Social Media

Share this page on:

Bola Panas SMPN 4 Kepanjen Masuk Babak Baru (4)

Demo Penahanan Ijazah Siswa SMPN 4 Kepanjen Batal, Bola Menggelinding ke Polres Malang

13-03-2018 - 13:39
Asep Suryaman Koordinator Masyarakat Peduli Pendidikan setelah melaporkan dugaan penahanan ijazah siswa SMPN 4 Kepanjen dan pungli, Rabu (13/03) (Foto: Nana/ MalangTIMES)
Asep Suryaman Koordinator Masyarakat Peduli Pendidikan setelah melaporkan dugaan penahanan ijazah siswa SMPN 4 Kepanjen dan pungli, Rabu (13/03) (Foto: Nana/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sempat mencuat akan menggelar demo dengan ratusan orang ke kantor Dinas Pendidikan dan gedung DPRD terkait adanya dugaan penahanan ijazah siswa SMPN 4 Kepanjen, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi membelokkan arah tujuan. 

Arah unjuk rasa yang tercantum dalam surat izin yang dibuat oleh korlap yang mengatasnamakan Front Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) dan Gerakan Rakyat Peduli Pendidikan (GRPP) bernomor 02/FMPP.GRPP/III/2018 dan ditujukan kepada Kapolres Malang, disinyalir akan ditumpangi penumpang gelap. 

"Karenanya kita batalkan aksi damai tersebut. Saya sekitar pukul 02.00 WIB mencabut surat tersebut ke Mapolres Malang," kata Koordinator Front Masyarakat Peduli Pendidikan Asep Suryaman, Selasa (13/03) saat ditemui di Mapolres Malang. 

Pembatalan demo tersebut menurut Asep, karena pihaknya mendapat informasi apabila demo dilaksanakan akan terjadi chaos dengan pihak yang kini perkaranya sudah diadukan ke Polres Malang. "Kita mendapatkan informasi tersebut tadi malam. Bahwa akan ada penumpang gelap saat kita melakukan aksi damai. Dari pada itu terjadi, akhirnya kami tempuh jalur hukum," terangnya kepada MalangTIMES. 

Asep sebagai Korlap Masyarakat Peduli Pendidikan, akhirnya membatalkan aksi demo tersebut. Bola panas yang sudah terhitung lama menggelinding ini, kini berlabuh di Mapolres Malang. Asep yang mewakili dua organisasi masyarakat peduli pendidikan ini mengadukan dugaan penyalahgunaan kekuasaan Kepala SMPN 4 Kepanjen lama (Rahmad, red) dan Komite Sekolah yang menahan ijazah siswa selama bertahun-tahun, kepada pihak kepolisian. 

"Iya kita adukan persoalan tersebut. Pertama, penahanan ijazah dan kedua dugaan pungutan liar (pungli). Aduan kita sudah diterima oleh kepolisian," ujarnya. 

Seperti diketahui, ada sekitar 71 ijazah siswa SMPN 4 Kepanjen yang masih ditahan di zamannya Rahmad (kini Kasek di Bululawang) dikarenakan orang tua murid belum melunasi iuran dana investasi.   

Dana Investasi yang diwajibkan Komite Sekolah lama dan disetujui oleh Kepala SMPN 4 Kepanjen lama inilah yang dilaporkan oleh Asep kepada kepolisian. Besaran dana tersebut, masih menurutnya,  diwajibkan kepada orang tua siswa, antara Rp 1,5 juta sampai Rp 5 juta. Bagi yang belum melunasi,  maka ijazahnya tidak bisa diambil. 

"Inikan sudah masuk pungli. Namanya sumbangan tapi memaksa dan ijazah anaknya ditahan. Padahal di sekolah lainnya tidak seperti itu. Para orang tua yang ijazah anaknya ditahan ini melaporkan kepada kami. Mereka memang tidak mampu membayar sumbangan tersebut," terang Asep yang juga memperlihatkan berkas bukti-bukti yang diadukan ke Polres Malang. 

Di kesempatan yang sama, pihak Polres Malang menyatakan sudah menerima aduan tersebut serta meminta adanya pembuktian lengkap dari pihak pelapor. 

Beberapa bukti yang diminta tersebut berupa surat kuasa dari orang tua murid yang ijazahnya d tahan serta bukti transfer, baik manual maupun via transfer ke Bank Jatim. 


Pewarta : Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Alfin Fauzan


Top