Social Media

Share this page on:

Ratusan Pelajar Kota Malang Diajak Anti-Golput, seperti Ini Reaksinya

14-02-2018 - 18:36
Para pelajar tampak serius mengikuti kegiatan pendidikan politik oleh Bakesbangpol Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Para pelajar tampak serius mengikuti kegiatan pendidikan politik oleh Bakesbangpol Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Menjadi pemilih pemula itu membingungkan. Seperti itu kesan para pelajar terhadap agenda pesta politik Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) Kota Malang Juni mendatang.

Karena itu, hari ini (14/2/2018) sebanyak 316 pelajar mengikuti agenda Fasilitasi Pendidikan Politik bagi Generasi Muda Kota Malang 2018.  Bertempat di Akasia Ballroom Hotel Savana Malang, acara yang diselenggarakan Badan Kebangsaan dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang itu berlangsung hingga besok (15/2/2018).

Suasana berlangsung semarak karena  di sela-sela paparan dan sesi tanya jawab, ada jargon yang didengungkan. Setiap pemateri atau pembawa acara menyeru kalimat "gak nyoblos", maka ratusan peserta kompak menjawab "gak mbois, ker".

Kabid Politik dan Hubungan Antar-lembaga (Polhal) Bakesbangpol Kota Malang Andang Roosdianto mengungkapkan, jargon tersebut memang sengaja diulang-ulang sejak awal kegiatan agar para peserta menjadi semangat dan memotivasi diri untuk mau menggunakan hak suara dalam setiap kegiatan pemilihan umum. "Itu karena para pelajar yang menjadi pemilih pemula kerap ikut-ikutan golput (golongan putih) alias tidak ikut memilih. Di acara ini mereka kami ajak agar anti-golput," ujar dia. 

Andang menguraikan, kegiatan tersebut dihadiri oleh 316 peserta dari 15 SMA, SMK, dan MA di Kota Malang. Peserta yang diundang adalah perwakilan generasi muda yang berusia 17 tahun ke atas dan merupakan pemilih pemula di Kota Malang sesuai kriteria dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017. "Mereka ini kami harap nanti menularkan semangat anti-golput ke teman-teman sekolah, komunitas maupun jaringan sosial di sekitarnya agar partisipasi atau peran serta masyarakat dalam berdemokrasi dan berpolitik dapat terwujud," ucapnya. 

Tujuan kegiatan pendidikan politik itu yakni untuk membangun kesadaran dan pemikiran kritis para pemilih muda. Juga agar mereka berpartisipasi pada penyelanggaraan pemilu yang bersih dan anti-politik uang. "Selain itu, kami memberi informasi terkait prosedur memilih. Bagaimana caranya mendaftarkan diri, misalnya," kata Andang. 

Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Malang Abdul Malik menegaskan bahwa partisipasi politik merupakan inti dari demokrasi. Menurut Malik, demokratis tidaknya suatu sistem politik ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat partisipasi politik warga. Termasuk di dalamnya, peran para pemilih pemula. 

Malik menekankan, pemahaman kesadaran berpolitik bagi pemilih pemula perlu diaktualisasikan melalui pembelajaran yang melibatkan secara langsung para pelajar. "Generasi muda merupakan sasaran yang potensial. Di balik potensinya tersebut, pemilih pemula dihadapkan pada minimnya pengetahuan, wawasan dan pengalaman berpolitik," ungkapnya. "Karena belum punya pengalaman memilih dalam pemilu, umumnya banyak dari kalangan mereka yang belum mengetahui berbagai hal yang terkait dengan pemilu itu," tambahnya.

Malik berharap, upaya Pemkot Malang membangun kesadaran berpolitik dan memberikan pengetahuan pada pelajar itu bisa menjadi modal yang besar untuk Kota Malang di masa yang akan datang.  "Dengan wawasan yang memadai, generasi muda dapat berpikir secara rasional tentang arti pentingnya suara dan hak politik mereka dalam menentukan masa depan bangsa di masa mendatang," ujarnya. 

Salah satu peserta, Lusiana Arrahma, mengaku dirinya masih sempat berpikir untuk golput. "Kan kesannya pemilu, politik, itu  urusan orang tua-tua. Lagian saya juga nggak tahu orang-orang itu yang mau dipilih siapa," ujarnya.

Namun setelah mendapat penjelasan di kegiatan tersebut, Lusiana mengaku akan mencoba mulai mencari tahu sosok-sosok yang bakal memimpin Kota Malang. "Ya mulai searching nama-namanya, biar tahu. Kan biasanya di internet ada berita-beritanya," pungkasnya. (*)


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan


Top