Social Media

Share this page on:

Ada Jual Beli Organ Tubuh di Malang? (9)

Berhati-hati, RSUD Saiful Anwar Minta Waktu Audit Internal

20-12-2017 - 19:08
RSUD Dr Saiful Anwar Malang Jalan Jaksa Agung Suprapto Nomor 2 Kecamatan Klojen Kota Malang (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)
RSUD Dr Saiful Anwar Malang Jalan Jaksa Agung Suprapto Nomor 2 Kecamatan Klojen Kota Malang (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)

Ada Jual Beli Organ Tubuh di Malang? (9)

MALANGTIMES - Pihak RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) langsung bergerak melakukan investigasi internal begitu kasus "jual beli ginjal" meledak. Direksi RSSA memanggil pihak-pihak yang terkait dengan operasi ginjal Ita Diana, 41, pada pertengahan Februari lalu.

Apa hasilnya? Pihak RSSA menyatakan bahwa pemeriksaan internal masih berlangsung. Saat Dikonfirmasi MalangTIMES, Kasubag Humas RSUD dr Saiful Anwar Dini hanya menegaskan apabila sejak awal ada indikasi jual beli ginjal, pasti tidak akan dilakukan operasi.

“Kalau sejak awal ada indikasi jual beli, pihak kami pasti akan membatalkan,” ucap Dini saat ditemui di ruang Humas RSUD dr Saiful Anwar, Rabu (20/12/2017).

Baca Juga : Ada Jual Beli Organ Tubuh di Malang? (7)

Tubuh Tersayat, Ginjal Terambil, Utang Tak Juga Lunas

Terkait pengakuan Ita, Dini menjelaskan hal tersebut sedang dibahas internal jajaran direksi beserta tim dokter yang menangani operasi transplantasi ginjal terhadap warga Temas, Kota Batu, tersebut. Yang jelas, pihak RSSA membaca pengakuan Ita Diana yang disampaikan secara ekslusif kepada media online berjejaring nomor satu di Indonesia, MalangTIMES.

“Kami sudah baca berita mbak di MalangTIMES. Untuk itu, kami akan ada rapat dulu semacam audit internal.Kami harus cek semuanya dulu. Nanti kalau sudah, akan diagendakan bertemu dengan wartawan. Hari ini dokter dari tim transplatansi ginjal masih rapat,” kata wanita berhijab itu.

Sayang, Dini tidak dapat memastikan kapan hasil audit internal disampaikan kepada awak media. Ia hanya menyatakan kemungkinan memerlukan waktu beberapa hari. Saat kami bertanya kemungkinan esok atau lusa, Dini lagi-lagi tak mau memastikan. Sepanjang kami menemui ia di ruangannya, Dini banyak mengalihkan pandangan ke arah bawah.

“Ya kalau itu hasilnya akan kami beri tahukan. Tapi pastinya kapan, kami belum tahu. Menunggu hasil audit. Itu kan prosesnya harus satu persatu kami lihat lagi,” ucap dia.

Saat kami menyodorkan tim dokter transplatansi ginjal yang diunggah di laman resmi RSSA pada Februari 2017, Dini mengatakan bahwa pihaknya saat ini belum dapat memastikan apakah tim dokter tersebut juga menangani korban Ita Diana.

“Iya itu web kami. Tapi tim dokter transplantasi ginjal untuk kasus itu saat ini masih dilakukan audit lagi. Kami harus telusuri satu per satu semua. Jadi, saya belum bisa berikan keterangan resmi,” imbuh dia.

Disinggung keterlibatan dr Atma Gunawan SpPD dan dr Rifai SpPD berdasarkan keterangan korban Ita Diana, Dini tak mau memberikan kepastian. Ia menegaskan semua dokter yang terlibat dalam operasi transplantasi ginjal akan dicek kembali. “Semua dokter yang melakukan operasi akan dicek lagi,” tegasnya.

Indikasi keterlibatan dokter Atma dan dokter Rifai disampaikan oleh Ita secara eksklusif kepada MalangTIMES. Ita mengungkapkan dirinya dipertemukan asisten dr Atma setelah menceritakan permasalahan utang yang melilitnya.

“Saya tidur di kursi rumah sakit sampai beberapa hari. Lalu saya bertemu dengan asisten dokter Atma. Kemudian oleh asisten dokter tersebut, saya dipertemukan dengan dokter Atma, saya ceritakan masalah yang saya alami,” ungkap Ita.

Ginjal Ita sudah ditransplantasikan kapada pengusaha Erwin Susilo, pemilik diler mobil Hindra Jaya di kawasan Jalan Ahmad Yani. Ita dijanjikan imbalan Rp 350 juta, nilai yang rencananya akan dibuat melunasi utangnya. Namun, sampai sekarang, Ita mengaku baru mendapatkan Rp 70 juta.

Lantas, bagaimana tanggapan dr Atma Gunawan SpPD dan dr Rifai SpPD mengenai kasus yang menyeret nama keduanya? Simak pula penampakan ruang operasi Ita Diana di RSUD Dr Saiful Anwar. Semuanya dibahas secara eksklusif di MalangTIMES. (*)


Pewarta : Wahida Rahmania Arifah
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Aditya Fachril Bayu


Top