Social Media

Share this page on:

Akreditasi Jurusan Kampus Swasta di Malang Dipertanyakan (10)

Ijazah Tak Bisa Direvisi, IKIP Budi Utomo Klaim Tengah Proses Reakreditasi

30-12-2017 - 18:05
Suasana kampus II IKIP Budi Utomo di Jalan Citandui, Kota Malang. (Foto: Google Image)
Suasana kampus II IKIP Budi Utomo di Jalan Citandui, Kota Malang. (Foto: Google Image)

Akreditasi Jurusan Kampus Swasta di Malang Dipertanyakan (10)  

 

 

MALANGTIMES - Ada yang penting menjadi catatan para mahasiswa, yakni fakta bahwa ijazah tidak dapat direvisi. Sekali salah memilih, masa depan yang dipertaruhkan. Namun, kadang kala para calon mahasiswa terbujuk janji manis dan berbagai brosur mewah kampus-kampus.

Salah satu lembaga swasta yang menjadi jujukan calon mahasiswa dari luar daerah di Kota Malang adalah IKIP Budi Utomo (IBU) Malang. Perguruan tinggi yang saat ini memiliki dua kampus itu bahkan berulang kali mendapat gelombang protes dari mahasiswanya. 

(Baca Juga :Jamin Mahasiswanya Dapat Kerja, STMIK-STIE ASIA Tak Pertimbangkan Akreditasinya Yang Masih C )

Misalnya pada medio Juni 2015 lalu, saat perkuliahan masih terpusat di Jalan Simpang Arjuna. Puluhan mahasiswa menuntut rektorat berjuang agar status kampus swasta itu tidak dinonaktifkan oleh Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) VII Jawa Timur. 

Keresahan mahasiswa kembali mencuat pada pertengahan 2016. Saat itu beredar kabar bahwa ijazah alumni IBU Malang ilegal dan tidak bisa mengikuti tes CPNS 2016. Saat itu, kampus tersebut masih berstatus dalam binaan Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti. 

Jika melihat status institusi, saat ini IBU telah mengantongi akreditasi B. Sebagai bandingan, status yang sama juga dimiliki Universitas Merdeka (Unmer) dan Universitas Islam Malang (Unisma). Namun, jurusan-jurusan di kampus tersebut belum ada yang memiliki akreditasi A atau unggul. 

Berdasarkan data Direktori Perguruan Tinggi Swasta Kopertis Wilayah VII 2016 yang didapat MalangTIMES, terdapat delapan program studi (prodi) yang ditawarkan. Dua di antaranya baru memperoleh akreditasi C, yakni prodi pendidikan olahraga serta prodi pendidikan jasmani, kesehatan dan rekreasi. 

Sementara empat prodi lainnya, mengantongi akreditasi B. Yakni pendidikan matematika, biologi, sejarah dan sosiologi, ekonomi, bahasa dan sastra Indonesia, serta bahasa Inggris. Melalui sambungan telepon, Rektor IKIP Budi Utomo Malang Nurcholis Sunuyeko mengakui hal tersebut. 

Namun, dia menyangkal bahwa ijazah dari kampus dengan nomor SK 1025/SK/BAN-PT/Akred/PT/VI/2016 itu tidak dapat digunakan untuk mendaftar lowongan calon pegawai negeri sipil (CPNS).

"Akreditasi (prodi) memang masih ada yang C ada yang B, tapi yang mensyaratkan akreditasi A kan hanya instansi tertentu, tidak semua. Pasti masih bisa diterima," ujarnya. 

"Apalagi ditunjang institusi kami sudah terakreditasi B. Jadi sudah aman," tambahnya. Nurcholis menerangkan, bahwa data yang dihimpun Kopertis sebagian dihimpun sebelum seluruh proses akreditasi lanjutan dilakukan oleh kampus. "Kami sudah memproses reakreditasi (akreditasi ulang), berkasnya sudah masuk bulan ini," ujarnya. 

Dia menerangkan bahwa untuk institut yang tergolong baru, proses akreditasi yang dilakukan kampus cukup ngebut. Nurcholis juga menanggapi positif soal ketentuan akreditasi PTS bagi pelamar CPNS.

"Ya sebenarnya bagus, pemerintah memberi warning (peringatan) agar PTS seperti kami ini bisa berbenah diri," tuturnya. 

Mengenai kecemasan para mahasiswa soal akreditasi saat ini, dia menjanjikan seluruh proses reakreditasi bakal segera selesai sehingga lulusan bisa memiliki grade ijazah yang diakui.

"Kan memang akreditasi itu mengikuti kelulusan, kalau pas lulus akreditasi prodinya B ya B. Ijazah juga nggak bisa direvisi meski sudah ada peningkatan status," ujarnya. 

"Tapi InsyaAllah nanti segera semua minimal jadi B, yang B kami upayakan jadi A," tegasnya. Menurutnya, yang ditingkatkan untuk mengejar akreditasi itu ada dua hal. Pertama yakni meningkatkan kualifikasi dosen, kedua dengan peningkatan kuatitas proses pembelajaran. 

Menurut Nurcholis, saat ini kampus tersebut memiliki 214 dosen yang membina sekitar 9 ribu mahasiswa. "Saat ini kami ditunjang pembelajaran paperless yang didukung IT. Itu tentu akan menjadi pertimbangan badan akreditasi juga," pungkasnya. 


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah


Top