Social Media

Share this page on:

Tergiur Harga Murah Tas Branded, Wanita Ini Tertipu 16 Juta Rupiah

12-03-2018 - 20:59
Ilustrasi (xohop)
Ilustrasi (xohop)

MALANGTIMES - Putri Mariatul (31) warga Sonosari, Kebonagung Malang terpaksa harus merugi sekitar Rp 16 juta. Pasalnya ia telah menjadi korban penipuan bermodus jual beli tas branded merek Gosh secara online pada 28 Februari 2018 lalu.

Kejadian tersebut bermula ketika korban tergoda oleh postingan pelaku di Instagram yang memposting sebuah tas branded dengan harga miring. Melihat harganya yang murah korban akhirnya tergoda untuk menghubungi nomor yang tertera pada akun tersebut.

"Karena lihat tas-tas dan sepatunya murah, saya langsung hubungi. Saya langsung tanya-tanya, ngak curiga sama sekali, padahal harganya tasnya di pasaran paling murah Rp 500 ribuan, namun ini kok Rp 400 ribuan akhirnya ngambil barang," ujarnya (12/3/2018).

"Dia ngakunya pabriknya dari Jakarta, karena pabriknya di sana saya pikir pasti besar, terus dia ngakunya juga suplier, makanya saya juga yakin," imbuh korban.

Setelah itu, penipu tersebut mengirimkan sebuah nomor rekening BRI atas nama Marni. Karena sebelumnya sudah ada kesepakatan saya akan membeli, saya akhirnya mentransfer uang ke rekening tersebut.

"Waktu itu saya ngambil dua barang, tas dan sepatu, langsung saya transfer Rp 900 ribu lewat mobile banking BCA saya. Setelah itu sama penipunya difotokan tumpukan tas seperti di bagasi mau ngirim," bebernya.

Setelah transfer, penipu tersebut juga menawari korban untuk menjadi member agar bisa mendapat harga-harga murah, namun dengan syarat harus mengirimkan KTP dan persyaran lain.

"Akhinya saya transfer lagi Rp 800 ribu ke rekening itu juga untuk jadi member, saya juga kirim data identitas saya," ungkapnya.

Setelah itu, lanjut korban, saya tunggu selama beberapa hari, namun barang tersebut juga tidak kunjung datang. Saat dimintai resi pengiriman, penipu tersebut juga selalu beralasan sedang berada di luar.

"Terus pas beberapa hari malah ada yang menelpon ngakunya dari pihak Bea Cukai, dia bilang bahwa tas kirimannya ditahan karena ilegal dan harus memenuhi administrasi untuk bisa dikeluarkan. Setelah itu saya langsung hubungi penjualnya tadi, dia bilang sudah Bu turutin saja apa yang diminta nanti saya ganti," ujar korban.

Oknum yang mengaku pegawai Bea Cukai tersebut meminta uang sebesar Rp 5.750.000 sebagai syarat mengeluarkan barang tersebut, akhirnya korbanpun juga menuruti kemauan penipu itu. 

"Nggak lama, oknum yang mengaku dari Bea Cukai itu kembali menelfon dan mengaku bahwa dia ketahuan atasanya, sehingga meminta tambahan sebesar Rp 5 juta, terus saya telfon penjualnya lagi dan dia kembali bilang turutin saja nanti saya ganti," jelasnya.

"Namun rekening yang dikirim pelaku baru, atas nama Iet Sumiati. Saya herannya kok ya nurut saja, seperti dihipnotis," tambah korban.

Karena barang tidak kunjung diterima, korban pun akhirnya terus menghubungi penjual. Akan tetapi ketika dihubungi, nomor korban malah diblokir oleh pelaku sehingga korban tidak bisa menghubungi nomor pelaku. 

"Tapi kalau dihubungi sama nomor lain juga bisa, terus ngaku mau pesan barang yang masuk chatnya. La pas bilang barusan transfer, nomornya juga langsung diblokir sama pelaku, kalau kerugian saya pokoknya totalnya sekitar Rp 16 juta itu, sama ganti- ganti uang customer yang sudah pesan," ujarnya.

Karena sadar menjadi korban penipuan akhirnya korban pun melaporkan kasus tersebut ke Polres Malang Kota karena Rekening BCA saya buatnya di Kota (9/3/2018). Setelah mendapat surat resmi laporan, korban pun akhirnya mencoba mengecek alamat pelaku dari rekening yang dikirim sebelumnya ke Bank BRI Martadinata Kota Malang.

"Dari pengecekan katanya alamatnya di Pandegelang dan Subang, mungkin ya itu datanya palsu mas, saya sebelumnya juga nggak terfikir kok mau ngirim KTP, takutnya juga disalahgunakan. Rencananya besok juga mau ke Polres menanyakan perkembangannya," pungkasnya.


Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : bayu pradana


Top