Social Media

Share this page on:

Bergeraklah Merebut Kenangan!!!

08-05-2018 - 15:49
Ilustrasi sketsa Raisa dan tidak ada hubungan dengan opini ini. Penulis berkhayal Imas mirip Raisa. (Istimewa)
Ilustrasi sketsa Raisa dan tidak ada hubungan dengan opini ini. Penulis berkhayal Imas mirip Raisa. (Istimewa)

Bergeraklah Merebut Kenangan!!! 

*dd nana

Tulisan di atas sangatlah provokatif bagi saya. Provokatif yang positif tentunya. Dan saya tegaskan tidak ada hubungannya dengan viralnya spanduk bertulisan sama yang bikin heboh orang banyak. Saat Prabowo Subianto melakukan safari politik ke Bojonegoro untuk kemenangan pasangan calon bupati dan wakilnya yaitu Basuki-Puji Dewanto. 

Bergerak Merebut Kenangan. Saya sampai mengulang-ulang kalimat tersebut. Takjub walaupun terselip rasa humor atau tepatnya satir dalam diri saya. Rasa ini dikarenakan saya sudah tidak mampu untuk bergerak  merebut kembali kenangan saya. Tentunya kenangan yang indah-indah. 

Tapi tidak dengan Ceu Imas pemilik warkop tubruk. Setelah tidak memiliki ikatan dalam hidupnya kini,  kalimat tersebut ibarat mantera sakti. Mantera yang diucapkannya berkali-kali. Karena,  proses repetitip bisa menghasilkan energi besar bagi pikiran dan membuat seluruh organ tubuhnya bertindak seirama untuk mendapatkan tujuan yang di tanamkan. 

"Akang... Saya siap untuk merebut kenangan kini. Saya siap bergerak lagi mendapatkan cinta yang terputus waktu dan peristiwa lalu, " geremeng Imas yang membuat para pelanggannya bengong. Pasalnya,  ucapan itu diulang-ulangnya terus sambil asyik mengudek kopi. 

Dari kalimat sederhana tersebut,  Imas dipacu untuk kembali mengada. Tentunya dengan semangat dan tampilan baru yang bisa membuat target yang diburunya bertekuk lutut dan menerima harapannya. Maka,  tak heran kalau tampilan Imas kian hari kian menor. Bahkan Imas berani membayar mahal pakar komunikasi dan bahasa tubuh agar penampilannya semakin sempurna. 

"Ceu Imas sudah kaya politikus aja gayanya. Tapi  enggak apa-apa sih. Kita jadi terhibur dengan tampilannya sing tambah ayu. Apalagi kita digratiskan minum kopi," bisik-bisik para pelanggan. 

Bergerak merebut kenangan secara harafiah menurut saya lo,  adalah usaha kembali dari keterpurukan masa lalu menuju ke masa kegemilangan yang tentunya wajib sesuai dengan ekspektasi awal. Ada proses perjuangan untuk bangkit setelah mengalami rasa sakit. Sakit dalam bentuk apapun tentunya. Sakit dikarenakan dicampakkan cinta,  kalah dalam pertarungan pil-pil an,  sampai dikarenakan masalah ekonomi. 

Maka,  tulisan tersebut bisa jadi ajimat ampuh untuk memulihkan diri orang-orang yang pernah  terkalahkan di masa lalu. Tidak percaya? Coba aja hafalkan kalimat tersebut berulang-ulang setiap harinya. Kalau perlu sambil berkaca di cermin dan ucapkan keras-keras kalimat di atas. 

"Sugesti?" tanya Sokib. 

Bisa lah dikatakan seperti itu. Yang utama jangan remehkan angka ataupun aksara sebagai mediumnya. Peradaban manusia dibangun dengan hal tersebut. Doa para pemeluk agama yang dilakukan secara rutin atau repetitip adalah contohnya. Melalui kalimat yang diulang-ulang,  maka alam bawah sadar,  kekuatan terbesarnya manusia, bisa seimbang saat kondisi terjaga. Keyakinan. Begitu sebagian orang menyebutnya. 

"Jadi kita perlu mengulang-ulang suatu kalimat ya? Agar tertanam lebih dalam di alam bawah sadar?" Sokib kembali bertanya.

Aku hanya diam. Dan mengembalikan topik pembicaraan semula. Bergerak Merebut Kenangan. Melalui proses pergerakan untuk mewujudkan sesuatu yang tertunda,  akan tercipta peristiwa. Lepas dari peristiwa itu sesuai dengan ekspektasinya atau bahkan mengkhianatinya,  kembali. Tidak ada jaminan bahwa saat kita bergerak,  segala impian bisa terwujud. Apabila jaminannya dari lembaga survei,  misalnya. Misalnya,  seorang perempuan yang patah hati karena cinta di masa lalu oleh pasangannya. Terus dia kembali bergerak saat ini untuk menjemput kisahnya tersebut. Hasilnya? Belum tentu si lelaki yang telah meninggalkannya waktu lalu,  masih mau kembali ke pelukan sang perempuan tersebut. Atau bisa jadi langsung memeluknya erat dan membisikan kata lembut di telinganya,  "Dik,  masa lalu biarlah masa lalu. Kini aku sudah kembali di pelukmu, ". 

"Lo jadi untuk apa terus kita bergerak kalau hasilnya podo bae koyok masa lalu. Pait cak, " ujar Sukron. 

Karena kamu hidup. Orang hidup mesti bergerak. Kalau tidak mau bergerak matek ae. Sungutku. "Meski sing gerak mung jempol tok koyo zaman milineal saiki,  ra po po. Itu tondo awakmu masih urip. Kalau sudah gerak masih podo ae nasibmu,  iku jenenge takdirmu, " lanjutku.  

"Lha terus kalo kalimat di atas bagus buat penyemangat hidup,  kok rame banget soal salah tulis spanduk nang Bojonegoro kuwi, " uber Sukron. 

Mungkin,  karena momentumnya tidak pas. Moso momen kampanye tulisan spanduknya Bergerak Merebut Kenangan. Kan lucu toh? Jadinya rame jadi bahan bully. Padahal kalau kita mau menundukkan kepala sejenak, kalimat itu tepat sekali. 

Kenangan bagian inheren manusia yang tidak bisa dibuang begitu saja ke tong sampah. Kenangan akan melekat sampai seluruh organ tubuh kita tidak lagi bisa bergerak. Apa yang kita lakukan saat ini dipicu dari masa lalu. Tidak percaya? Tanya deh pada orang-orang yang pernah patah hati. Mereka bergerak dalam urusan hati agar tidak lagi patah hati seperti masa lalu yang jadi kenangannya. 

"Kalau malah patah hati lagi gimana Cak? " tanya Sukron. 

"Takdir Kron. Yang pasti kalau gagal lagi kita tidak bisa menatap menor e Ceu Imas. Yang lebih pasti lagi nih kopi tidak  gratis lagi, " ucapku. 

*Pecinta kopi lokal gratisan 


Pewarta :
Editor : .
Publisher : Alfin Fauzan

TAG'S

BERITA TERKAIT


Top