Social Media

Share this page on:

Belajar pada Burung Kecil

11-06-2018 - 20:57
Ilustrasi (pinterest.com)
Ilustrasi (pinterest.com)

MALANGTIMES - Belajarlah sampai negeri cina. Begitulah ujaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Titah untuk belajar ke negeri cina yang kerap ditarik ke berbagai ranah penuh kepentingan saat ini, sempot menghebohkan dengan adanya pemberitaan lapangan kerja Indonesia diserbu orang-orang cina. Heboh di dunia maya, di dunia nyata, tarikan berita tersebut perlu dilakukan kaji ulang secara bijaksana.

Serupa kisah yang akan disampaikan oleh Gus Mas kepada warga Kopi Tubruk, di suatu mushola kecil, sambil menunggu gema adzan maghrib datang. Ini kisah bukan tentang manusia-manusia heroik, apalagi mengenai berbagai gonjang-ganjing berbagai persoalan kehidupan di negeri yang tidak pernah sepi dari bombardier peristiwa ini.

Ini tentang cerita para binatang yang hidup di hutan belantara raya. Hutan, tempat para manusia dalam cerita dibuang dan berjuang. Untuk menemukan hakikat kebenaran yang semakin sulit untuk disapa dan dicengkramani secara akrab dan bersahaja saat ini. Dari kisah pandawa lima sampai pada perjuangan para pahlawan Indonesia. Misal saja Cut Nyak Dhien yang bergerilya di dalam hutan belantara raya, melawan penjajah belanda.

Beginilah ceritanya.

Konon, di sebuah hutan rimba, kehidupan berjalan secara harmonis antar binatang. Dari yang paling buas sampai paling lucu dan imut. Di sana, hirarki pemerintahan binatang layaknya di kehidupan manusia juga, berjalan. Tapi tanpa intrik, keculasan apalagi sampai saling menerkam dan memakan untuk sekedar mempertahankan kekuasaan. Di hutan, tidak ada hoax, ujaran kebencian maupun sara. Kehidupan hutan rimba disesuaikan dengan kekuatan, kegesitan alami yang dimiliki para binatang dari asal kejadiannya. Harimau menjadi raja rimbanya, binatang bertubuh besar lainnya, seperti gajah, beruang, badak, gorilla; menjadi bagian dari lingkar kekuasaannya. Sedangkan binatang berperawakan kecil, seperti burung dan lainnya, bersetia menjadi rahayat.

“Nah, cerita ini dimulai pada suatu ketika. Dimana kehidupan yang damai di hutan rimba menjadi begitu hebohnya. Bukan karena adanya revolusi untuk menjatuhkan sang raja, baik melalui hastag #2019GantiRaja ataupun lainnya. Tapi karena kejahilan dan keserakahan bangsa kita, manusia,” kata Gus Mas memulai cerita.

Kejahilan dan keserakahan manusia yang tidak pernah merasa puas menjadi khalifah di muka bumi ini, menjadi sebuah epic heroik. Pasalnya, untuk menumpuk harta, sang manusia yang telah kehilangan area di perkotaan, akhirnya melirik hutan rimba. Untuk dijadikan tempat usaha barunya. Maka, untuk mewujudkan hal tersebut secara cepat dan tidak butuh dana gede, dipantiklah si jago merah. Makhluk ciptaan Tuhan yang bersifat melonjak-lonjak ini pun dengan riang gembira melahap hutan rimba dengan apinya.

“Sontak saja seluruh masyarakat binatang kalang kabut dengan kebakaran tersebut. Sang raja menitahkan pasukannya yang rata-rata bertubuh besar dan bertenaga juga besar untuk memadamkan api tersebut,” lanjut Gus Mas.

Sayangnya, api yang begitu cepat melahap seisi hutan, telah membuat keder hati para binatang yang tergolong pasukan elitnya sang raja hutan ini. Insting untuk menyelamatkan diri lebih mendominasi mereka daripada untuk bahu membahu memadamkan api tersebut. Mereka blingsatan, berlarian ke segala penjuru hutan. Sang raja pun ikut serta menyelamatkan dirinya. Di dalam hiruk pikuk dan panasna api yang semakin berkobar, sang raja yang kencang berlari, tiba-tiba berhenti. Mulutnya melonggo.

“Dia melihat satu rahayatnya dari bangsa burung bukannya menyelamatkan diri dari api yang berkobar. Tapi, malah sibuk bolak-balik ke arah api yang sedang berpesta pora tersebut,”.

Sang harimau pun bertanya : “Hei burung kenapa kamu malah mendekati api yang semakin besar itu? Apa yang kau bawa dalam paruh kecilmu itu. Larilah, selamatkan dirimu,”.

Si burung yang telah bolak-balik terbang dari sungai yang berada di tepi hutan menuju sumber api yang membakar rumahnya itu. Sambil di paruhnya membawa air yang dia tumpahkan ke gelegak api, berhenti.

“Salam baginda raja. Saya sedang berusaha memadamkan api yang membakar rumah kita,” ucap sang burung kecil dengan nafas yang mulai ngos-ngosan itu.

Sang raja semakin heran. “Bagaimana bisa hei burung kamu mau padamkan api yang sudah besar itu. Dengan air tetes demi tetes yang kamu bawa lewat paruh kecilmu itu. Jangan gila kamu, cepat lari selamatkan dirimu. Itu namanya kebodohan. Bunuh diri,” teriaknya yang dibalas si burung dengan semakin cepat mengepakkan sayapnya. Pulang pergi membawa tetes demi tetes air di paruhnya untuk memadamkan api.

Si burung yang sejak berjam-jam melakukan aksinya untuk memadamkan api yang membakar seisi hutan, rumah tempat tinggalnya itu, akhirnya kehabisan tenaga dan terjatuh ke tanah yang mulai mengeluarkan uap panas. Sang raja dengan sigap membopong sang burung dan membawanya lari. Di suatu tempat yang jauh dari hutan yang kini nyaris habis dilahap sang jago api dan hanya meninggalkan puing gosong serta asap, para binatang yang selamat berkumpul. Tak terkecuali sang burung yang kondisinya semakin lemah.

“Nah di tempat itu, sang raja kembali bertanya pada perbuatan si burung itu,” ujar Gus Mas.

Harimau : “Apa sebenarnya yang kau lakukan tadi itu wahai burung? Kau yang dianugerahi sayap sebenarnya bisa secepatnya menyelamatkan diri dari api tadi. Kenapa dengan bodohnya kamu melakukan hal yang bisa membuatmu mati itu?”.

Si burung yang masih lemas, berucap : “Wahai baginda raja, apa yang saya lakukan mungkin adalah kebodohan. Karena secara akal tidak mungkin saya seorang diri memadamkan api itu dengan tetes demi tetes air yang saya bawa melalui paruh kecil ini. Tapi baginda ini adalah bagian dari kewajiban saya sebagai rahayat rimba. Untuk melindungi rumah kita semua yang terbakar itu. Tidak mungkin, saya melarikan diri tanpa berusaha sekecil apapun itu, seperti tadi, melihat rumah kita diluluhluntakan si jago merah,”.

Harimau dan binatang lainnya bengong mendengar tutur si burung yang semakin lemas itu. Mereka merasa begitu malu dan menyesal dengan sikap yang diambil tadi. Melarikan diri begitu saja, padahal mereka adalah para pejabat dan berbadan kuat. Kini, mereka hanya mampu menyesali apa yang tidak terlintas dalam pikirannya. Saat api baru membakar sebagian rumah mereka.

Sang burung kembali berucap :”Saya faham kekuatan kecil yang dimiliki, tapi selama saya bisa melakukan sesuatu dengan keterbatasan ini, maka akan saya lakukan, baginda raja. Mohon maaf kalau usaha saya tidak menghasilkan apapun. Rumah kita habis terbakar,” lirihnya sebelum mengatupkan mata untuk selama-lamanya.

“Nah, begitulah cerita sang burung. Walaupun harus mengorbankan diri, dia rela untuk mempertahankan kewajibannya. Menjaga dan melindungi rumahnya, saat penghuni lainnya yang lebih kuat malah berlarian menyelematkan dirinya masing-masing,” ujar Gus Mas yang menutup cerita tersebut dengan ucapan, “Maka selain belajar ke negeri cina menurut Kanjeng Nabi, kita juga bisa belajar terhadap para binatang,”.

*Penikmat kopi lokal gratisan 


Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah


Top