Social Media

Share this page on:

Puasa Lo Ikut Wangsa Ular atau Ulat Brow!

20-05-2018 - 07:22
Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

MALANGTIMES - Gus Mas begitu asyiknya menatap sesuatu di depannya. Matanya tidak berkedip. Senyumnya tersungging dan mulutnya kerap mengucap takbir. Orang-orang yang kebetulan melewatinya bertanya heran dengan kelakuan sang Kyai yang penampilannya tidak memirip-miripkan diri dengan mereka yang menyebut dirinya sendiri ustaz,  kyai maupun ulama. 

Gus Mas tetap bersahaja dan menolak kelatahan yang begitu meruyak dimana-mana. Khususnya dalam berbusana. Baginya busana yang cocok adalah yang lahir dari kearifan akal dan kondisi sekitar. Asal bersih dan suci serta nikmat dipakai,  jadilah. 

"Assalamualaikum gus. Gus lagi apa kok serius banget kayaknya, " tanya Sokib yang ikut-ikutan mengamati apa yang sedang dilihat dari tadi oleh Gus Mas.  

Gus Mas menoleh dan menjawab salam Sokib. Lantas setelah sekian menit berlalu,  bertanyalah dia kepada si peramal togel desa Kopi Tubruk ini. 

"Puasa lo ikut aliran mana Kib. Ular apa ulat? " tanyanya sambil menunjuk ke sebuah ceruk tanah yang memperlihatkan seekor ular yang sedang ganti kulit. 

Sokib refleks berjingkrak dengan menyebut nama seniman londo bernama Jan Cox yang namanya dipakai sampai saat ini kalau lagi meso (memaki). Setelah reda rasa kagetnya,  Sokib kembali bertanya, "Maksudnya apa toh Gus. Poso ko ono aliran hewan segala, ". 

Gus Mas yang punya senyum teduh dan menenangkan,  ibarat es cendol di siang hari bagi yang sedang dahaga lagi sedang berpuasa,  berkata. 

Kita mengetahui semua,  bahwa ibadah puasa itu bukan hanya diwajibkan kepada manusia saja. Beberapa jenis hewan pun melakukannya agar mendapatkan kualitas dan keberlangsungan bagi hidupnya.

Misalnya ya ular dan ulat itu. Mereka pun memiliki siklus berpuasa seperti kita manusia. Ada fase untuk menahan diri dari perilakunya sehari-hari. Mirip dengan puasa kita yang tidak makan dan minum di jam-jam yang  disyaratkan agama. Hewan pun demikian. 

Hasil dari tirakat itu pun dialami mereka. Bedanya ada yang bermetamorfasa ke arah yang lebih baik dan indah. Ada yang tetap saja. Kembali ke asalnya,  tidak ada yang berubah. 

"Sama dengan kita kan. Digembleng dalam satu bulan menahan segala urusan duniawi. Ada yang hijrah dan menjadi khairunnaas anfa'uhum linnaas. Ada yang pancet ae seperti sebelum puasa, " terang Gus Mas. 

"Hubungannya dengan puasa ular dan ulat opo toh Gus?, " tanya Sokib. 

Dari hewan melata itu, Tuhan,  secara nyata memberi kita contoh. Ular mengajarkan kita untuk bertahan hidup. Tapi tidak mengajarkan bentuk kebaikan yang berlanjut dan bertingkat sebagai makhluk. Ular secara berkala mengganti kulit dan bertapa atau berpuasa dalam prosesnya itu,  agar dirinya bisa bertahan. 

"Difase ngulungsungi kulitnya,  ular tidak makan apapun sampai akhirnya seluruh kulit lamanya terlepas. Tapi proses itu tidak membuat ular berubah bentuk dan sifatnya. Ular tetap menjadi ular yang mengandalkan racunnya untuk bertahan hidup, " ujar Gus Mas yang kemudian mengajak Sokib ke kebunnya yang lain. 

"Lihat itu ulat yang begitu rakus makan segala dalam hidupnya. Kerakusannya kepada dunia dalam soal pangan terbilang hebat. Walaupun tetap masih kalah jauh dengan manusia yang doyan segala, " katanya sambil terkekeh. 

Tapi ulat punya fase dalam kerakusannya,  tidak dengan kita manusia. Saat fase kebosanan ulat terhadap dunia datang,  mereka akan mempersiapkan fase paling panjang dalam hidup mereka. Berpuasa. Dia mengasingkan dirinya dari dunia sehari-hari. Kerakusannya pada dunia ditanggalkan dan ulat membungkus rapat seluruh tubuhnya. Agar hawa nafsu tidak bisa menyentuh segenap pori tubuhnya. Hitungan pekan dalam diam puasanya dan selubung bernama kepompong, ulat akhirnya keluar. 

"Jadilah kupu-kupu yang memesona mata dengan keindahan bentuknya. Padahal awalnya adalah makhluk menjijikan paling rakus. Si ulat lewat puasanya menjelma makhluk baru yang menaburkan kebaikan kepada tetumbuhan, " ujar Gus Mas. 

Sokib termenung. Sebelum senyum mengembang di bibirnya. Sambil menggaruk-garuk rambutnya yang kriwul,  dia berkata,  "ya jadi jawaban saya atas pertanyaan Gus tadi adalah, poso saya ya poso e ular gus, ". 

Gus Mas menepuk bahu Sokib dengan senyum teduh es cendol di siang hari. "Kamu masih bisa jujur Kib walau prosesmu belum sampai pada kupu-kupu. Daripada sudah jadi ular melulu tapi ngakunya kelinci atau domba. Berabe kan bagi yang memeliharanya, " katanya. 

*Penikmat kopi lokal gratisan


Pewarta : Dede Nana
Editor : .
Publisher : sandi permana soebagio


Top