Social Media

Share this page on:

Selalu Ada Mainan Baru di Medsos

01-06-2018 - 09:22
Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

 

Mungkin, terbiasa berlaku sopan bertutur maupun berprilaku di dunia nyata. Maka dunia tidak nyata atau dumay dengan rahimnya bernama media sosial  menjadi ruang baru. Ruang untuk berbuat yang tidak biasa seperti di dunia nyata.

Berbuat berani, lantang mengkritisi berbagai kebijakan sampai siap berperang. Tentunya kalau bicara perang di dunia medsos, sama saja dengan di dunia nyata. Sama-sama memiliki pasukan dan amunisi. Bedanya badan kasar tidak saling berhadap-hadapan, kayak perang Kemerdekaan, misalnya.

Di ruang maya itulah, medan perang selalu saja tercipta atau diciptakan orang-orang. Tidak pernah ada habisnya dan selalu ramai dikunjungi warganet yang semakin akrab dengan dumay dibandingkan dunya (dunya dalam bahasa sunda dunia, tempat raga bertempat tinggal). Sepertinya dumay lebih menjanjikan dibandingkan dunya. Banyak yang bisa dimainkan dan tanpa takut atau malu untuk berbuat apapun dibandingkan dalam hidup keseharian. Selalu ada mainan baru di dumay, begitulah.

Kini yang sedang ramai-ramainya jadi mainan para nyinyirzen (embuh tepat opo ora penamaannya) adalah mengenai gaji Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang diketuai oleh seorang perempuan yang sampai saat ini begitu kuat sebagai ketua partai berlogo banteng moncong putih, Megawati Soekarnoputri. BPIP lahir dan dipayungi hukum melalui Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2018 pada tanggal 23 Mei 2018.

Dunia medsos gempar dan lahirlah berbagai cuitan dari kenyinyiran warganya untuk ikut serta mengomentari perihal didirikannya BPIP dengan gaji yang nominalnya terbilang besar. Untuk gaji ketuanya sampai Rp 112 juta perbulannya, sedangkan anggota dewan mendapat Rp 100 juta. Di bawahnya ada gaji untuk kepala, wakil kepala, deputi sampai staf khusus dengan gaji antara Rp 76 juta sampai dengan Rp 36 juta.

Nah, kalau sudah urusan gaji memang kerap mengundang antusias tinggi. Jangankan di dumay, di dunya pun masalah ini kerap menjadi perbincangan yang sangat ramai. Bagi yang masih ditakdirkan mendapat gaji kecil padahal sudah mengabdi puluhan tahun kepada Negara, misalnya guru tidak tetap (GTT), persoalan tersebut kerap membuat matanya pedih.

Hal inilah yang akhirnya menjadi objek keramaian dan permainan di dumay. Walaupun tentunya akan selalu ada dua kubu di dalamnya. Yang pro dan dicap sebagai pengikut rezim serta yang kontra yang bersuara sangat keras dengan berbagai macam kepentingan. Serta berbagai inovasi dalam menyuarakannya, baik melalui meme, tulisan dan lain-lainnya.

Gara-gara BPIP ini pula, dari Presiden, Wakil Presiden, Menteri dan tentunya para politikus dan warganet (para pejuang tagar dan isu) berlomba-lomba menguji pernyataan di medsos pula. Hingar bingar pokoknya. Sedang di dunya yang setiap hari kita hisap udaranya, masih banyak persoalan yang belum tuntas juga.

Misalnya mengenai Pancasila yang kini memiliki badan dengan adanya BPIP tersebut. Badan ini tentunya memiliki tugas sangat penting sehingga mereka yang duduk di dalamnya diberi apresiasi gaji yang kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebenarnya gaji dan tunjangan mereka tidak jauh berbeda dengan lembaga lainnya. Gaji pokok pengarah hanya Rp 5 juta ditambah tunjangan Rp 13 juta dan asuransi jiwa dan kesehatan Rp 5 juta. Sisanya untuk operasional.

“Lantas apa Cak tugasnya BPIP itu?kok sampe rame dimedsos. Apa memang ini tahun politik yak? Atau memang warganet, baik yang nyinyirzen maupun yang prozen kebijakan atau yang sekedar lewatzen saja begitu antusiasnya,” tanya Sokib sambil menghitung paendapatannya sehari setelah habis mengamen angka-angka togel.

Pada Bab III Pasal 3 dan 4 Perpres Nomor 7 Tahun 2018 secara gamblang dijelaskan tugas BPIP. Di Pasal 3 dinyatakan, “tugasnya membantu Presiden dalam merumuskan arah kebijakan pembinaan idelogi Pancasila, melaksanakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pembinaan idelogi Pancasila secara menyeluruh dan berkelanjutan, dan melaksanakan penyusunan standarisasi pendidikan dan pelatihan, menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, serta memberikan rekomendasi berdasarkan hasil kajian terhadap kebijakan atau regulasi yang bertentangan dengan Pancasila kepada lembaga tinggi Negara, kementerian/lembaga, pemerintahan daerah, organisasi social politik, dan komponen masyarakat lainnya,”.

“Nah di Pasal 4 juga lebih didetailkan tugasnya. Pokoknya banyak deh,”.

“Terus yang diramaikan apanya Cak?kan bagus itu ada BPIP. Agar faham ideology radikal atau yang tidak sejalan dengan guyub rukunnya masyarakat bisa diminimalisir. Kayak teroris-teroris itu,” ucap Sokib.

“Yang diramaikan gajinya Kib. Gaji. Ini soal duit. Ini soal politik bagi sebagian orang juga. Ini juga sebagai mainan untuk memanaskan olahraga perebutan kursi. Lo baca deh di medsos atau media online, baru 2018 sudah ramai kan masalah-masalah ini diperdebatkan dan dijadikan ajang peperangan,” ujarku.

“Atau kita ini mungkin butuh musuh ya Cak. Musuh bersama, biar tidak kelahi antara sesame yak?” lanjut Sokib.

“Iya kale Kib” ucapku lagi sambil menyalakan rokok.

Woi, woi, belum buka cak puasanya.

*Penikmat kopi lokal gratisan


Pewarta :
Editor : .
Publisher : Alfin Fauzan

TAG'S


Top