Social Media

Share this page on:

Beraroma Asam Jawa nan Lembut, Kopi Taji Cocok Temani Hari Lebaran

14-06-2018 - 07:00
Kopi Taji, Jabung, di lereng Gunung Bromo menjadi pilihan utama menikmati hari kemenangan umat Islam, yaitu Idul Fitri. (dok MalangTIMES)
Kopi Taji, Jabung, di lereng Gunung Bromo menjadi pilihan utama menikmati hari kemenangan umat Islam, yaitu Idul Fitri. (dok MalangTIMES)

MALANGTIMES – Hari kemenangan bagi umat Islam setelah menjalankan ibadah puasa bulan Ramadan tentunya akan lebih lengkap bersama seduhan kopi lokal lereng Gunung Bromo. Mencicipi aroma khas kopi lereng Bromo, tepatnya di Desa Taji, Kecamatan Jabung, budaya berlebaran akan semakin kental. Kopi Taji yang memiliki cita rasa asam Jawa nan lembut dan brown sugar menggugah indera pengecapan kita.

Kopi Taji pun menjadi pilihan tepat untuk menikmati hari kemenangan tersebut bersama keluarga dan handai taulan. Tentunya, pemilihan kopi Taji disaat berlebaran ini tidak lepas dari rekomendasi dari penggerak kopi di Malang Raya yang tergabung dalam Komunitas Sejuta Kopi. Sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai pelaku tanaman kopi yang diketuai oleh Laksono Budiarto  yang disapa Sam Idub dalam komunitas tersebut.

Menurut Sam Idub, moment Lebaran bukan berarti melepaskan kenikmatan mereguk kopi dan digantikan dengan berbagai minuman lain. Minum kopi dalam momen Lebaran akan semakin menguatkan kecintaan dan keguyuban silaturahmi sebagai bagian tradisi dalam hari kemenangannya umat Islam.

“Dan kopi yang menurut saya tepat adalah kopi yang tumbuh di lereng Bromo di Desa Taji ini. Selain karena sejarahnya, cita rasa kopi Taji tentunya juga ditunjang saat ini sedang panen. Sehingga tentunya akan cukup berlimpah kopi dari Taji ini,” kata Sam Idub kepada MalangTIMES.

Kopi Taji, secara sejarah, dulunya merupakan kawasan penghasil Java kaffa atau Java Coffee jenis Arabica terbaik di Indonesia, bahkan di dunia. Asal kata Java Kaffa atau Java Coffee berasal dari seorang ahli botani bernama Carolus Linnaeus yang menamakan genus tanaman kopi sebagai Coffea Arabica. Kata “Coffea” diambil dari kata “qahwa”. Sedangkan “Arabica” ditambahkan karena Linnaeus mengira tanaman itu berasal dari Arab karena ditanam pedagang Arab yang sempat bermukim di Ceylon (Srilanka).

Genus tanaman ini kemudian dibawa Henricus Zwaardeeroon untuk ditanam di Pulau Jawa pada 1699. Tahun yang disepakati industri kopi Indonesia sebagai titik awal tanaman coffea arabica atau kopi arabika mulai ditanam di Indonesia.

Salah satu desa di wilayah Jabung penghasil kopi arabika terbaik adalah di Desa Taji. “Ketenarannya bertahan sampai era 1980 sampai 1900-an. Dimana desa Taji menjadi wilayah penghasil kopi arabika terbaik dikarenakan kondisi alamnya yang menunjang, yaitu berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut,” urai Sam Idub yang juga menyampaikan di era 1990-an sampai era Reformasi (1998), banyak petani kopi Taji yang beralih bercocok tanam. “Sehingga Jabung sebagai kawasan kopi terbilang hilang total di era tersebut,” imbuhnya.

Bangkitnya kopi Taji mulai terlihat kembali setelah si biji hitam kembali meroket harganya di dalam dan luar negeri. Kesadaran para petani pun mulai kembali muncul dan memulai kembali menanam kopi. Diuntungkan dengan wilayah pegunungan serta indukan kopi yang melegenda dan sudah ada sejak era Kolonial Belanda, membuat keberadaan di biji hitam Taji kembali bersinar. 

Cita rasa asam Jawa dan brown sugar dengan tingkat kafein yang lebih rendah dibandingkan jenis kopi robusta. Sebagai ciri khasnya menjadi andalan para petani kopi Taji. “Cocok untuk dijadikan minuman lebaran, walaupun bagi orang yang tidak terbiasa ngopi karena takut dengan tingkat kafeinnya,” ujar Sam Idub yang juga menerangkan masyarakat pun semakin dipermudah untuk mendapatkan kopi Taji saat ini.

Selain di berbagai kedai kopi yang kini bertebaran di Malang Raya, para produsen kopi yang tertarik untuk mendistribusikannya banyak yang langsung datang ke desa Taji untuk membelinya. “Ini membuat keberadaan kopi Taji berada di mana-mana dan memperdekat jarak dengan masyarakatnya. Secara harga per kilogram kopi Taji mentahnya (ose kering) sekitar 80 ribu rupiah,” pungkas Sam Idub. (*)


Pewarta : Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha


Top