Social Media

Share this page on:

Ada Jual Beli Organ Tubuh di Malang? (20)

Tak Bisa Tunjukkan Akta Notariil, Pengacara Korban Transplantasi Ginjal Sebut Dugaan Jual Beli Organ Semakin Kuat

24-12-2017 - 17:29
Kuasa Hukum Ita Diana Yassiro Ardhana Rahman SH MH (kiri) saat bersama recipient ginjal Ita Diana. (Foto: Yassiro Ardhana Rahman for MalangTIMES)
Kuasa Hukum Ita Diana Yassiro Ardhana Rahman SH MH (kiri) saat bersama recipient ginjal Ita Diana. (Foto: Yassiro Ardhana Rahman for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kasus dugaan jual beli ginjal yang melibatkan Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) masih terus bergulir. Kuasa hukum recipient ginjal Ita Diana, Yassiro Ardhana Rahman SH MH, angkat bicara soal kejanggalan-kejanggalan terhadap kasus tersebut usai RSSA menggelar konferensi pers bersama awak media beberapa waktu lalu.

Dalam jumpa pers yang digelar RSSA di ruang Majaoahit RSSA, Jumat (22/12) lalu, RSSA mengklaim bahwa operasi transplantasi ginjal yang melibatkan Ita Diana sebagai recipient (pendonor) dan Erwin Susilo sebagai penerima ginjal sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa kedua pasien telah menandatangani sejumlah surat persetujuan sebelum operasi transplantasi dilakukan. Namun, saat awak media meminta surat tersebut ditunjukkan, RSSA berkelit dengan dalih untuk menjaga kerahasiaan pasien.

"Rumah sakit seharusnya melakukan keterbukaan informasi publik. Ketika memang RSSA mengatakan sudah sesuai prosedur itu harus bisa dibuktikan," ujar kuasa hukum Ita Diana, Yassiro Ardhana Rahman SH MH kepada MalangTIMES, Minggu (24/12).

"Jika memang tindakan medis sudah sesuai Permenkes Nomor 36 Tahun 2016, apakah sudah ada persetujuan dari suami atau keluarga kandung? Operasi itu harus mendapatkan persetujuan keluarga," tandas Yassiro.

Yassiro juga mencium kejanggalan karena RSSA enggan menunjukkan identitas adik Ita yang kabarnya turut menandatangani persetujuan tindakan operasi. Dia juga mempertanyakan keberadaan surat perjanjian akta notariil yang berisi kesepakatan antara Ita dan Erwin serta kesanggupan Ita untuk memberikan ginjalnya dengan suka rela.

"Apakah sudah ada perjanjian akta notariil antara Bu Ita dan Pak Erwin? Seharusnya ada karena itu sudah diatur. Akte tersebut dibuat di hadapan notaris yang isinya menyatakan kesanggupan Diana untuk memberikan ginjalnya cuma-cuma dan tanpa pamrih," jelas Yassiro.Lebih lanjut Yassiro mengatakan, jika hal-hal tersebut tidak dapat ditunjukkan oleh RSSA, maka dugaan adanya jual beli organ tubuh manusia semakin kuat dan mengarah kepada mala-prosedur. Sebab, hal tersebut telah dijelaskan dalam Pasal 64 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. "Memang dugaan-dugaan tindak pidana memang ada dan kami ingin mengarahkan ke sana,"imbuhnya.

Saat ini kuasa hukum Ita Diana telah melayangkan surat permohonan klarifikasi terhadap proses transplantasi ginjal yabg dilakukan di RSSA Februari 2017 lalu ini. Yassiro mengagendakan pertemuan dengan manajemen RSSA pada Rabu (27/12) mendatang.

Yassiro mengatakan hingga berita ini dipublikasikan, Polda Jatim telah melakukan penhelidikan atas dugaan adanya jual beli organ tubuh di rumah sakit plat merah ini, Sabtu (23/12).

"Selanjutnya kita akan tetap menyerahkan ke aparat penegak hukum. Yang lebih penting bu ita bisa mendapatkan keadilan dan mendapatkan haknya. Semoga kasus semacam ini adalah kasus yang terakhir di Malang dan di Indonesia," pungkasnya. (*)


Pewarta : Hezza Sukmasita
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha


Top