Social Media

Share this page on:

Agama Jadi Mesin Cuci Otak Paling Cepat

14-05-2018 - 07:55
Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

*dd nana

Mungkin, kita kerap tergeragap dengan aksi-aksi kejam dan brutal yang dilakukan manusia terhadap manusia lainnya. Misalnya, yang dilakukan para teroris, yang dengan bangga membunuh sesamanya. Dan merasa tidak berdosa menjadi pencabut nyawa yang merupakan tugasnya malaikat atas suruhan Tuhan.

Pertanyaan orang awam seperti saya adalah: “Kok bisa mereka berbuat biadab. Menumpahkan darah dan mencabut nyawa manusia yang belum tentu memiliki dosa terhadapnya. Bahkan mereka belum tentu mengenal korbannya itu siapa,” tanya saya saat cangkruk di warung kopi Ceu Imas setelah peristiwa biadab dilakukan oleh orang-orang yang rela bunuh diri dan mengajak manusia lain ikut ke alam akhirat. Mereka ngebom tiga gereja saat manusia lainnya sedang khusyuk beribadah menurut keyakinan dan agamanya.

Sotoy, alumnus Timur Tengah yang terkenal sebagai desa yang kuat ideologinya dalam memberantas kemaksiatan versi mereka, yang kebetulan ikut cangkruk menjawab keheranan saya. “Cuci otak Cak. Mereka telah dicuci otaknya sedemikian rupa oleh para pemimpinnya."

“Cuci otak? Emang bisa itu otak dicuci kayak pakaian Kang Sotoy?” tanya Sokib si peramal togel yang kadang-kadang juga meramal lainnya ini. Seperti peristiwa yang akan terjadi di desa Kopi Tubruk atau kejadian yang akan terjadi di Nusantara ini. Suatu ketika, dia pernah meramal di tahun anjing tanah ini akan banyak peristiwa yang membuat anyir Nusantara.

Sotoy menjawab bisa. Bahkan sangat bisa. Orang-orang yang kebetulan cangkrukan di warkop Ceu Imas, seketika mendekatkan kursinya masing-masing. Melingkari Sotoy yang mulai bercerita mengenai cuci otak yang membuat manusia menjadi robot. Karena otak dan hatinya telah dibersihkan sedemikian rupa dengan tujuan yang diinginkan para pencuci otak. Atau oleh para aktor besar di belakang mereka.

Brainwash atau cuci otak adalah metode kuno yang telah dijalankan oleh orang-orang sinting yang ditakdirkan menjadi para pemimpin. Sebut saja si Hitler yang memimpin Nazi dalam peperangan dan pembantaian besar manusia di eranya. Atau Abu Bakar al-Baghdadi (kita ini kerap terpesona dengan nama-nama berbau Arab. Padahal terpesona adalah tahap dalam pencucian otak) pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Cuci otak sebagai metode ini tidak pernah mati seperti orang-orang yang mengamalkannya. Selalu ada orang lain yang melestarikannya dan mencekoki orang lainnya.

“Kaya Dajjal dong enggak pernah mati-mati kang?” tanya Sukron yang dijawab Sotoy seperti ini, “kayak kamu juga yang lupanya tidak mati-mati kalau sudah urusan sholat,”.

Secara arti, cuci otak ini merupakan suatu upaya rekayasa pembentukan ulang tata berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu menjadi sebuah tata nilai baru melalui indoktrinasi secara intensif. Indoktrinasi ini biasanya erat sekali hubungannya dengan kepentingan di bidang politik, militer sampai agama. Cuci otak sebagai alat atau medium untuk mencapai tujuan tersebut telah dilakukan sejak Perang Dunia I sampai II.

Contohnya, Nazi Jerman yang melakukan cuci otak pada prajuritnya sejak remaja. Sehingga mereka menjadi robot dan kesetiannya terhadap para pemimpin atau partainya mengalahkan karunia besar yang telah diberikan Tuhan kepada makhluknya bernama manusia, yaitu akal dan hati. Nazi pun melakukan berbagai eksperimen melalui para pakar cuci otak kepada para tawanan perangnya. Di peristiwa Perang dunia ke II, jepang berhasil melakukan cuci otak pada para prajuritnya. Ingat peristiwa Pearl Harbor, dimana para pilot Kamikaze memborbardir pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat. Dengan keyakinan, kematian mereka tidak akan sia-sia dan mulia untuk kekaisaran Jepang. Mereka mati dengan membawa kehancuran dan kematian ribuan orang, baik dari sipil maupun militer AS.

Waktu berlalu. Para diktator dan orang sinting yang ditakdirkan menjadi pemimpin telah dikuburkan. Tapi tidak dengan mesin bernama cuci otak ini. Mesin cuci otak ini bahkan oleh para kelompok teroris seperti ISIS serta aliran lainnya yang terus melakukan terror, diisi dengan keyakinan beragama. Agama dijadikan lapisan paling luar dan terlihat nyata bagi orang-orang yang kehilangan daya di lingkungannya.  Agama lambat laun dijadikan mesin paling efektif dalam proses cuci otak tersebut. Saking efektifnya, orang-orang yang telah tercuci bersih kemanusiannya ini, rela membunuh dengan cara apapun. Bahkan bagi mereka bunuh diri dengan menimbukan kerusakan dan kematian banyak manusia adalah jihad.

“Lo kok bawa-bawa agama Kang? Jadi agama yang salah ya?” tanya Samsoe pengembala kambing. 

“Jenggotmu gundul Su…Tidak ada ajaran agama yang menyuruh pemeluknya saling bunuh. Itu karena kesintingan mereka yang meracik agama dengan kepentingan dunia mereka saja,” sewot Sotoy.

“Katanya agama alat efektif untuk cuci otak. Makanya banyak teroris yang seenak udel e ngebom sana ngebom sini,” ujar Samsoe.

Seorang Pakar Kesehatan Jiwa yang saya lupa namanya, pernah menyampaikan. Bahwa proses cuci otak membutuhkan waktu sangat panjang sekali. Karena untuk menanamkan program baru ke manusia sampai bisa tertanam kuat dan permanen dalam pikiran bawah sadar, tidak bisa dilakukan secara instan. Objek cuci otak itu manusia. Bahkan kalau memakai cara dan teorinya Sigmund Freud, perlu waktu antara 2-5 tahun. Itu pun masih waktu minimal dan tergantung kondisi kejiwaan orang yang di cuci otaknya tersebut.

Tapi lewat agama, cuci otak bisa dengan cara singkat saat ini. “Menurut pakar tersebut 3-6 bulan orang yang dicuci otaknya sudah bisa jadi robot dan mengikuti keinginan dan perintah yang mencuci otaknya tersebut. Dan hanya lewat agama cuci otak cepat ini bisa dilakukan para orang sinting tersebut,” urai Sotoy.

Sotoy melamun dan tanpa diinginkannya dirinya terbawa ke masa lalu. Dimana dia beserta rekan-rekannya yang pernah mengalami indoktrinasi tersebut. Dirinya pernah mengalami cuci otak sampai tahapan re-edukasi (pendidikan kembali) sampai tahap re-strukturisasi kepribadian dan keyakinan. Saat memasuki tahap pemprograman dalam praktik-praktik atau implementasi di lapangan, dirinya tercerabut ke masa kecilnya.

Saat itu Sotoy di program untuk memberantas kekufuran dengan cara apapun. Menghancurkan warung milik orang lain yang berjualan miras dan lainnya. Mengkafirkan manusia lain walaupun beragama sama dengannya, apalagi yang beragama tidak sama. Sampai pada tindakan kamikaze ala Jepang di berbagai daerah dan berbagai lokasi. Untungnya, saat pikiran dan hatinya telah dicuci bersih, Sotoy yang akan ditugaskan keesokan harinya melakukan bom bunuh diri di sebuah tempat peribadatan, dirinya tertabrak sepeda motor tetangganya sendiri. Sehingga kakinya patah dan langsung dirawat di rumah sakit terdekat.

“Esok harinya aku lihat di tivi dan surat kabar. Bom yang harusnya aku ledakkan telah digantikan oleh pengantin lain. Korban sangat banyak dan salah satunya adalah anakku yang saat itu lewat di depan lokasi kejadian,” lirih Sotoy dengan air mata yang entah kapan mengaliri pipinya. Orang-orang yang tadi khidmat mendengarkan omongan Sotoy diam semua. Mereka mengetahui peristiwa itu, tapi tidak membuat mereka mendakwanya sebagai penjahat yang tidak pernah bisa kembali ke jalan agama. Agama yang mengajarkan kasih dan sayang kepada seluruh makhluk yang ada di dunia ini. Agama yang sampai saat ini terus dibelokkan tujuan mulianya oleh orang-orang yang menganggap dirinya pemilik mutlak surga. 

Mesin cuci otak ini tidak hanya ada di kampung-kampung. Bahkan di menara gading pendidikan yaitu kampus-kampus juga berbiak. Bahkan di dunia tidak nyata (dunia maya) begitu banyaknya informasi mengenai hal tersebut berseliweran dan diakses dengan mudahnya oleh siapapun. Karena mesin tidak bisa membedakan para pengaksesnya, apa sudah dewasa atau anak-anak. Apa mereka memiliki ketahanan atau imun untuk dirinya dari informasi yang diakses atau tidaknya.

“Kita diam-diam dikepung dengan mesin itu. Dan agama terus dipelintir dan dijadikan tunggangannya. Mereka faham banget hanya memakai agama mereka terus bisa mengada dan melestarikan terror. Bahkan mungkin tanpa sadar kita juga telah tercuci otaknya. Dengan peran jempol tak berotak yang menyebarluaskan berbagai informasi kebencian, kebohongan dan sara lewat gadget yang kemana-mana setia menemani,” ujar Sotoy.

*Penikmat kopi lokal gratisan


Pewarta :
Editor : .
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah


Top