Social Media

Share this page on:

Ada Jual Beli Organ Tubuh di Malang? (11)

Di Paviliun Inilah Ita Diana Empat Jam Jalani Operasi Ginjal

21-12-2017 - 11:54
Paviliun Graha Puspa Husada RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Jalan Pattimura Nomor 1 A Kecamatan Klojen Kota Malang (foto: Tim MalangTIMES)
Paviliun Graha Puspa Husada RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Jalan Pattimura Nomor 1 A Kecamatan Klojen Kota Malang (foto: Tim MalangTIMES)

Ada Jual Beli Organ Tubuh di Malang? (11) 

MALANGTIMES - Tindakan operasi transplantasi ginjal terhadap Ita Diana dilakukan di ruang operasi Paviliun Graha Puspa Husada RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Jalan Pattimura Nomor 1A Kecamatan Klojen, Kota Malang. Benarkah ruang operasi tersebut dijadikan tempat praktik jual beli ginjal? Seperti apa penampakan ruang operasi tersebut?

MalangTIMES melakukan penelusuran ke tempat itu. Rabu (20/12/2017), kami menuju paviliun Graha Puspa Husada RSSA. Siang itu, tak banyak orang mengantre di depan lift lantai satu. Lantaran lift pengunjung rusak, seorang satpam mempersilakan kami naik menggunakan lift khusus pasien. "Nggak apa-apa pakai ini," kata dia. Menekan tombol tiga, lift membawa kami ke lantai tempat Ita dioperasi.

Sesampai di lantai tiga, ada papan penunjuk arah. Dari tempat kami berdiri, ruang operasi berada di sebelah kanan. Ruangan itu berada di pojok bangunan. Tampak jelas papan bertuliskan ‘ruang operasi’. Tak ada aktivitas berarti dalam ruangan tersebut. 

?Penunjuk arah ruang operasi di lantai tiga Paviliun Graha Puspa Husada RSSA (foto: tim MalangTIMES)

Di antara jalan menuju ruang operasi, ada dua ruang kecil yang menghimpit. Sebelah kiri adalah gudang ruang extra corpored shock wave (ESWL) atau terapi penghancur batu ginjal. Di kanan, ada ruangan kecil tempat para perawat. Berselang beberapa menit, dua orang perawat berseragam biru tua keluar dari ruang tersebut.

Kami duduk di ruang tunggu yang berada tak jauh dari ruang operasi. Kursi ruang tunggu panjang berwarna hitam tampak lengang. Hanya beberapa orang duduk di situ. Tampak seorang bapak dengan pakaian kotak-kotak warna cokelat tidur di kursi tersebut.
Tak jauh dari kursi tersebut. Ada ruang tunggu di terapi batu ginjal. Di seberang ruang operasi, ada klinik pelayanan penyembuhan batu ginjal. Di depan klinik ada ruang tunggu. Kami lantas duduk di  kursi ruang tunggu yang terbuat dari kayu. 

Ruang operasi di lantai tiga Paviliun Graha Puspa Husada RSSA (foto: tim MalangTIMES)

Berdasarkan pengakuan Ita, ia diinapkan di Paviliun Graha Puspa Husada RSUD dr Saiful Anwar. Setelah diinapkan selama seminggu lebih di Jonas Homestay, dia diinapkan di paviliun. Ita tak menyebut pasti nama ruangan. Ita hanya mengatakan nomor kamarnya adalah nomor satu. "Selanjutnya saya menjalani operasi dimulai pukul 07.00 sampai pukul 11.00," ucapnya kepada MalangTIMES.

Sementara itu, terkait ruang operasi yang menjadi tempat Ita  menjalani transplantasi ginjal, pihak RSUD dr Saiful Anwar belum mau memberikan klarifikasi. Kasubag Humas RSUD Saiful Anwar Dini mengatakan pihaknya tengah melakukan audit internal. Ia menjelaskan audit berkaitan dengan tim dokter yang menangani operasi transplatansi ginjal terhadap Ita 

(BACA: Ada Jual Beli Organ Tubuh di Malang? (9)

 Berhati-hati, RSUD Saiful Anwar Minta Waktu Audit Internal ).

Disinggung soal ruang operasi di Graha Puspa Husada RSUD dr Saiful Anwar, Dini tak mau banyak menjawab. Ia menegaskan keterangan resmi mengenai kasus ini harus menunggu proses audit internal selesai. Soal kapan klarifikasi akan diberikan, Dini belum memberikan kepastian.
Kasus transplantasi ginjal Ita menjadi viral karena kental aroma jual beli organ vital tersebut. Awalnya, Ita yang kebingungan karena terlilit utang beberapa hari tidur di rumah sakit. Dia lantas bertemu dengan dua dokter yang disebut-sebut terlibat dalam operasi transplantasi ginjal itu, yakni dr Atma Gunawan dan dr Rifaie.

Ita mengaku bersedia mentransplantasi ginjalnya karena ada pengusaha yang membutuhkan ginjal. Pengusaha itu adalah Erwin Susilo, pemilik diler mobil Hindra Jaya di kawasan Jalan Ahmad Yani. Namun, dari uang Rp 350 juta yang dijanjikan, baru Rp 70 juta yang diberikan Erwin. (*) 


Pewarta : Wahida Rahmania Arifah
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Angga .


Top