Social Media

Share this page on:

Gaji Per Hari Wong Indonesia = Gaji Satu Jam di Amrik

13-05-2018 - 09:00
Ilustrasi aja sih (Ist)
Ilustrasi aja sih (Ist)

*dd nana

Hampir saja warkop Ceu Imas jadi ajang tinju. Antara warga desa Kopi Tubruk sama seorang turis dari Amrik yang entah dengan alasan apa bisa mbegegek sampai di warkop Ceu Imas. 

Awalnya, turis berjenis kelamin laki-laki ini disambut dengan gembira. Maklum,  di desa yang menyembunyikan kecanggihannya meracik kopi ini,  mirip Negara Wakanda di film Black Panther, jarang kedatangan tamu. Apalagi wong bule. 

Si turis ini juga terlihat bergembira saat mencicipi racikan kopi yang resepnya hanya segelintir orang yang tahu. Kenikmatan kopi yang direguknya tidak pernah dirasakan di negaranya yang serba cepat. 

Senyumnya tidak lepas menghias wajahnya. Jempolnya berkali-kali terangkat. "Jan tenan toopp bingit wis kopi nang kene iki, " ucapnya yang disulihswarakan oleh arek Kopi Tubruk. Setelah kegembiraan tercipta dalam ritual minum kopi,  walau si bule dengan warga hanya memakai bahasa isyarat,  untuk saling berkomunikasi. Cerita pun dimulai. 

Awalnya dimulai dengan pertanyaan si bule kepada Sukron,  mengenai bagaimana bisa warga begitu terlihat santai dan menikmati hidup. "Sepagi ini kalian sudah berkumpul di warkop,  minum kopi dan tertawa bahagia. Kalian pasti orang-orang kaya, " ujar si bule. 

Sukron bingung disebut orang kaya. La wong kalau kebelet nonton pertandingan sepak bola di tivi aja masih harus ngungsi ke rumah pak lurah. Si bule kembali bertanya, "Kalian pasti gajinya gede-gede ya? Kalo di negaraku,  jam segini nih boro-boro cangkruk dan tertawa bersama-sama sambil ngudud dan minum kopi. Semua sudah sibuk kerja, ". 

Sontak semua pelanggan Imas tertawa tergelak-gelak. Baru ada orang,  bule lagi, yang menganggap mereka kaya. Padahal tampang dan pakaian yang dikenakan ya sangat biasa. Kebanyakan pake kaos oblong. 

"Berapa kamu dapat gaji mister Sukron?" tanya si bule penasaran. 

"Kalau dari ini itu bisa sampe tiga juta mister, ". 

Melototlah mata si bule dan dia maklum sudah kenapa orang-orang yang dijumpainya begitu santai menikmati hari. Dia mengukur dirinya yang kerja selama delapan jam maksimal hanya bisa mengumpulkan uang sekitar satu juta dalam sehari. 

"Jadi satu bulan you kerja dengan ritme santai begini bisa dapat sembilan puluh juta ya? Kalian kereenn. Makanya kalian santai sekali terlihat hidupnya, " kagum si bule.

Giliran Sukron dan lainnya yang melotot. Dan akhirnya meledaklah tawa mereka yang membuat si bule seketika bingung. "Tiga juta itu sebulan mister. Itu aja kalau jangkep semua pendapatan. Kadang-kadang hanya dapat dua juta sudah alhamdulillah, " ucap Sukron setelah reda dari tawanya. 

Kini mata melotot kembali ke si bule. "Whaatts?? Tiga juta sebulan jadi sehari cuma seratus ribu lebih gitu?,". Sukron dan lainnya angguk-angguk. "Tapi kalian begitu nyantai dengan pendapatan sehari segitu? Kalian terlihat nyaman dan bahagia? Pagi dah cangkruk ngopi,  siang dan sore juga cangkrukan kan? " tanya si bule yang serentak dijawab anggukan. 

Sibule yang tidak ngerti bagaimana dengan uang segitu mereka bisa begitu menikmati hidup,  membandingkan pendapatannya dengan dirinya dan orang-orang  di amrik sana. Dengan asumsi tiga juta satu bulan mereka seharinya hanya mengantongi seratus ribu an. Uang seratus ribu di negerinya bisa didapatkan hanya dengan hitungan satu jam dengan kerja di toko. Itu pun merupakan gaji minimum bingit di amrik.  

"Jadi sehari kerja kalian sama dengan satu jam kerja di sana. Kasian sekali kalian yaa. Apa karena itu kalian akhirnya mengambil sikap seperti ini. Santai,  berkumpul,  ngopi,  ngobrol ngalor ngidul di warung? " tanya si bule. 

Tapi,  lanjut si bule,  saya tetap bingung dengan gaya hidup kalian itu. Sudah gaji kecil tapi bergaya orang kaya yang membuat saya tadi salah menilai kalian. "Pasti kalian juga tidak bisa pelesir ke luar negeri kayak sayah ya? Pasti deh enggak bisa. Kalau pun bisa karena ada sponsor kan? " imbuh si bule. 

Dari mulut si bule meluncurlah kisahnya yang hanya bekerja sebagai karyawan toko. Dari hasil kerjanya itu,  dia bisa mengumpulkan uang yang digunakan untuk menikmati hidup. Pelesir ke negeri yang indah sekaligus murah. 

"Kalian menjual murah keindahan, keunikan dan kelezatan yang dimiliki tanpa  tanding ini. Dan kalian sudah begitu puas. Ini yang membuat kalian digaji rendah sekali. Kalian pun menerimanya dengan gembira. Duh,  kasian sekali kalian. Bersandiwara setiap hari agar terlihat kaya, " cerocos si bule. 

Sukron dan lainnya yang tadi tertawa-tawa,  diam. Ada sesuatu yang tidak benar dari cerocosan si bule terhadap gaya hidup mereka. "Coba dulu Amrik yang jajah kalian ya, pasti makmur deh. Gaji kalian pun tidak kecil bingit. Mosok seratus ribu sehari, kapan bisa kayanya. Tapi kalau pun kalian diangkut ke sono,  enggak bisa juga dipakai. La wong kerja mung nongkrong di warung, " tembak si bule lagi. 

Sukron tiba-tiba menarik kaos oblong si bule,  maksudnya untuk menariknya ke luar dari warung. Sayangnya, nafsu kuda tenaga semut. Sukron tidak bisa geser tubuh bongsor si bule. Maka diluncurkanlah tinju ringkihnya ke wajah si bule. Untungnya warga lain melerainya,  bukan karena mereka tidak emosi pada si bule. Tapi,  mereka lebih keder dengan tatapan Ceu Imas yang tajam setajam silet. 

"Bikin gaduh warung gue, sikat kabeh!!! " kata mata bola pingpong Imas. 

*Penikmat kopi lokal gratisan


Pewarta :
Editor : .
Publisher : Raafi Prapandha


Top