Social Media

Share this page on:

Sarang Copet, Hati-Hati Naik Bus Restu (5)

Bus Umum Disinyalir Jadi Sarang Pencopet, Polres Malang Siagakan Ini

29-01-2018 - 20:54
Ilustrasi pencopetan di dalam bus. Polres Malang menyatakan ada tidaknya laporan atas kejadian pencopetan, pihaknya selalu melakukan berbagai tindakan untuk memberi rasa nyaman dan aman masyarakat. (Istimewa)
Ilustrasi pencopetan di dalam bus. Polres Malang menyatakan ada tidaknya laporan atas kejadian pencopetan, pihaknya selalu melakukan berbagai tindakan untuk memberi rasa nyaman dan aman masyarakat. (Istimewa)

MALANGTIMES – Telah menjadi rahasia umum, bus kerap menjadi wilayah operasi para pencopet. Tidak terkecuali bus-bus umum trayek Malang-Blitar-Tulungagung yang kini semakin banyak mengangkut warga yang bepergian ke wilayah tersebut.

Dari bus umum kecil sampai bus-bus besar, antusias warga mempergunakan angkutan umum ini bisa terbilang masih cukup tinggi. Sayangnya, dengan kebutuhan warga atas layanan transportasi umum tersebut, faktor keamanan penumpang seringkali menjadi taruhannya.

Dari beberapa narasumber MalangTIMES yang tidak berkenan disebut namanya, trayek Malang-Blitar-Tulungagung, khususnya di wilayah Kabupaten Malang yaitu antara terminal Gadang sampai Karangkates, masih kerap terjadi adanya tindakan pencopetan.

Maka, kalau anda sering mempergunakan transportasi umum ini, mungkin tidak asing kalau kondektur bus memperingati penumpangnya. “Hati-hati barang bawaan anda,” saat kendaraan penuh sesak. Sehingga penumpang berjubel dan berdiri berdempetan di dalam bus. 

“Saya pernah naik di lokasi perhentian bus yaitu diperempatan Kepanjen. Tujuan saya mau ke Blitar. Saat itu memang bus penuh, sehingga saya berdiri. Saat itu sudah mau maghrib, sehingga saya keburu-buru naik. Baru mau masuk Karangkates dan saya bisa duduk, baru sadar kamera saya hilang,” kata salah satu penumpang, sebut saja Amir yang saat naik membawa tas gendong berisi pakaian dan kamera di belakang.

Cerita serupa juga kerap mampir di telinga, saat berada di dalam bus. Kebanyakan penumpang memang tidak sempat melaporkan kepada kepolisian atas kejadian tersebut.

Kompol Bindriyo Kapolsek Kepanjen, saat diwawancarai persoalan tersebut mengatakan, pihak kepolisian selalu siap mengamankan tindakan-tindakan pidana di manapun. “Kita selalu siap untuk menerima laporan masyarakat yang kena copet dan melakukan penyelidikannya. Tapi selama ini memang jarang ada masyarakat yang lapor atas hal tersebut,” terangnya kepada MalangTIMES.

Bindriyo melanjutkan, walaupun masyarakat tidak melapor tentang hal tersebut, pihak kepolisian khususnya di wilayah Kepanjen, secara rutin melakukan berbagai operasi untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat.

“Kita rutin patrol, mas. Untuk persoalan copet di dalam bus, misalnya kita juga selalu lakukan. Baik operasi maupun pencegahan-pencegahannya agar tidak terjadi tindakan melanggar hukum,” ujar Bindriyo yang menggantikan Kompol A Sujalmo sebagai Kapolsek Kepanjen.

Selain hal tersebut, persoalan pencopet yang memanfaatkan bus umum, terutama dengan trayek antar daerah, diperlukan adanya sinergitas dari kepolisian di wilayah terkait. “Kalau kita di Polsek Kepanjen kan wilayahnya pendek kalau persoalan itu. Yaitu antara Pakisaji sampai Talangagung. Tapi sekali lagi kita selalu siaga dalam memberikan rasa aman dan nyaman pada warga,” tegas Bindriyo.

Di wilayah Sumberpucung pun, pihak Polsek setempat jarang sekali mendapat laporan warga yang mengalami kecopetan. Ada beberapa kemungkinan dengan kondisi tersebut, pertama setiap tahun bus umum antar daerah semakin meningkatkan pelayanannya kepada penumpang, terutama dalam persoalan keamanan barang bawaan. Kedua, para penumpang merasa barang yang dicopetnya tidak bernilai terlalu besar sehingga tidak melaporkan hal tersebut kepada kepolisian.

“Jadi memang belum ada laporan ke kita masalah itu. Tapi tentunya kita tetap menyiagakan personel dalam hal tersebut. Insyaallah untuk wilayah Sumberpucung terkendali. Kalau pun ada, kita tentunya akan segera bergerak,” ujar AKP Sri Widyaningsih Kapolsek Sumberpucung.


Pewarta : Dede Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah


Top