Social Media

Share this page on:

Inflasi Kota Malang Naik Drastis Mei, Penyebabnya?

05-06-2018 - 07:46
Paparan kenaikan inflasi Kota Malang pada Mei 2018 lalu di kantor Badan Pusat Statistik Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Paparan kenaikan inflasi Kota Malang pada Mei 2018 lalu di kantor Badan Pusat Statistik Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kota Malang lagi-lagi mengalami inflasi dengan kenaikan yang cukup drastis. Pada Mei 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat angka inflasi di Kota Pendidikan ini mencapai 0,29 persen. Naik dua kali lipat lebih dibandingkan April lalu, angka inflasi Kota Malang menempati posisi kedua yang tertinggi di Jawa Timur setelah Sumenep.

Pada April 2018, terdata angka inflasi Kota Malang masih pada 0,14 persen. Pada Mei, inflasi yang terjadi juga lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur yang berada di angka 0,17 persen maupun angka nasional. yakni 0,21 persen. Untuk inflasi kalender atau akumulasi tingkat inflasi sejak Januari hingga Mei, Kota Malang mencatat angka 1,43 persen. 

Untuk diketahui, secara sederhana, angka inflasi merupakan indeks kenaikan harga yang dirasakan oleh penduduk. Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Kota Malang Dwi Handayani P mengungkapkan bahwa ada dua penyumbang utama kenaikan signifikan inflasi di Kota Malang, yakni transportasi udara dan bahan bakar rumah tangga. "Yang paling tinggi sumbangannya adalah trasportasi udara," ujar Dwi saat rilis resmi inflasi di kantor BPS Kota Malang. "Ada kenaikan harga tiket angkutan udara sebesar 20,16 persen dengan andil inflasi 0,4 persen," tambahnya.

Hal tersebut juga disebabkan tarif pesawat di Malang lebih tinggi dibandingkan Surabaya. Selain itu, bobot skor transportasi cukup tinggi, sehingga meski kenaikan riil harga tiket tidak terlalu besar, tetap memberikan pengaruh signifikan pada kenaikan inflasi. "Tiket di Malang lebih mahal mungkin karena dari sisi jarak lebih jauh. Maskapai juga sedikit. Kalau mau lebih murah, barangkali bisa buka lebih banyak maskapai," urainya.

Penyumbang inflasi kedua yakni bahan bakar rumah tangga yang mengalami kenaikan harga sebesar 12,15 persen dengan andil 0,21 persen. "Bahan bakar itu terutama elpiji 3 kilogram. Mungkin dari Pertamina tidak naik, tapi di tingkat pengecer naik. Berdasarkan pengakuan pedangang, permintaan banyak tapi barang tidak ada," ucap Dwi.

Kenaikan itu terjadi karena di lapangan ada penyesuaian pendistribusian elpiji. "Disesuaikan, maka agak selektif siapa yang perlu dikasih dan tidak lagi dilepas bebas. Makanya di masyarakat pasokan tampaknya kurang," paparnya.

Penyumbang lainnya yakni harga telur ayam ras, daging ayam ras, bawang merah, apel, tahu mentah, sepeda motor, anggur dan emas perhiasan. Menurut Dwi, harga telur dan daging ayan sebenarnya relatif stabil di harga tinggi dalam sebulan terakhir. Sementara bawang merah masih terhitung tinggi pada awal Mei, meski mengalami penurunan bertahap di akhir bulan seiring datangnya masa panen.

"Sepeda motor juga ada sedikit kenaikan harga. Lebaran mungkin kebutuhan orang akan transportasi, jadi naik. Juga emas perhiasan. Ini universal melihat harga pasar dunia," ungkapnya.

Selain itu, ada beberapa komoditas yang menjadi penghambat laju inflasi. Di antaranya harga beras yang turun 4,21 persen. "Bobot beras dan pesawat ini sama-sama besar. Beras harganya turun sedikit, tapi implikasi besar dan menyeimbangkan kenaikan harga tiket," ujarnya.

Komoditas lain yang turut mengalami penurunan harga di antaranya bawang putih, cabai merah, rawit, tomat, gula pasir, biskuit, mujair dan melon. "Tetapi Kota Malang tetap inflasi meski penghambatnya tinggi," pungkasnya. (*)


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha


Top