Social Media

Share this page on:

Saat Otak Orang Lain Dijadikan Tameng Perang

24-06-2018 - 09:00
Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

*dd nana

Tulisan ini terus terang tercetus dari masih banyaknya polemik mengenai cara syiar agama yang diyakini oleh sebagian orang di dalam media sosial. Media yang kini  begitu familiar dan menjadi majelis dalam mensyiarkan berbagai perbedaan pilihan yang ujungnya bukan semakin menguatkan satu sama lain. Tapi semakin memperlebar ngarai antara kedua belah pihak yang sama-sama memiliki atau tepatnya mengklaim satu kebenaran tunggal.

Ibaratnya orang-orang di media sosial, baik yang memang menjadikannya sebagai lahan dunia maupun yang hanya ikut-ikutan numpang gagah untuk menyebarluaskan sebuah paham lewat kesaktian jempol, menjadi tuhan-tuhan kecil. Pemilik tunggal kebenaran. Dan, saya atau mungkin anda, dengan tidak sopannya dijadikan keranjang sampah dari kebenaran yang dibenarkan oleh mereka. 

Misalnya, sebuah chat panjang mengenai penolakan metode syiar Islam yang dilakukan oleh golongan tertentu. Dan dengan berbagai dalil yang ada mengafirkan golongan tersebut. Di salah satu group WA yang saya miliki. Chat tersebut akhirnya mengundang balasan yang tentunya juga dengan mengedepankan berbagai dalil. Saling serang pun terjadi, padahal mereka sama-sama mengaku beragama Islam, dengan Tuhan yang sama, Nabi dan Kitab yang juga sama.

Yang satu menyatakan, tentunya dengan copas sana-sini, bahwa Islam adalah Islam. Tidak ada itu Islam nusantara. Musuh Islam jelas dan wajib diperangi. Liberalisasi dalam beragama itu telah mengotori kesucian Islam. Dan bla, bla, bla, bla lainnya. Yang intinya orang tersebut kiblatnya adalah Arab atau Timur Tengah. Padahal dari orok sampai pintar copas pemikiran yang dimungkinkan penulisnya saja dia tidak mengetahui, apalagi bertemu dan berdialog langsung, misalnya, hidup di Indonesia yang dihuni oleh berbagai suku, budaya dan bahasa berbeda-beda.

Yang satu lagi menjawabnya dengan copas sebaliknya. Bahwa Islam di Indonesia bukanlah Islam Arab atau Negara Timur Tengah yang terus bergejolak. Pemikiran liberal dalam beragama adalah keniscayaan dalam proses pencarian suatu kebenaran. Perbedaan dalam syiar Islam juga memiliki akar sejarahnya sendiri di berbagai pelosok pulau Indonesia ini.  Bla, bla, bla, bla. Intinya adalah membendung chat orang tersebut dengan menyampaikan berbagai dalil dan pendapat orang-orang yang juga mungkin secara langsung tidak dikenalnya.

“La, terus kenapa mereka bersilang pendapat? padahal agamanya kan sama?” tanya Sukro sambil menikmati rokok kreteknya yang bersanding dengan kopi tubruk racikan Ceu Imas.

“Nah itu juga yang ingin saya tanyakan Kro. Yang mereka majukan dalam perang debat tersebut juga orang-orang lain. Bukan mereka secara pribadi. BUkan pemikiran dan perenungan serta teorinya sendiri. Apa karena saking terpelajarnya mereka yang suka berdebat agama yak Kro?” jawab Sokib.

“La emang kalau sudah terpelajar setiap omongan itu harus pakai pikiran orang lain yak Kib?” lanjut Sukro.

“”Nah itu juga yang ingin saya tanyakan Kro. Apa kalau berdebat itu ada aturan wajib hukumnya pakai otak orang yak?” jawab Sokib.

Sukro dan Sokib yang hanya tamatan SD ini, saling tatap. Sebelum pecah tawa ngakak keduanya. Pasalnya (dan tanpa pake ayat apapun), di dalam isi kepala mereka berdua, secara bersamaan teringat sosok bocah ingusan. Bocah yang saat berantem dengan sesamanya akan keluar kata-kata, “Awas lo yak tak kasih tau babe gue kapok lo,”. Atau saat berdebat dan mereka kebingungan dengan apa yang akan disampaikan akhirnya berlindung kepada sosok yang diikutinya. “La kata pak kaji solawat Nabi dinyanyikan kagak dose kok. Kok lo malah nuduh itu dose. Otak siape yang lu pake,” semprotnya.

“Lo ngaji yang bener tong, orang sono kalau baca sholawat yak baca sholawat. Kagak ada itu ajaran dilagu-lagukan. Musyrik lo,” semprot bocah lainnya.

Setelah reda tawa keduanya, Sotoy yang sejak tadi diam akhirnya mengeluarkan dehem-nya. “ehem..ehem…” lantas nyeletuk, “itu debat bocah. Berapa menit selesai berselisih akan kembali bermain bersama dan tertawa lagi bareng-bareng. Ilang itu perbedaan. La kalau yang di medsos-medsos itu, tak ada matinya Kro, Kib. Terus berantem merebutkan kebenaran yang diproduksi otak-otak orang dan dipakainya sendiri,” ucap Sotoy.

“Nah itu cak. Emang mereka tidak bisa ya berdebat dengan otaknya sendiri. Dari pengalaman di lingkungan sekitarnya, misalnya. Terus mereka menganalisisnya sendiri dan disesuaikan dengan karakter sekitarnya pula. Terus lahirlah pemikiran orisinal mereka sendiri. Kok senangnya berperang tapi tameng yang dipakai otak orang yak?” tanya Sokib yang kadang-kadang terlihat cerdas dalam situasi-situasi tertentu.

Minder. 

Minder terhadap dirinya sendiri. Minder terhadap nilai-nilai luhur yang terpelihara sejak dulu. Minder dengan kemilau yang menyilaukan mata dari orang-orang lainnya. Serupa gajah di depan mata tak tampak, kecoa di ujung lautan sono terlihat gede di mata. Rasa minder inilah yang mungkin masih terus menjangkiti kita semua. 

Bahkan untuk beragama pun kita masih saja minder dengan cara orang-orang Arab atau timur tengah. Padahal mereka yang kerap berperang di medsos, boro-boro pernah hidup lama di sana.

“Beragama tapi minder ? bisa yak Cak?” tanya Sukro.

“Yak bisa saja. Contohnya yang sedang kalian omongkan itukan. Kalau tidak seperti arab cara kita beribadah salah, musyrik dan bukan golongannya. Itu kan salah satu contoh minder toh?” jawab Sotoy yang menjelaskan lagi bahwa saat kita mengalami keminderan diri, maka tertutuplah keunggulan diri kita. “Kita akhirnya menjadi budak dari keminderan diri sendiri. Segala potensi baik hilang sudah, karena parameternya ditentukan oleh orang-orang yang disilaukannya itu. Iya kalau orang itu memang benar-benar memiliki cahaya hati yang bisa menembus Arasy Tuhan, “ lanjut Sotoy.

“Lo cak ko pake bahasa Tuhan, itu salah lo, kata orang sono jangan nulis atau sebut Tuhan, tapi yang benar Allah. Sampeyan pasti sudah ternoda dengan pemikiran-pemikiran liberal ini. Sampeyan pasti mata-mata atau omongannya pasti titipan orang asing yak!,” semprot Sukro.

Sontak saja Sotoy yang tadinya kalem, nguntab emosinya. “Eh lo Kro, apa salahnya kalau aku sebut Tuhan. Kok sampai nuduh-nuduh aku antek liberal gara-gara itu. Hati-hati yak kalau bicara,” semprot Sotoy.

Dan, aku menuntaskan kopi tubruk racikan Ceu Imas, sambil tersenyum. Menyaksikan debat mereka di suatu siang.

*Penikmat kopi lokal gratisan


Pewarta :
Editor : .
Publisher : Raafi Prapandha


Top