Social Media

Share this page on:

Tirto.id Telanjangi Konten Media Lain (1)

Media Online Tirto.id Telanjangi Konten Media Lain tanpa Upaya Konfirmasi

05-07-2018 - 07:00
IIustrasi media online tirto.id
IIustrasi media online tirto.id 'telanjangi' berita media online lain (JatimTIMES)

Tirto.id ‘Telanjangi’ Konten Media Lain (1)

JATIMTIMES – Kurun waktu sekitar tiga tahun lalu sampai sekarang, penyebaran informasi di media sosial (medsos) maupun online, menjadi perhatian banyak kalangan. Dari pemerintah hingga perusahaan media online itu sendiri.

Penyebaran informasi yang masif, satu sisi menjadi ladang pengetahuan bagi masyarakat. Di sisi lain menjadi gempa dalam dunia literasi. Bencana yang membuat budaya membaca buku yang terbilang rendah bergeser cepat kepada berbagai platform medsos yang serba gegas.

Hasilnya, pergeseran literasi tersebut, telah membuat berbagai kegaduhan. Tidak hanya di dunia maya saja tapi juga ke dunia nyata.

Banyak contoh kasus dari fenomena tersebut yang didominasi informasi seputar politik dan agama. Dua ruang dialektika yang memang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Informasi yang melimpah melalui medsos, sayangnya kerap didasarkan kepada kepentingan subjektif si penulis. Subjektivitas tersebut juga seringkali ditunggangi kepentingan kapital atau politis dari penulis maupun pemilik situs di medsos maupun media online.

Pemblokiran situs website oleh pemerintah sampai pada penindakan kepada para penyebar informasi dengan dugaan hoax, ujaran kebencian, dan sara hilir mudik dan kerap di-blow-up media masa.

Proses pencegahan banjirnya informasi, baik berbentuk berita, gambar maupun video menjadi trend di zaman milinial saat ini. Bahkan, tidak hanya oleh pemerintah saja. Media pun mulai ikut serta terjun dan menelanjangi media lain yang melakukan penyebaran berita, foto, video yang terkategori hoax, atau masuk dalam kategori mixture (setengah benar, setengah salah).

Ambil contoh proses ‘penelanjangan’ oleh media online ternama www.tirto.id sejak 2016-2018 melalui beberapa berita yang diunggahnya.

Tirto.id beberapa kali mengulas secara detail berita yang dipublish oleh media online lain seperti pojoksatu.id, timesindonesia.co.id, faktakini.com, tarbiyah.net, nusanews.id, sholihah.net maupun seword.com atau dakwahmedia.co.

Berita tirto.id tertanggal 25 April 2018 yang ditulis reporternya bernama Frendy Kurniawan, “Disinformasi CSR PT Telkom untuk Gereja dan Masjid” adalah salah satu bukti proses ‘menelanjangi’ berita yang diunggah timesindonesia.co.id mengenai kebenaran tulisan tersebut.

Tirto.id dalam kasus di atas seolah bertindak sebagai seorang verifikator media online lain dikarenakan memiliki akses pada aplikasi CrowdTangle. Akses tersebut seakan memberi ‘kuasa’ kepada tirto.id sebagai pihak ketiga dalam proyek periksa fakta.

Alice Budisatrijo, News Partnership Lead Facebook Indonesia, seperti dilansir dalam setiap pemberitaan tirto.id mengenai hal tersebut, menyatakan, alasannya menggandeng Tirto dalam program third party fact checking network, dikarenakan satu-satunya media di Indonesia yang telah terakreditasi oleh International Fact Checking Network.

Proses ‘memblejeti’ berita situs www.timesindonesia.co.id yang disimpulkan menyebarkan disinformasi dalam berita yang dibuat secara berseri soal CSR PT Telkom dari tanggal 19 April - 22 April disebut tirto.id sebagai disinformasi yang dilakukan secara telanjang.

Berita timesindonesia.co.id yang kemudian diolah oleh faktakini.com dan diduplikasi oleh tarbiyah.net dan nusanews.id  serta sholihah.net serta diamplifikasi dua akun medsos milik tokoh publik, yaitu Hidayat Nur Wahid dan Cholil Nafis dinilai oleh tirto.id sama sekali tak memberikan konteks yang terang perihal isi berita yang membuat heboh berbagai kalangan.

Kesimpulannya menurut tirto.id, berita atau artikel di atas menghilangkan konteks yang membuat perbandingan CSR PT Telkom untuk masjid dan gereja menjadi tidak tepat.

Tirto.id yang diklaim sebagai media pemeriksa fakta bagi media lain tersebut, terkesan ganjil dalam menyikapi berita timesindonesia.co.id.

Bila dibandingkan dengan pihak lain yang secara tersurat dalam kasus berita tersebut dilakukan proses konfirmasi dan klarifikasi. Baik terhadap cuitan akun Twitter Cholil Nafis, Hidayat Nur Wahid maupun pada pihak PT Telkom sendiri.

Dalam berita tersebut, tidak tercantum adanya suatu konfirmasi dan klarifikasi atas berita yang ditulis oleh timesindonesia.co.id.

Hal yang mirip, terjadi juga dalam proses penelanjangan kepada media online lain seperti seword.com dalam berita Cerita di Balik Situs Postmetro dan Seword.

Tirto.id sebagai media pemeriksa fakta tersebut mengupas berita-berita yang dilansir oleh dua media online tersebut. Bedanya, redaksi seword.com melakukan reaksi dengan melayangkan surat keberatan atas laporan tersebut.

Banyak contoh lainnya, saat tirto.id ‘menelanjangi’ berita-berita yang dipublish oleh media online lain. Lepas sebagai media pemeriksa fakta yang diklaim memiliki kewenangan melakukan hal tersebut, tentunya proses konfirmasi dan klarifikasi sebagai bagian dari kode etik jurnalistik seharusnya tidak boleh diabaikan.

Apalagi media yang di-belejeti juga bukan media abal-abal seperti timesindonesia.co.id dan media online  lain yang berbadan hukum dan resmi tercatat di dewan pers.

Lantas, bagaimana reaksi dari beberapa media online yang beritanya ditelanjangi oleh Tirto? Atau bagaimana tanggapan dari Dewan Pers terkait dengan ‘kuasa’ bagi sebuah media untuk ‘menelanjangi’ media lain?. Bagaimana pula upaya konfirmasi terhadap penanggungjawab dan Pemimpin Redaksi media online tirto.id?

Media Online JatimTIMES.com akan mengupasnya dari beberapa sudut pandang dari para pelaku media tersebut secara berseri. Selamat membaca.


Pewarta : Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha


Top