Social Media

Share this page on:

Berdakwah di Ruang Gelap

03-06-2018 - 10:28
Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

MALANGTIMES - *dd nana

Terus terang, agar tulisan ini menjadi terang terus (#bukaniklan). Saya jujur bahwa judul yang saya pakai ini terinspirasi tayangan tivi yang ditayangkan setiap malam. Sinetron dengan tema perjuangan seorang anak muda jebolan pesantren yang ditugaskan untuk berdakwah di sebuah desa yang seluruh penghuninya adalah para pemuja kegelapan.

Tentunya karena ini sinetron, maka penggambaran gelap-terang dalam cerita sangat terlihat banget. Para pemuja kegelapan dengan berbagai profesi, dari pencopet, pembunuh, rentenir, penipu, dukun; digambarkan secara gambling. Mungkin, agar penonton lebih faham, bahwa orang-orang jahat itu tampangnya ya seperti itu. Kalaupun ada terobosan, para pemuja kegelapan disisipi muka-muka ganteng dan ayu agar penonton tidak menjadi sangat muak dengan tindak kejahatan mereka.

Jangan salah, masyarakat yang sudah muak pada kejahatan, akan bisa lebih kejam bertindak terhadap para penjahat. Buat satu percikan api saja, maka meledaklah kemuakan masyarakat. Main hakim sendiri dengan cara menjadikan penjahat seperti bola bekel, sampai pembakaran, telah menghiasi tindakan tersebut.

Tidak ada ampun. Sampai kemuakan mereka terlampiaskan. Sampai pada batas kepurbaan manusia tuntas saat itu.

Nah, dalam sinteron yang saya sebutkan di atas, seorang pemuda jebolan pesantren tersebut, merubah pola pendekatannya untuk menyadarkan para pemuja kegelapan. Dia, berdakwah secara langsung di ruang-ruang gelap manusia, melalui caranya yang sangat sederhana. Tidak dengan otot seperti yang juga kerap kita lihat, dulu, dalam bersyiar Islam. Atau tidak dengan menjelekkan lewat kata-kata perbuatan mereka dengan berbagai label yang saking ramainya di pakai di medsos menjadi familiar bagi anak kecil  sekalipun.

“Dakwah di ruang gelap?kayak para nabi dan wali zaman batu dulu saja yak,” ucap Sotoy, di suatu malam setelah menunaikan ibadah tarawih.

Sotoy pun melanjutkan, apakah dengan zaman saat ini, berdakwah seperti di sinetron tersebut masih ada? Siapa yang mau gila dengan metode seperti itu. “Zaman sudah maju, berdakwah sekarang sudah banyak ruang yang bisa diisi. Kalau tidak bisa diserap industri tivi yang tentunya gemerlap, bisa di masjid-masjid atau gedung pemerintah dan swasta. Yang tentunya tidak gelap-gelapan juga,” ujarnya.

“Ustadz milinial yak Cak Sotoy? Ustadz yang wira wiri tampil di tivi dan kehidupannya disorot media. Aku yak bermimpi pingin kayak seperti itu juga,” ucap Sukro sambil cengegesan.

Berdakwah di ruang gelap. Seperti para nabi, wali maupun para kiyai zaman dulu, di zaman kini, mungkin bukan pilihan yang bijak. Sorotan media begitu tajam, popularitas untuk eksis di kancah yang terang-terang semakin kompetitif. Ruang kumuh dan gelap, biarkan saja apa adanya. Agar ada keseimbangan. Begitu  kata Sokib. Nada bicaranya terdengar kurang sedap.

Sokib melanjutkan, lagian siapa yang mau hidup selibat dengan orang-orang yang dicap sampah masyarakat setiap hari. Lantas menyampaikan cahaya kebenaran Tuhan kepada mereka. “Bisa-bisa ditimpuki bogem mentah atau clurit kan tuh orang. Kalau di sinetron yang kita bahas kan enak saja. Endingnya orang jahat insyaf dan kembali ke tempat terang. Ini dunia nyata bung!,” tegasnya.

Yup. Ini dunia Nyata Bung!. Tidak mudah orang membujuk orang lain untuk ikut omongannya. Walaupun apa yang disampaikan adalah ayat-ayat Tuhan. Kehidupan yang keras dan tempaan kemiskinan serta sistem pemerintahan yang belum maksimal, menjadikan mereka sebagai manusia yang membatu. Saat kita menyampaikan, “Hei mencuri itu dosa dan tidak disukai Tuhan,”. Jawaban mereka,”Terus emang lo mikiran bagaimana agar kami tetap hidup. Lo kagak liat noh, orang-orang berdasi, berjas dan kerap ngomong rakyat, rakyat, rakyat. Tapi nyolong duit rakyat. Napa lo kagak ceramahi mereka,”.

Repot kan hadapi mereka. Kesabaran, ketelaten dan memiliki simpati serta empati terhadap kehidupan mereka itu lebih susah daripada hanya berbicara kebenaran. Apalagi sampai mau terjun dan memapah mereka dari kegelapan menuju tempat terang. “Ada orang seperti itu?lo sebut apa kek mereka itu. Ustadz, kiyai, ulama atau apalah lo gelari mereka,”.

Berdakwah ditempat gelap, bukan profesi menjanjikan. Berdakwah di ruang-ruang terang, wangi oleh parfum jamaah, lebih menjanjikan secara duniawi. Maka, jangan heran kalau di negeri yang terkenal dengan masyarakatnya yang taat beribadah ini, ustadz atau sebutan apapun yang disandangkan kepada mereka yang menyampaikan ayat-ayat Tuhan, telah menjadi salah satu profesi menggiurkan.

Sebagai contoh saja nih, menurut Wikipedia.org sekitar 18 tahun lalu saja, seorang penceramah kondang tarfnya bisa mencapai USD 100.000 per jam di bulan Ramadan. Di tahun 2013, para penceramah kondang sekali ceramah bisa dibayar panitia antara Rp 25-40 juta. Walau pun, menurut mereka juga bukan persoalan tarif ceramah yang jadi jujugan mereka berdakwah. Bahkan sebagian penceramah menolak adanya isu tariff sampai puluhan dan ratusan juta tersebut. Walahualam.

“Nah yang mampu bayar orang berdakwah segitu besarnya itu lo siapa. Kalau bukan orang-orang yang berduit. Lo berdakwah deh di lokalisasi, siapa yang mau bayar duit segitu banyaknya untuk dengarin orang ngomong. Dah bener mereka, berdakwah di tempat yang terang-terang saja. Kepada jamaah yang tidak pernah mengalami bagaimana rasanya kelaparan, bagaimana diasingkan. Bagaimana pedihnya hati melihat tatapan mereka kepada kami,”.

Repot kan hadapi mereka. Maka sudah benar kalau para penceramah berdakwah di tempat-tempat yang terang. Bukankah di tempat terang tidak menutup kemungkinan ada bibit-bibit kejahatan di kepala dan dada mereka juga. Bukankah busana yang dipakai, tutur kata sopan, pendidikan yang tinggi juga bukan modal tunggal, terhindar dari bujukan setan.

Lantas, siapa yang akan berdakwah di tempat gelap. Seperti Ustadz Khoiron Syu’aib asal Surabaya yang berdakwah selama 30 tahun di lokalisasi yang kini telah ditutup itu. Atau yang berani dengan kecerdikannya untuk berdakwah dengan tidak memakai bahasa, “lo kagak pernah solat dosa lo. Mati lo tidak diterima bumi,” kepada golongan para preman, seperti KH As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo. Sehinga para preman tersebut tunduk dan hormat serta mengikuti jalan kebenaran melalui perantaranya. Tanpa berbusa-busa mengafirkan sesama, tapi dengan melibatkan para preman untuk menjaga sandal jamaah solat.

Cara-cara mereka yang coba dicontoh dalam sinetron yang saya sampaikan di atas. Tidak dengan okol, tidak dengan gemerlap lampu dan cahaya, tidak juga dengan jamaah yang berkerumun ribuan jumlahnya. Yang mungkin, saat sang penceramah menyampaikan, “hei jamaah, jauhi maksiat. Jangan lo mabuk-mabukan, jangan berzinah, dan jangan-jangan yang lainnya,”. Para jamaah memang tidak pernah melakukan hal tersebut. 

“Kayak nuturi orang yang sudah tahu ya Cak. Atau garami air laut dengan garam tah?” tanya Sokib yang berpikir alangkah baiknya kalau dirinya mulai menyusun proposal gerakan berdakwah di ruang gelap.

*Penikmat kopi lokal gratisan

 


Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : sandi permana soebagio

TAG'S


Top