Social Media

Share this page on:

Dimulainya Revolusi Mental Kota Malang (10)

Wali Kota Malang: Saya Kaget Lihat Pria Tatoan Menyapu Sambil Tersenyum

25-03-2017 - 23:12
Ilustrasi
Ilustrasi

MALANGTIMES - Perubahan mental warga pemukiman kumuh yang begitu cepat membuat Wali Kota Malang Moch. Anton kaget.

Dia tak menyangka, pembuatan Kampung Warna-Warni Jodipan yang awalnya digagas mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut mampu membawa perubahan yang sangat signifikan.

Kekagetannya terhadap adanya perubahan sikap warga Jodipan pertama kali dirasakannya ketika dia melakukan blusukan di kawasan yang selama ini dikenal sebagai zona merah.

Dia melihat seorang pria penuh tato yang sedang menyapu membersihkan sampah. Tak hanya sekadar menyapu, dia juga terus menebar senyum kepada orang-orang yang melintas di Kampung Warna-Warni.

Dia juga heran, melihat pemuda-pemuda bertato yang dengan sukarela menjadi guide untuk mengantarkan pengunjung yang ingin mengetahui seluk-beluk kampungnya.

"Ya inilah yang namanya revolusi mental. Benar-benar revolusi mental. Kota Malang sudah berhasil mewujudkannya," kata Anton wartawan kepada MalangTIMES beberapa waktu lalu.

Perubahan mental di Kampung Warna-Warni juga terasa di Kampung Tiga Dimensi (3D) Ksatrian serta Kampung Putih di Klojen. Kesan bahwa ketiga kampung tersebut dulunya merupakan zona merah, pusat kejahatan, kini tidak tampak sekali.

Sebelum dipoles menjadi destinasi wisata, ketiga kawasan tersebut kerap digunakan sebagai tempat mabuk, perjudian, maupun aksi kejahatan lainnya. Namun, kesan tersebut kini hilang sama sekali.

"Gak ada yang mabuk, padahal dulu di sana banyak premannya. Warga sana sekarang sangat  sopan, mereka sepertinya sudah sadar wisata," terang Anton.

Tak hanya itu, tiga kawasan yang dulunya terkenal dengan kekotoran dan kekumuhannya, kini benar-benar bersih dan tertata. Masyarakat yang awalnya gemar membuang sampah ke sungai, mereka kini mulai sadar. Sudah jarang sekali masyarakat yang membuang sampah di sungai.

"Masyarakat setempat juga sangat kreatif. Warga yang masuk ke 3D ditarik uang RRp 5 ribu, tapi pengunjung dikasih gantungan kunci. Dan ketika masuk Kampung Warna Warni ditarik Rp 2 ribu,dikasih striker. Pengunjung senang semuanya, banyak yang lapor ke saya," lanjutnya.

Nantinya, antara Kampung Warna Warni dan 3D yang sekarang masih dipisahkan dengan Sungai Brantas, ke depan akan dipersatukan. Anton berencana membuat jembatan. Bukan jembatan seperti yang selama ini ada. Tapi nantinya jembatan tersebut akan terbuat dari kaca.

Panjang jembatan kaca tersebut sekitar 30 meter dengan lebar 1,5 meter. Sedangkan ketinggian jembatan dengan sungai sekitar 10 meter. Jadi, nantinya, pengunjung yang melewati jembatan kaca membutuhkan keberanian tersendiri untuk melewatinya.

Karena melihat efektivitasnya dalam merevolusi mental warganya, Anton akan memperbanyak perubahan kampung kumuh menjadi destinasi wisata.

Semua kawasan kumuh yang sebagian besar ada di bantaran Sungai Brantas tersebut akan dibuat secara tematik.

"Saya akan membuat kampung Arema. Nanti rumahnya dicat biru semua dengan gambar yang berbau Arema. Dan di Kampung Arema itu nantinya akan dipusatkan sebagai tempat penjualan suvenir Arema," jelas Anton.


Pewarta : Anggara/Imam/Hendra
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Aditya Fachril Bayu


Top