Social Media

Share this page on:

Masturbasi yang Dipertanyakan

04-06-2018 - 07:48
Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

*dd nana

Bicara mengenai perilaku seksual tidak akan ada tandasnya. Ibarat orang haus di tengah terik matahari di musim pancaroba,  sedang berpuasa lagi, maka segelas es cincau tidak akan meredam rasa dahaganya.

Diperlukan es degan plus susu atau jeruk dan madu. Bahkan es doger atau oyen pun siap untuk direguknya. 

Seks adalah kebutuhan manusia sejak zamannya manusia pertama sampai saat ini. Tidak ada yang bisa menggantikan kebutuhan tersebut. Uang berlimpah dan kekuasaan bahkan bisa menjadi pertamax untuk mengencangkan laju kebutuhan sek bagi manusia. 

Seks juga  berkelindan dengan pertumbuhan zaman yang dihuni manusia. Berbagai cara dan gaya seks yang sebenarnya hasil akhirnya sama,  yaitu secuil kepuasaan raga dan semoga jiwa tersebut, mengalami metamorfosa.

Dari sekadar naluri bertahan dan menduplikasi diri di dunia menjadi suatu seni. Bahkan terus bergeser menjadi komoditi manusia paling menggiurkan. 

Diamplifikasi oleh industri seks yang dahsyat, perilaku dan kebutuhan dasar makhluk hidup satu ini, semakin melesat. Dan juga melenceng kemana-mana.

Seks ditarik ke ranah kulit yang kasar dan begitu telanjang. Jatuh pada perilaku binatang yang juga dianugerahi nafsu dalam hidupnya. Bedanya,  manusia terlalu kreatif atau nakal dengan anugerah yang disandangnya. Diotak-atiknya hal tersebut menjadi sesuatu yang lain,  berbeda, dengan imaji paling liar yang dimilikinya. 

Tapi,  di tulisan saya yang sedang belajar untuk mengendalikan si kuda  liar bernama seks ini, saya tidak akan membicarakan sejarah, metode dan gaya,  catatan panjang maupun hal-hal yang berkaitan dengan seks secara ilmiah. Selain sudah banyak yang  ngupas juga saya bukan ahlinya.

Saya tidak ingin mengingat juga saat saya jadi mahasiswa yang sedang menggarap skripsi,  dulu. Yang isi skripsinya comot pendapat ahli satu,  dua,  tiga dan seterusnya. Serta hanya menambahkan kalimat penghubung atau sisipan saja. Kayak kata dan serta atau saja. 

Tulisan ini saya persembahkan untuk sebuah pertanyaan ndeso sebenarnya terhadap suatu kata dalam perilaku seks. Yaitu MASTURBASI.

Sebuah perilaku untuk memuaskan hasrat seseorang dalam menunaikan kebutuhan dasarnya tanpa ada lawan tandingnya. Baik lawan jenis maupun lawan berjenis yang sama. 

"Masturbasi? La apa enaknya toh Cak. Ber ah,  uh,  oh sendiri. Megap-megap sendiri dan setelah ejakulasi bingung sendiri juga. Tak ada yang bisa dipeluk atau diajak bicara," ujar Songaji,  remaja bertampang kencana dari Desa Kopi Tubruk yang terkenal sebagai Don Juan-nya desa,  sambil tertawa. 

"Bagi lo kagak ada nikmat-nikmatnya Ji. Tapi bagi yang kurang beruntung dalam mencari lawan,  masturbasi itu jalan sementara lampiaskan hasrat," ucap Somad yang berkali-kali pacaran selalu saja kandas di awal perjalanan.

Jadi belum pegang-pegangan tangan,  nge date, jalan bareng kemana-mana,  sudah kandas kisah percintaannya. Baru ngucapkan,  "Dik,  sumpeh banget deh aku cuuinntaaa fulll karo sampean," Eh sudah ditinggal lawan bicaranya. 

Lupakan obrolan antara sang  pejuang cinta yang tetap jomblo tersebut dengan Don Juan ndeso yang masih saja penasaran untuk menaklukan Ceu Imas pemilik warkop paling terkenal se-desa Kopi Tubruk. 

mas·tur·ba·si menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah proses memperoleh kepuasan seks tanpa berhubungan kelamin.

Kalau dijelentrehkan,  orang yang mas-tur-ba-si inginnya dapat nikmat seks yang harusnya ada pertemuan kelamin,  tapi karena sedang jomblo,  dipakailah organ tubuh lainnya. Jadinya pertemuan kelaminnya sendiri dengan tangannya sendiri juga. 

Tapi,  bukan masalah arti yang  sebenarnya ingin ditanyakan saya. Tapi pemakaian kata Masturbasi itu sendiri. Coba dilihat kalimatnya. Mas-tur-ba-si. Awalan kata sudah menunjukkan jenis kelamin yang dimiliki sosok yang kerap di sebut "Mas". Laki-laki. Pun kata kedua "Tur" lebih condong pada penunjukan nama laki-laki. Apalagi kalau disatukan jadi "Mastur" pasti menunjukan nama laki-laki banget. Enggak mungkin nama perempuan. "Ba-Si" identik dengan arti mulai berbau tidak sedap atau berasa masam karena sudah mengalami proses pembusukan.

Itu arti basi untuk makanan,  kalau basi untuk urusan seks,  bisa juga dimaknai tidak pernah berhubungan kelamin dengan lawan atau sesama jenis dikarenakan karena jomblo,  atau tidak memiliki kapital untuk menyalurkan hasratnya kepada lawan jenis yang dijadikan komoditas. Ingat seks juga sebagai komodi yang diperjualbelikan. 

Nah,  kalau  dijadikan satu kalimat masturbasi itu sudah menunjukan perilaku sek yang dilakukan oleh jenis kelamin serupa saya ini. Plus ditambahi embel-embel Jomblo dan tidak menguasai kapital atau miskin. 

Saya kan sedikit gondok dengan pemakaian kata masturbasi tersebut. Mosok laki-laki tok yang dijudge tukang masturbasi. Emang perempuan tidak pernah masturbasi? 

"La kan sudah dipakai kata masturbasi cak. Kok protes mau diganti. Mosok jadi Mastutibasi, Maknembasi, Masiatun basi. Enggak elok sebagai kata. Aneh sampean ini cak," ujar Songaji. 

Songaji melanjutkan, secara sejarah masturbasi dicatat dilakukan oleh seorang pemuda bernama Onan. Pada saat itu Onan sedang gelisah,  saat ayahnya yang bernama Yehuda memintanya untuk menikahi seorang janda almarhum kakaknya.

Onan yang keberatan tapi tidak bisa menolak kehendak sang ayah, akhirnya memilih jalan sendiri saat bersenggama dengan istrinya tersebut.

Setiap kali mau ejakulasi,  si Onan ini memakai tangannya sendiri dan menumpahkan sperma di luar rahim istrinya yang merupakan istri kakaknya tersebut. Namun,  caranya itu membuat Tuhan murka dan membuat Onan mati. 

"Onan? Ealah jadi kata onani itu juga dari nama si pemuda itu yak?". 

Songaji mengangguk. Dia yang anti masturbasi,  melanjutkan lagi. "Masturbasi secara agama jelas diharamkan, tapi dari sisi medis nih Cak,  katanya ada sisi positifnya bagi laki-laki. Kalau sperma tidak dikeluarkan secara teratur akan berakibat kualitasnya memburuk. Selain itu dapat mencegah kanker prostat cak," ujarnya sambil terkekeh. 

*Penikmat kopi lokal gratisan 


Pewarta :
Editor : .
Publisher : Raafi Prapandha

BERITA TERKAIT


Top