Social Media

Share this page on:

Habis Suntik Difteri, Stok Darah PMI Menipis, Kok Bisa?

20-03-2018 - 17:19
Stok darah golongan O dan AB di UTD PMI Kabupaten Malang semakin menipis. Salah satu pemicunya adalah dikarenakan pelajar sebagai pendonor darah masih harus menunggu waktu menyumbangkan darahnya karena telah mendapat vaksin difteri. (Nana)
Stok darah golongan O dan AB di UTD PMI Kabupaten Malang semakin menipis. Salah satu pemicunya adalah dikarenakan pelajar sebagai pendonor darah masih harus menunggu waktu menyumbangkan darahnya karena telah mendapat vaksin difteri. (Nana)

MALANGTIMES - Stok darah di Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang saat ini semakin menipis. Khususnya untuk golongan darah AB dan O yang permintaannya terbilang tinggi di masyarakat. 

Kepala UTD PMI Kabupaten Malang dr Tutik Wahjuni,  saat ini stok darah golongan O yang permintaannya tinggi  hanya menyisakan sebanyak 18 kantong. Sedangkan untuk stok darah golongan AB tinggal menyisakan sebanyak  16 kantong. 

Idealnya,  kata Tutik,  PMI memiliki stok darah golongan O sebanyak 72 kantong dan golongan darah AB 64 kantong dalam sehari. 

"Sudah beberapa hari memang stok darah jenis golongan ini menipis. Ini juga dimungkinkan karena para pendonor darah di sekolahan sedang melaksanakan ujian. Dan juga habis imunisasi Difteri," ujar Tutik,  Selasa (20/03). 

Pelajar sekolahan,  menurut Tutik merupakan bagian besar dari pendonor darah tetap bagi PMI. Selain dari pihak-pihak instansi maupun masyarakat umum. Biasanya, bila stok darah PMI mengalami kekurangan,  pihaknya kerap mendatangi sekolahan untuk melakukan kegiatan donor darah. 

Lantas,  apa hubungannya dengan suntik imunisasi difteri yang secara serentak di bulan lalu dilakukan di seluruh sekolahan,  terhadap menipisnya stok  darah di PMI. 

Tutik menjelaskan, bagi siapapun yang baru mendapatkan imunisasi difteri,  memang tidak diperbolehkan melakukan donor darah. "Sebenarnya bukan hanya vaksin Difteri saja yang belum bisa donor darah. Orang yang baru divaksin atau diimunisasi memang tidak bisa langsung donor. Ada jeda waktunya,  bisa 2-4 minggu bahkan ada yang satu tahun, " terangnya. 

Dari laman alodokter.com kondisi yang disampaikan tersebut sedikit berbeda. Menurutnya,  penerima vaksin difteri bisa mendonorkan darahnya tanpa jeda  waktu tunggu. Asalkan  setelah divaksin tidak mengalami demam.  

"Tapi jika menerima vaksin lain,  ada jeda waktu yang dianjurkan. Misal menerima vaksin rubella,  MMR,  cacar air. Maka ada jeda tunggu selama empat minggu, " tulis laman alodokter.com.  

Tapi,  lanjut tulisan tersebut,  para pendonor bisa langsung menanyakan hal tersebut ke PMI. "Mungkin saja mereka memiliki panduan yang berbeda, ". 

Lepas dari perbedaan tersebut, pelajar di Kabupaten Malang yang baru  mendapatkan imunisasi Difteri memang menjadi kendala PMI untuk melaksanakan donor darah. "Hal ini memang yang membuat  kita tidak bisa melaksanakan kegiatan donor darah di sekolahan. Apalagi juga ini musimnya ujian sekolah, " imbuh Tutik. 

Solusi dalam memenuhi darah,  khususnya golongan AB dan O yang juga relatif sulit,  pihak PMI mengimbau masyarakat kabupaten Malang untuk mendonorkan darahnya di UTD PMI. 

"Kamiberharap masyarakat mendonorkan darahnya ke PMI, karena kondisi kebutuhan darah semakin menipis saat ini, " pungkas Tutik. 


Pewarta : Nana
Editor : A Yahya
Publisher : bayu pradana


Top