Social Media

Share this page on:

Buka Suara Kasus Plagiat, Pembantu Rektor I UIN Malang Beber Konfliknya dengan Prof Imam Suprayogo

15-04-2018 - 20:12
Dr HM Zainuddin (tengah), Rektor UIN Maliki Malang, Prof Haris (Kanan) dan WR III Isroqunnajah saat menggelar konferensi pers di salah satu rumah makan di Kota Malang, Minggu (15/4/2018) (Anggara Sudiongko/MalngTIMES)
Dr HM Zainuddin (tengah), Rektor UIN Maliki Malang, Prof Haris (Kanan) dan WR III Isroqunnajah saat menggelar konferensi pers di salah satu rumah makan di Kota Malang, Minggu (15/4/2018) (Anggara Sudiongko/MalngTIMES)

MALANGTIMES - Jika sebelumnya Pembantu Rektor (PR) I Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Dr M Zainuddin terkesan enggan menanggapi kabar plagiarisme buku yang ia susun, setelah ramai diperbincangkan, akhirnya angkat bicara soal kasusnya ini.

Di salah satu rumah makan di Kota Malang dengan ditemani Rektor UIN Maliki, Prof Abdul Haris serta Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Minggu (15/4/2018), ia membeberkan kronologis penulisan buku yang ia susun.

Zainudin menjelaskan, buku berjudul Paradigma Pendidikan Terpadu : Menyiapkan Generasi Ulul Albab ia tulis bermula dari semangat menyosialisasikan ide integrasi ilmu dan agama serta tarbiyah Ulul Albab yang dikembangkan UIN Maliki Malang.

Dari situ digelarlah beberapa diskusi maupun seminar. Tak hanya itu, diskusi intens dengan Prof Imam Suprayogo yang kala itu menjabat Rektor UIN Maliki Malang juga terus dilakukan.

"Hingga suatu ketika saya diminta oleh beliau (Prof Imam Suprayogo) terus menyuarakan dua  tema besar itu (integrasi ilmu dan agama dan tarbiyah ulul albab). Kerjasama itu terus berlangsung, dengan memberi kata pengantar buku yang saya tulis yakni "Kesalihan Sosial vs Normatif tahun 2007". Termasuk bersama-sama dalam satu tim penelitian tentang kerukunan umat beragama di Sitiarjo Malang," bebernya.

Selanjutnya buku tersebut pertama kali diterbitkan UIN Press pada tahun 2008. Saat itu Zainuddin masih menjadi pembantu dekan bidang akademik di Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang.

Dalam buku itu, yakni pada Bab V,  Zainuddin memasukkan tulisan Prof Imam Suprayogo yang diambilnya dari makalah yang ditulisnya dan dari naskah buku berjudul "Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam" yang terbit pada 2004.

Pada Bab V tersebut diberi judul "Pendidikan Terpadu Mazhab UIN Malang" dengan catatan kaki bertuliskan: “Naskah pada bab ini diadaptasi dari konsep integrasi ilmu dan agama yang ditulis Prof Imam Suprayogo Rektor UIN Malang”.

“Karena adaptasi, tentu itu saya maknai sebagai pandangan umum (grand ideas) beliau (Prof Imam Suprayogo) terkait konsep integrasi ilmu dan agama yang dimaksud,” jelas Zainuddin.

Di dalam daftar pustaka, lanjutnya, memang tidak disebutkan nama dari Prof Imam Suprayogo. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Nama Prof Imam Suprayogo sudah dimasukkan dalam buku berjudul Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam, UIN Press Juni 2004.

Buku tersebut, juga sudah dimasukkan dalam daftar pustaka pada buku berjudul Paradigma Pendidikan Terpadu: Menyiapkan Generasi Ulul Albab yang disusun Zainudin.

"Buku tersebut disaat terbit juga sudah saya haturkan kepada beliau (Prof Imam Suprayogo) di kantornya. Dan beliau mengapresiasi. Saya masih ingat buku itu dibuka-buka dan beberapa minggu kemudian saya masih melihat tersimpan dalam almari kantor," ungkap Zainudin.

Setelah itu, lanjut Zainuddin, beberapa tahun kemudian hubungannya dengan Prof Imam Suprayogo masih normal-normal saja, berjalan harmonis antara atasan dan bawahan.  Hingga pada 2013 Zainuddin menjadi PR I dengan Rektor UIN Maliki Malang, Prof Mudjia Raharjo. 

Pada akhir 2016 menjelang jabatannya sebagai PR I berakhir,  ada perbedaan pendapat antara Zainuddin dan Prof Imam Suprayogo tentang World Class University. 

Saat itu bersamaan dengan kedatangan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono untuk meresmikan nama gedung pasca sarjana UIN Maliki.

“Pada saat itulah hubungan kami berdua tidak seperti sebelumnya. Pada 2016 itu pula mencuat berita tentang plagiasi. Saya terkejut, kenapa muncul berita itu setelah delapan tahun berlalu?” tanya Zainuddin.

Saat itulah santer terdengar dari sumber berita online yang tidak jelas identitasnya pada akhir November 2016.

Di situ Zainuddin segera melakukan klarifikasi terhadap Prof Imam Suprayogo. Akan tetapi Prof imam Suprayogo saat itu justru marah dan menganggap Zainuddin sebagai maling.

Zainuddin yang sudah meminta maaf secara lisan, akhirnya juga diminta oleh Prof Imam Suprayogo membuat permohonan maaf secara tertulis.

“Dan segala macam perkataan yang tidak pantas didengar dari seorang akademisi bergelar profesor dan mantan Rektor UIN Malang. Tetapi untuk kemaslahatan saya meminta maaf secara lisan, Namun karena beliau (Prof Imam Suprayogo) juga meminta saya membuat permohonan maaf secara tertulis, saya turuti itu. Di sini bukan soal permintaan maaf, namun keterkaitan antara senior dan yuniornya," paparnya.

Sementara itu, Zainudin juga menyampaikan, kedatangan Subaryo sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tanpa diundang ke kantornya pada 27 Desember 2016 dan menanyakan perihal berita plagiarisme yang dimuat di berita online dengan membawa print out berita tersebut, juga dipertanyakan Zainudin.

“Apa kepentingan dia mengorek itu? Dia juga menanyakan soal surat permintaan maaf saya ke Prof Imam. Kok tahu?. Iya suka menanyakan seputar suksesi rektor, apakah saya akan mencalonkan rektor dan sebagainya kemudian dia cerita soal kedekatan dengan Pak Imam dan Pak Mudjia Raharjo," jelas Zainuddin.

Sehari kemudian, lanjut Zainuddin, Subaryo menelponnya berulang kali, tetapi sengaja tidak pernah direspons. 

Tak lama berselang, Subaryo mengirim pesan pendek berbunyi, “Kami akan menguji apakah buku hasil karya ilmiah Bapak PR I, benar atau tidak lewat jalur hukum bapak. Maaf” tulis Baryo seperti dipaparkan Zainuddin.

Kemudian pada Selasa (7/3/2017), Subaryo mengirim somasi setelah berkali-kali menghubungi Zainudin namun tidak direspons. Di situ Subaryo mengancam akan melaporkan persoalan tersebut ke polisi.

Zainuddin juga menegaskan, bahwa buku yang ia tulis dan menjadi persoalan itu tidak menjadi persyaratan dirinya meraih gelar profesor.

Ia merasa aneh jika kemudian ada pihak yang mengatakan gelar profesornya tidak bisa diraih karena buku itu diduga plagiat.

Lebih lanjut ia menjelaskan, pada Kamis 19 Januari 2017, sekitar pukul 13.00 WIB, dilaksanakan rapat senat di rektorat. Agenda rapat itu terkait akademik dan pengembangan lembaga.

Selain itu, rapat juga membahas persiapan pemilihan rektor dan pemilihan ketua senat serta ketua panitia dan sekretaris.

Prof Imam Suprayogo terpilih secara aklamasi sebagai ketua senat. Sedangkan sekretaris pemilihan rektor adalah Dr Su'aib Muhammad dan Dr Isyraqunnajah.

Usai rapat pukul 15.30 WIB, dilanjutkan break Salat Asar. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan agenda usulan gelar guru besar atas nama Zainuddin yang dihadiri para guru besar, rektor, wakil rektor dan para dekan sesuai dengan undangan.

Namun secara terpisah, justru lima guru besar yang dipimpin Prof Imam Suprayogo mengadakan rapat tersendiri di ruang rektorat secara tertutup tanpa melibatkan pembantu rektor dan para dekan yang masih berada di luar ruangan.

“Hasil rapat itu, tidak menyetujui usulan guru besar saya dengan alasan tidak jelas seperti karena bermasalah dengan LSM. Namun hasil keputusan rapat itu tidak ditulis dalam berita acara. Karuan saja para dekan, WR yang sudah siap menyampaikan laporan usulannya, kepala biro, kabag dan staf terkejut. Kenapa tiba-tiba diputuskan begitu saja dan tidak melibatkan mereka?," Beber Zainuddin.

Melihat hal tersebut, Zainuddin menilai, tindakan itu tidak fair dan bertentangan dengan statuta UIN Maliki Pasal 37 Poin B.

Setelah itu, beberapa pihak juga meminta klarifikasi kepada rektor yang saat itu dijabat Prof Mudjia Rahardjo.

Dengan berbagai alasan, saat itu wakil rektor III, Dekan Fakultas Ekonomi dan juga Dekan Fakultas FITK meminta rektor bertanggung jawab atas berlarut-larutnya usulan tersebut.

Kemudian Rektor meminta waktu satu sampai dua hari untuk meminta Prof Imam Suprayogo bersedia menandatangani surat pengajuan guru besar atas nama Zainuddin.

Beberapa hari kemudian digelarlah sidang guru besar dengan tiga calon yang diusulkan. Salah satunya adalah Zainuddin.

Namun dari nama yang diusulkan tersebut pada usulan kedua kalinya ini Zainuddin lagi-lagi ditolak karena dianggap melakukan plagiat.

"Menurut informasi yang saya terima, saya disuruh tiarap satu tahun ke depan. Apa maksudnya saya juga tidak paham waktu itu. Usulan guru besar saya sendiri juga sudah ditandatangani oleh lima guru besar. Kecuali Prof Imam Suprayogo yang tetap tidak bersedia menandatangani. Dan untuk penjelasan lebih lanjutnya saya disuruh menghadap beliau," jelasnya.

Selanjutnya pada pertengahan 2017, merupakan tahun suksesi di UIN Malang yang diikuti oleh tiga calon rektor. Salah satunya adalah Prof Abdul Haris yang akhirnya terpilih menjadi rektor.

Dalam pencalonan tersebut Zainuddin mempunyai pilihan yang beda dengan Prof Imam Suprayogo. Bahkan Zainuddin dan Prof Imam Suprayogo direpresentasikan sebagai dua kubu yang saling berlawanan.

Dan pada endingnya Prof Abdul Haris yang ditetapkan oleh Menteri Agama sebagai Rektor UIN Maliki Malang. Namun disaat Prof Haris sudah terpilih pun juga masih dipermasalahkan oleh Prof Imam Suprayogo atas nama ketua senat saat itu.

"Setelah itu, beberapa bulan kemudian tepatnya tanggal 5 Januari 2018, tiba-tiba saya dilaporkan polisi melalui lawyernya yakni Subaryo hingga akhirnya menjadi viral dan konsumsi publik hingga sekarang," tandasnya.

Menanggapi hal tersebut, Rektor UIN Maliki Prof Abdul Haris yang sebelumnya juga terkesan enggan menanggapi kabar tersebut, akhirnya juga angkat bicara.

Ia menjelaskan, polemik tersebut, sebenarnya tidak perlu diperpanjang dan bisa diselesaikan secara internal di lingkup UIN Maliki Malang. Ia menyayangkan ada pihak-pihak yang membawa kasus ini keluar.

“UIN ini harus dijaga warganya sendiri dan berita seperti ini tidak muncul keluar. Kita seharusnya menjaga kebaikan lembaga agar menghasilkan orang-orang baik. Siapapun ikut menjaga karena ini milik semuanya, harus saling menyadari,” pungkasnya.


Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Heryanto
Publisher : Angga .


Top