Social Media

Share this page on:

Habis Ramadhan Terbit (kah) Terang ?

19-06-2018 - 08:55
Ilustrasi (pxHere)
Ilustrasi (pxHere)

Habis Ramadhan Terbit (kah) Terang ?

*dd nana

Musuh manusia terbesar adalah dirinya sendiri. Peperangan terbesar pun adalah melawan hawa nafsu yang sejak penciptaan manusia telah dibenamkannya sedemikian rupa. Maka, Tuhan pun mengirimkan para kekasihnya ke dunia plus dengan al-kitabnya masing-masing. Sebagai ajaran, petunjuk jalan keselamatan bagi manusia itu sendiri dalam menjalankan tugasnya di dunia ini. Hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan Tuhannya, ada di berbagai kitab suci yang dibawa oleh para nabi.

Satu tahun dalam hitungan di dunia, manusia setiap detik berperang. Melawan dirinya sendiri. Dan, ada satu bulan dalam setiap tahun, manusia dikarunai ruang special oleh Tuhan dalam upayanya menuju kemenangan. Sebagai makhluk unggul dibanding dengan ciptaan-Nya yang lain. Itulah Ramadhan, bulan dimana segala kebaikan dilipatgandakan pahalanya oleh Tuhan.

Bulan dimana para setan diikat. Tapi tidak dengan hawa nafsu yang permanen tertanam dalam setiap alir darah manusia. Dalam Ramadhan inilah, kita didorong untuk lebih berani maju berperang menaklukkannya. Dengan cara berpuasa. Menghentikan sementara hawa nafsu panca indera yang selama sebelas bulan terbuka bebas.

“Lo kok sementara cak?” ujar Sokib.

Sotoy tersenyum dan menjawab, “Emang lo kira setelah ramadhan ditutup oleh Syawal, hawa nafsu lo ikut lenyap dan tidak berkembang biak lagi? Keenakan kita dong sebagai manusia kalau begono,”.

Ibarat pakaian yang dikenakan berminggu-minggu tanpa diganti, setelah dicuci sekali, apa setelah kita kenakan lagi akan terus bersih dan harum. Apakah sengat matahari, lumuran debu atau elus AC di ruangan bersih, menjamin pakaianmu tetap bersih dan harum untuk terus dikenakan?

“Yak pakaian itu gak sah di pakai lagi cak, kan beres,” ngotot Sokib.

“Trus lo kemana-mana kagak pakai baju gitu maksud lo Kib?” jawab Sotoy.

“Pakai baju lainnya kan beres. Baju lama kita museumkan dalam almari,” kejar Sokib lagi.

“Trus lo kira almari yang lo kira steril dari debu, memberikan jaminan baju yang lo simpan akan terus bersih, harum dan tidak akan apek. Trus lo kira setelah para setan diikat nih selama satu bulan dalam hitungan kalender kita, tidak geregetan untuk kembali beraksi lebih edan lagi. Trus…” akan banyak kata trus dari Sotoy kalau dituliskan. Maka saya cukupkan dialog mereka tersebut.

Ramadhan bagi saya yang keislamannya didapat dari warisan orang tua, adalah salah satu pintu. Pintu untuk menuju ruang tamu. Dimana kita dijamu oleh Tuhan secara langsung dengan menu sabar, ikhlas, tawakal. Berserah dengan kesadaran atas segala titah pemilik sekalian yang hidup dan mati di alam semesta ini. Menu paling mewah yang ada di dunia dan tentunya sangat mahal kalau kita takar dengan segala kemilau di dunia.

Ramadhan adalah dialog hamba dengan penciptanya di ruang tamu atau ruang tunggu. Nah, namanya kita bertamu dan bercakap-cakap, pasti ada usainya. Kita akan kembali menghadapi dunia di pintu berikutnya. Dunia dengan segala kompleksitasnya. Dunia yang akan terus jadi ruang kelas bagi kita semua untuk mengeja arti menjadi manusia. Maka, setelah kita selesaikan dialog dalam kunjungan kita di Ramadhan, bukan berarti di pintu Syawal, dengan bangganya kita teriakan kemenangan.

Setan akan dengan senang gembira melipatkan pasukannya untuk menggoda. Menyusup ke alir darah dan memenuhi panca indera dan sembilan lubang dalam raga manusia. Mereka akan membalikkan keadaan ke awal dengan berbagai strateginya. Mengembalikan manusia kembali ke jalan yang telah mereka pilih saat terjadi dialog antara Iblis dengan Tuhan. Jalan kegelapan. Jalan yang menghamba pada hawa nafsu yang tidak mungkin hilang dalam sejarah manusia. “Ya Tuhanku, ijinkan aku jadi penggoda manusia sampai kelak akhir dunia,”. Dan ijin itu pun diberikan oleh Tuhan kepada Iblis.

“Jadi ramadhan bukan jaminan kita menjadi manusia yang memegang tiket surga nanti yak?” tanya Sokib.

“Jaminan surga, bila puasamu untuk Tuhan. Jaminan bila setelah ramadhan usai dan kita kembali disibukkan urusan dunia, ibadahmu seperti kau beribadah di bulan ramadhan yang suci. Hawa nafsu lo taklukkan dan lo kembangbiakkan cahaya terang Tuhan dalam diri lo,” jawab Sotoy sambil menerawang jauh.

Tapi, puasa lo hanya jadi rutinitas menahan lapar dan dahaga di waktu-waktu yang telah ditentukan. Dan setelahnya kau buka jeruji penjara hawa nafsu untuk berpesta pora. Maka pertempuran kita hanyalah ibarat scene-scene dalam film. Sebuah manipulasi yang hanya menghasilkan euporia dunia semata. Setelahnya kau kembali ke masa sebelum ramadhan datang dan menyapa kita semua. Berbangga dengan kesombongan serupa Iblis dan merasa telah melakukan ibadah puasa dengan kemenangan yang dirayakan berlebih-lebihan.

Ketamakan atas dunia dengan cara mengumpulkannya dengan segala cara di bulan berikutnya yang malah semakin berlipat ganda, adalah salah satu ciri puasa kita hanyalah rutinitas saja. Sebuah kesombongan. “Kok kesombongan Cak?” tanya Sokib.

“La bagaimana tidak disebut sombong, kalau kita yang ada dari setetes mani dan ijin-Nya menjadi manusia, dengan jumawa memanipulasi Tuhan lewat ibadah. Lo kan tau tuh puasa adalah ibadah khusus yang diperuntukkan untuk Tuhan dibandingkan ibadah lainnya?” ucap Sotoy yang menyatir Firman Allah, “Puasa untuk-Ku dan aku yang akan membalasnya,”.

Pertanyaannya adalah habis ramadhan, apakah akan terbit terang dalam jiwa kita secara pribadi maupun kolektif yang disebut dengan masyarakat-bangsa ini. Masyarakat yang begitu menyambut suka cita ramadhan dengan berbagai kegiatan keagamaan. Pun, saat lebaran tiba. Luar biasa, begitulah ucap seorang bule Australia yang sempat menyaksikan dan terlibat dalam pembagian takjil di jalanan saat bulan puasa, kemarin.

Habis Ramadhan (Semoga) Terbitlah Terang.

*Penikmat kopi lokal gratisan


Pewarta :
Editor : .
Publisher : Raafi Prapandha

BERITA TERKAIT


Top