Social Media

Share this page on:

Serba-serbi Ramadan 1439 H

Sensasi Choco Tarlet, Kue Nastar Bertabur Cokelat, Intip Dapurnya di Malang

23-05-2018 - 12:23
Kreasi choco tarlet, kue nastar bertabur cokelat, buatan wanita asal Malang Dewi Masitha. Dapurnya ada di Bakalan Krajan Kota Malang. (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)
Kreasi choco tarlet, kue nastar bertabur cokelat, buatan wanita asal Malang Dewi Masitha. Dapurnya ada di Bakalan Krajan Kota Malang. (foto: Wahida Rahmania Arifah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Lebaran masih beberapa pekan lagi. Dan seolah sudah menjadi tradisi, hampir di setiap rumah ada saja sajian kue kering. Satu yang paling populer adalah nastar.

Nastar berasal dari bahasa Belanda, yakni ananas dan tart. Kue ini dibuat dari adonan tepung terigu, mentega, dan telur. Di dalamnya diisi dengan selai buah nanas. Diameter kue nastar kira-kira dua sentimeter dan dihias dengan kismis atau cengkih.

Bagaimana jadinya bila adonan nastar ditambahkan dengan cokelat? Adalah Dewi Masitha, wanita asal Malang yang membuat nastar bertabur cokelat. Ia beri nama kue kering itu choco tarlet. Dapur kue kering ini ada di Jalan Pelabuhan Ketapang Nomor 57 Bakalan Krajan Kota Malang.

"Choco tarlet itu semacam nastar, cuma filling-nya pakai cokelat terus di-topping cokelat juga dan aku pakai dark cooking chocolate," jelas Dewi kepada MalangTIMES.

Ia mengatakan, bahan-bahan membuat choco tarlet sebenarnya hampir sama dengan nastar. "Bahannya terigu, butter (mentega), gula, susu bubuk, dark cooking chocolate, dan bumbu rempahnya. Selain itu, juga aku pakai white coking chocolate juga sih buat toppingnya aja," sambung alumnus MTsN Malang 1 ini.

 


Choco tarlet, kue nastar bertabur coklat ala Dewi Masitha dengan label Cookielogi (foto: istimewa)

Rasa cokelat dalam adonan kue kering choco tarlet banyak memikat pelanggan bahkan dari luar kota. Sayang, Dewi masih terkendala pengiriman. "Aku takut aja belum berani percaya sama pengiriman barang. Apalagi ini kan kue kering. Jadi, sementara di Malang aja yang aku terima pesanan," ucap wanita kelahiran September 1990 itu.

Dewi mengawali usaha kue kering sejak 2016 silam. Di sela-sela aktivitas sebagai guru, ia mengaku memang gemar membuat kue sejak lama. Selain choco tarlet, Dewi pun menerima pesanan kue nastar dan kue kastengel.

Untuk choco tarlet, ia jual dalam takaran kilogram. Selain itu juga bentuk toples. "Kalau yang toples aku jual enam puluh tujuh ribu. Nah, kalau yang per kilogram. Satu kilogramnya aku jual seratus tiga puluh ribu rupiah saja," tukas dia. (*)


Pewarta : Wahida Rahmania Arifah
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan


Top