Social Media

Share this page on:

Rentenir Mencekik, Warga Poncokusumo Mengadu ke LSM

10-10-2017 - 15:57
Ahmad Khusaeri Badan Pekerja Pro Desa menunjukkan surat yang akan dikirimnya kepada bupati, DPRD, polres, kades serta copy KTP pelapor yang merasa dirugikan oleh praktik renten yang dilakukan YL warga Poncokusumo, Selasa (10/10) (Nana)
Ahmad Khusaeri Badan Pekerja Pro Desa menunjukkan surat yang akan dikirimnya kepada bupati, DPRD, polres, kades serta copy KTP pelapor yang merasa dirugikan oleh praktik renten yang dilakukan YL warga Poncokusumo, Selasa (10/10) (Nana)

MALANGTIMES - Ternyata, praktik rentenir masih begitu menggurita dan membuat warga yang terkena lilitannya tidak bisa bernafas panjang.

Padahal, Pemerintah Kabupaten Malang sudah begitu getol melakukan penguatan ekonomi masyarakat melalui koperasi, misalnya, terus mengingatkan bahayanya praktik rentenir.

Praktik rentenir ini kembali terjadi di Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo yang dilakukan oleh warga Dusun Kunci RT 12 RW 03  berinisial YL yang mempraktikan sistem utang-piutang dengan bunga yang sangat tidak masuk akal.

Misalnya, dari pinjaman uang Rp 5 Juta harus membayar Rp 100 juta dalam kurun waktu 5 bulan. Atau seperti kejadian salah satu warga yang berutang kepada YL dan tidak bisa membayarnya karena bunga sangat tinggi dan tidak masuk akal, akhirnya berniat untuk bunuh diri karena stress.

Kondisi inilah yang akhirnya membuat warga melakukan pengaduan masalah tersebut kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pro Desa agar praktik rentenir yang membuat beberapa warga di Wringinanom tidak terjebak dalam permainan uang YL.

"Iya kita menerima pengaduan warga tentang ini. Oleh karena itu kita tindaklanjuti dengan berkirim surat ke beberapa instansi agar bisa ditindaklanjuti," kata Ahmad Khosaeri Badan Pekerja Pro Desa, Selasa (10/10).

Beberapa instansi atau lembaga yang dikirimi surat oleh LSM Pro Desa adalah Kepala Desa Wringinanom, Polres Malang, Bupati Malang, sampai kepada Ketua DPRD Kabupaten Malang.

Khusaeri berharap dengan adanya surat tersebut yang dilampiri dengan data-data pengaduan warga yang jadi korban praktik rentenir bisa segera untuk ditindaklanjuti. "Kita khawatir dengan kondisi warga yang terjerat renten ini. Selain itu juga agar praktik ini tidak semakin meluas," ujarnya.

Beberapa warga desa yang melaporkan ulah YL dan merupakan korban renten, menyatakan praktik ini telah berjalan sejak tahun 2017 dan telah membuat keresahan di desa mereka.

Misal seperti yang disampaikan oleh ST, AY, AD, LM dan lainnya yang merasa tertekan dengan praktik itu. "Kami itu warga pas-pasan, utang karena terpaksa untuk hidup. Tapi bunganya bikin saya stres. Pinjam Rp 5 juta harus kembali Rp 100 juta padahal baru 5 bulan," ungkap ST.

Bahkan menurutnya, tetangganya yang juga memiliki utang kepada YL berniat untuk bunuh diri. "Jangankan bayar bunganya yang tiba-tiba terus naik, bayar pokoknya aja kita bingung," lanjutnya.

Atas hal tersebut, Khusaeri yang mendapat pengaduan langsung tersebut, membuat surat resmi kepada berbagai pihak tertanggal 10 Oktober, hari ini.

"Biar segera ada jalan keluarnya. Kasihan warga yang ekonominya sudah seperti itu, utang dikit tapi wajib kembalikan ratusan kalinya. Ini sudah tidak sesuai dengan aturan," ujarnya. 

Sayangnya, YL yang diadukan atas kasus praktik renten yang mencekik para pengutangnya ini, tidak bisa dihubungi oleh MalangTIMES.


Pewarta : Dede Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah


Top