Social Media

Share this page on:

Akreditasi Jurusan Kampus Swasta di Malang Dipertanyakan (6)

Hanya Satu Program Studi Terakreditasi A, Universitas Ma Chung Mengaku Tak Ketar-Ketir

28-12-2017 - 16:00
Kampus Universitas Ma Chung Malang yang berada di Villa Puncak Tidar N-01 Kota Malang (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)
Kampus Universitas Ma Chung Malang yang berada di Villa Puncak Tidar N-01 Kota Malang (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Universitas Ma Chung masuk dalam daftar kampus swasta di Kota Malang yang belum mendapatkan nilai akreditasi A.

Perguruan tinggi swasta yang berada di Villa Puncak Tidar N-01 Kota Malang itu saat ini masih terakreditasi B secara institusi. Tak khawatirkah mahasiswa Universitas Ma Chung terkait akreditasi kampus mereka saat ini? 

(Baca Juga : Lulusan Perguruan Tinggi Akreditasi C Dianggap Setara SMA)

Fevi Olivia, mahasiswi Universitas Ma Chung mengatakan ia tak mempermasalahkan hal tersebut. Wanita berhijab ini mengaku sepanjang ia menempuh studi manajemen, ia yakin akreditasi kampus tak akan menganjal langkah ia meniti karir di masa depan.

"Kalau aku pribadi sih enggak terlalu mikirin. Karena yang terpenting itu masing-masing mahasiswa punya potensi jadi enggak bakal tergantung dari penerimaan pegawai negeri yang mensyaratkan akreditasi itu," komentar dia.

Akreditasi memang menjadi 'masalah' tersendiri di Universitas Ma Chung Malang.

Rektor Universitas Ma Chung Malang Chatief Kunjaya mengatakan akreditasi universitas yang masih dinilai B lantaran kampus di kawasan elite itu baru berdiri pada 2010 silam.

Akreditasi Jurusan Kampus Swasta di Malang Dipertanyakan (6)  

Kunjaya juga mengiyakan saat media online MalangTIMES menyodorkan akreditasi kampus yang dirilis Kopertis tahun 2016.

"Iya benar untuk akreditasi yang A baru satu program studi yaitu Sastra Inggris. Sisanya B dan ada yang C," kata dia saat ditemui di ruang rektorat Universitas Ma Chung Malang.

Program studi yang terakreditasi C oleh BAN-PT di Universitas Ma Chung Malang ialah program studi kimia, farmasi, pendidikan bahasa Mandarin dan desain komunikasi visual.

Disinggung terkait hal ini, Kunjaya beralasan keempat program studi baru memperoleh izin pada tahun 2015 lalu. "Karena program studi yang terakreditasi C itu yang baru ya. Sekitar 2015. Dan karena baru jadi akreditasi masih C. Saat ini masih persiapan re-akreditasi," kata doktor lulusan Jepang itu.

Re-akreditasi, kata Kunjaya, tidak saja dilakukan untuk program studi yang masih mendapat nilai C. Hal yang sama juga akan dilakukan pada program studi yang terakreditasi B.

Ia mengatakan kesiapan Universita Ma Chung Malang menghadapi re-akreditasi sudah matang lantaran intensif berkonsultasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

"Karena kan untuk perguruan tinggi swasta berkenaan dengan akreditasi yang kami terima itu arahan dari ITS," jelas dia.

Saat disinggung mengenai program studi terakreditasi B Kunjaya berdalih hal tersebut dikarenakan belum ada guru besar pada masing-masing program studi tersebut.

Program studi yang terakreditasi B di Universitas Ma Chung Malang ialah teknik industri, teknik informatika, sistem informasi, manajemen, dan akuntansi.

"Kalau soal akreditasi program studi yang B di kampus kami. Masalahnya cuma satu saya rasa soalnya kan belum ada guru besar pada masing-masing program studi itu. Itu saja," kata dia. 

Terkait jumlah guru besar, Kunjaya mengakui Universitas Ma Chung Malang baru segelintir memiliki dosen bergelar profesor. Di program studi sastra Inggris baru ada dua orang guru besar.

"Ya memang kami sampai saat ini kendalanya adalah guru besar yang belum banyak," ungkap dia. Kunjaya buru-buru menjelaskan sudah ada tiga orang tenaga pengajar Universitas Ma Chung yang saat ini tengah menjalani studi doktor.

Harapannya, tentu saja tenaga dosen bergelar magister akan makin berkurang digantikan dengan tenaga pengajar bergelar doktor lantas merengkuh guru besar.

Disinggung terkait aturan pemerintah yang menetapkan syarat penerimaan pegawai negeri mengacu pada akreditasi kampus, Kunjaya terdiam lantas tersenyum.

Bagi institusi, aturan itu tak buat mereka ketar-ketir. Pria yang meraih doktor bidang astronomi itu membeberkan data lulusan Ma Chung.

"Saya kira enggak ada masalah sama sekali. Karena lulusan kita hanya itungan jari yang mau jadi pegawai negeri sipil. Ya dari lulusan kita kebanyakan jadi wirausahawan kalau tidak ya bekerja di perusahaan," ungkapnya.

Lulusan Universitas Ma Chung kata Kunjaya tidak serta merta menjadi wirausahawan. Ia mengatakan sejak mereka menimba ilmu, ilmu kewirausahaan sudah diterapkan dan masuk dalam jam mata kuliah.

"Ada namanya Ruang Bimbingan Karir atau disingkat sebagai Rubik. Jadi, semua mahasiswa mulai semester lima mendapatkan program bimbingan karir. Dan lulusan kita begitu lulus enggak sampai tiga bulan sudah dapat kerja atau membangun usaha sendiri," pungkasnya. (*) 


Pewarta : Wahida Rahmania Arifah
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha


Top