bocah perempuan berusia 6 tahun, saat itu. Dan, syahwat yang terbakar lebih kuat daripada rasa takut, anakku. Saat semua terjadi, hanya air mata yang Ibu punya. Dan, hanya kau, anakku, yang kumiliki.


Lantas dimana doa waktu itu, Ibu? Aku bertanya. Doa, anakku. Ya, dimanakah doa waktu itu. Doa lelap tak berjaga. Doa berubah menjadi desis yang liris. Antara gairah yang terbakar dan takut yang samar. 


Dan, ingatlah anakku, sekokoh apapun desis perempuan akan dihayutkan gelombang kata-kata lelaki yang dibakar syahwat. Lihatlah hasilnya. Penyatuan yang sejenak dalam hitungan waktu, menjadi peristiwa yang menetap liat dalam hidup ibu. Memicu kecamuk seluruh masyarakat. Dan ibu sebagai perempuan harus terpelanting sendiri. Menahan aib, menahan beban oleh perut yang semakin membuncit. 


Oleh kelamin yang tak tepat janji. Kelamin yang tak mengenal ikrar awal. Kelamin yang abai atas sejarahnya sendiri. Seluruh ruang terkunci. Seluruh mata terpincing. Terusir, teraniaya. Merajut segala petaka sendiri. 


“Dimana lelaki yang membuat ibu menangis?” Kau tersenyum menatap mataku. Mata bening yang ku punya. Mata Ibu waktu lalu. 


O…Tuhan, jangan kau cabut bening mata anakku, biarkanlah kejernihannya menetap di sepasang matanya. Masukan berjuta kupu-kupu ke mata anakku, Tuhan, sehingga terbakar hasrat purba para kelam. Menjadi abu. 


Ibu masih tersenyum, menatapku. “Bidadariku, marilah kita mendo’akan para lelaki tanpa detak jam di tubuhnya. Semoga mereka memahami denyut tubuh bukan sekedar irama kosong ataupun nada yang harus diingkari.”


 Ibu merangkapkan sepasang tangannya di dada. Aku mengikutinya. Kepala kami tertunduk. Mata kami terpejam. Hening. Ibu mengenalkan ritual ini sejak tangan mungilku mampu menjamah telinga dengan menelungkupkan tangan ke kepala. Sebagai bocah aku diserang rasa keingintahuan yang besar. Maka, terkadang aku suka mengintip keheningan itu. Mata kupincingkan melihat ibu yang khusuk. Dan, selalu kulihat punggung ibu mencuatkan sepasang sayap yang begitu putih. Aku selalu terpesona melihat ibu saat berdo’a. 


“Ibu, belikan aku sayap berwarna putih sepertimu” aku merengek-rengek meminta. Begitu sangat. Kau kembali tersenyum. Lantas mengajariku sebuah do’a. Do’a penumbuh sayap. 
“Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih daripada pengawal mengharapkan pagi." 


Begitulah Ibu mengajariku do’a yang selalu dikecupnya setiap malam. Di sela-sela keletihannya memberikan ruang bagi potongan-potongan besi dari para lelaki bermata jalang. Bermata setan.
Dimanakah kini senyum itu. Dimanakah lantunan do’a itu tertinggal. Bapak, hiburlah aku dalam rasa sakit yang menggigit. Berikanlah manis bibir-Mu untuk melepas dahagaku. Meski kutahu, aku tak pantas meminta apapun pada-Mu. Izinkanlah sekali ini kukecup bibir-Mu. 


Ada darah yang meraja. Tetesnya serupa detak jantung. Menghantam lantai. Memecah sunyi malam. Cermin memantulkan bayang, menjelmakan warna. Jangan ganggu. Aku hampir sampai, cermin. 
Bulan menerobos jendela kamar, menyuguhkan kenangan. Jangan ikut campur, bulan! Enyahlah dari kamarku. Berbagai benda bermunculan. Berputaran. Zig zag. Mendekatiku. Setelah berpenggal-penggal kenangan, kini aku rasa hening. Tak ada lagi warna selain lengang yang terbaca.
 O…kenapa lenggang masih menyimpan kenangan. Bapak begitu panjangkah roh dalam tubuh, hingga kematian yang kurindu tak sampai-sampai ? 


"Jangan, jangan tutup rapat pelupukmu Drupadi, masih ada berpuluh pagina yang harus diselesaikan,”  (Bersambung).

*Penulis wartawan MALANGTIMES


Pewarta : Dede Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Aditya Fachril Bayu


Top