Social Media

Share this page on:

Diam-Diam Kita Haus Menonton Kekalahan Orang Lain

12-07-2018 - 08:09
Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

*dd nana

Sumpah,  hidup akan boring banget kalau setiap saat mata kita hanya melihat sorakan kemenangan. Baik yang kita lihat di dunia nyata maupun dunia maya. 

Bayangkan,  kehidupan yang hanya diisi sorak-sorai,  tepuk tangan,  rangkulan kegembiraan. Semua manusia saling bertukar cerita kemenangan. Dan itu terjadi setiap hitungan waktu selama 24 jam. Dan besoknya berulang dalam gelombang yang sama. 

Sudah Anda bayangkan prosesi dan ritual rutinitas  berulang-ulang tersebut? 

Jangan berharap juga dunia paling ramai saat ini,  yaitu medsos,  akan ada saling serang para nitizen. Saling bully, saling membolak-balik fakta dan data. Tidak akan ada pembenci atau pecinta di medsos berjenis apa pun. Yang parah, tidak akan ada doa dari makhluk bernama manusia.

"Lo kok bawa-bawa doa segala, Cak? Emang kalau dengan kondisi begitu,  doa akan menghilang?" tanya Sukro. 

"Lo bukannya kita terbiasa kalau berdoa itu pasti ada maunya. Mau kaya,  mau selamat,  mau sehat,  mau surga dan mau-mau-mau lainnya. Kalau sudah setiap waktu kita menang,  merayakan kegembiraan, tidak punya rasa susah. Kamu masih tetap berdoa? " balas Sokib yang membuat Sukro berpikir keras. 

Nah,  Anda sudah bisa bayangkan kondisi darurat di dunia apabila tidak ada rasa sakit,  tangisan, kelaparan,  kemiskinan dan kerabatnya semua. Bisa Anda bayangkan, para koruptor dan yang bercita-cita jadi koruptor kelak kalau sudah menggenggam kekuasaan, melarung semua hasrat korupsi ke laut selatan. Ah,  betapa sepinya KPK. Bahkan bisa-bisa tutup lembaga anti-rasuah itu. 

Lebih kasihan lagi iblis beserta keluarganya. Mereka tidak bisa menunaikan janjinya kepada Allah untuk menggoda anak-anak Adam sampai akhir tutup zaman. 

"Lo ko bisa Cak malah mengasihani iblis dan keluarganya? " tanya Sukro lagi. Sokib menjawab, "Pikir aja sendiri Kro. Kalau manusia sudah tidak hasrat pada dunia. Saat manusia sudah serupa hidup di surga. Terus peran Iblis apa kalau sudah gitu. The end Kro,". 

Sukro kembali berpikir keras. "Tapi kok kita malah membicarakan hal ini yak? Eh,  jangan-jangan ini pencucian otak darimu ya Cak. Agar saya  hidup harus ada sedihnya,  nangisnya,  terlukanya,  ngamuknya. Iya ya Cak,  begitu kan?"

Sokib yang kini berpikir. Dia tetiba mengingat cerita kuno zaman Yunani. Tentang seorang manusia yang dihukum para dewa gegara mencuri cahaya. Sisipus namanya. Lelaki yang dihukum para dewa untuk mendorong batu besar dengan rantai terikat di tangan dan kakinya. Sisipus mendorong batu itu naik ke bukit. Setelah sampai dia juga mendorongnya lagi ke bawah bukit. Terus berulang-ulang. 

Sudah bisa Anda bayangkan bagaimana hidupnya si Sisipus? Yang setiap hari menjalankan hukuman yang sama sampai mati. Hidup yang hanya memiliki satu warna. Apa pun warna itu. Mau biru,  merah,  kuning, hijau atau apa saja. 

Ada kejenuhan akut menjalani hidup yang satu warna. Tidak kuat-kuat diri,  ujungnya bunuh diri. 

"Oh,  jadi kalau para politikus gonta-ganti baju partai. Gegara jenuh juga ya Cak?" tanya Sukro yang dijawab Sokib, "Gundulmu,  kasih contoh yang nyerempet-nyerempet danger aja,". 

Sokib juga tetiba teringat sosok Thanos dalam film superhero Marvel. Tokoh antagonis yang menghabisi para superhero yang selalu menang dalam cerita. Dia berpikir, "Ini mungkin agar kejenuhan bisa diobati. Kalau para pahlawan menang terus di setiap akhir cerita,  lama-lama yang nonton boring. Kali-kali perlu mereka kalah juga. Menangis, frustrasi, dan terkapar,". 

Agar penonton juga dilunaskan akan dahaga di sisi jiwanya. Bahwa sejago-jagonya kelompok superhero,  wajib hukumnya merasakan kekalahan. 

"Wih psikopat nih lama-lama kamu cak. Kok malah berasumsi begitu toh. Kok malah seneng kalau kebaikan kalah dari kejahatan. Eling Cak,  eling... " cemas Sukro. 

Sokib dengan enteng menjawab, "Emang kamu tidak suka melihat orang menderita sesekali Kro. Ah,  munafik lo Kro,". Sokib mencontohkan,  ada orang tabrakan di jalan raya,  kita bukannya tangkas menolong,  malah memotretnya duluan. Setelahnya di unggah ke medsos. 

Ada orang yang akan kembali ke jalan yang benar,  kita cemooh dengan berbagai prasangka. Gegara dulunya orang tersebut,  menurut kita orang tidak benar. Tetangga lagi megap-megap dililit hutang dan kita tahu mereka sedang susah,  kita malah memborong belanjaan yang terkadang tidak semuanya adalah kebutuhan dasar manusia. 

"Yang parah nih di medsos. Ada orang yang sedang menderita banget terus melampiaskannya di medsos,  malah dikasih jempol. Parah kan itu?" ujar Sokib. 

Bahkan,  lanjutnya,  ada teman kantor yang bahagia karena prestasinya diapresiasi pimpinan. Kita malah sakit dan uring-uringan. "Harusnya gua tuh yang naek jabatan. Si anu kan tidak bisa ape-ape. Dasar penjilat deh si anu itu," lantas disharenya tuh foto si teman ke medsos dengan embel-embel kata yang menohok ulu hati. 

Artinya,  lanjut Sokib,  kita itu tuh diam-diam sebenarnya punya potensi jadi psikopat. Senang melihat orang susah,  kalah sampai terbenam dalam-dalam. Pokoknya yang menderita dan ngeri-ngeri yang terjadi pada orang lain,  kita bersorak. Bahkan sekarang tidak diam-diam,  langsung kita ekspresikan rasa dahaga tersebut. Walau hanya lewat medsos. 

"Nah saking kreatifnya orang-orang hollywood sono,  rasa dahaga untuk melihat manusia lain kalah dan menderita, bahkan yang terjadi pada sosok superhero sekalipun, ditampilkannya dengan mewah dalam film," kata Sokib. Hasilnya manusia-manusia berbondong-bondong antri menontonnya. Uang pun mengalir ke saku mereka. 

"Rasa sakit jadi komoditi ya Cak? Menarik juga. Yuk kita buat juga yang seperti itu cak. Jenuh saya jadi manusia bokek melulu, padahal disekeliling kita banyak orang yang menderita dan bisa dijadikan uang banyak," ujar Sukro yang dibalas Sokib, "Gundulmu kudisan Kro."

*Penikmat kopi lokal gratisan


Pewarta :
Editor : .
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

TAG'S


Top