Social Media

Share this page on:

Dari Genangan ke Taman Kota*

05-06-2015 - 19:54
Prototype dari Rangkaian sistem DSS (Foto: istimewa/malangtimes)
Prototype dari Rangkaian sistem DSS (Foto: istimewa/malangtimes)

Indonesia memiliki curah hujan tinggi sepanjang tahun, yakni 2.000 – 4.000 mm per tahun. Rata-rata hujan tahunan sebesar 2.779 mm, membuat Indonesia masuk lima besar negara kaya air di dunia.

Namun kenyataannya, keadaan Indonesia sangatlah menyedihkan. Melimpahnya air ini sama sekali tidak berpengaruh pada keadaan masyarakat, lingkungan, dan sosial di Indonesia. Seperti halnya pengairan taman kota, di Indonesia masih banyak taman kota tidak disirami dengan air bersih.

Hal ini karena diperlukan anggaran biaya sangat besar untuk menyirami taman kota. Selain itu, krisis air bersih juga menjadi salah satu penyebabnya. Padahal jika dilihat dari manfaatnya, taman kota selain sebagai elemen estetika ruang kota, juga berfungsi sebagai elemen ekologi dan pengatur iklim mikro.

Vegetasi dalam lahan taman berguna menyerap zat beracun di udara akibat pembakaran dan asap kendaraan bermotor, dan menyerapkan air ke dalam tanah, serta sebagai fasilitas sosial masyarakat.

‘Kemanakah lalu hilangnya air yang menjadikan Indonesia sebagai negara nomor lima terkaya di dunia?’. Inilah yang selalu ada dalam benak kami. Indonesia negara dengan kekayaan air melimpah ruah harus menanggung berbagai permasalahan akibat krisis air. Miris sekali bukan?

Akan tetapi, setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata air  melimpah terbuang percuma tanpa penanganan atau sekadar pemikiran untuk menangani. Dalam Amriawan (2010), sekitar 50 persen lebih dari rata-rata hujan tahunan menjadi air limpasan (run off) yang terbuang percuma, dan sampai saat ini belum ada penanganan khusus untuk mengatasi hal tersebut.

Atas dasar itu tim kami dari Universitas Brawijaya Malang mencetuskan sebuah inovasi terbaru sebagai solusi pemecahan masalah tersebut. Sebuah sistem yang kami beri nama: DSS (Drain, Sand Filter, Sprinkler Irrigation).

Sistem DSS ini merupakan serangkaian alat untuk mengatasi genangan air di jalan raya. Dimana air limpasan jalan raya yang masuk ke saluran drainase ditampung pada sumur tampungan sementara, kemudian dilakukan penyaringan pada air genangan menggunakan sand filter untuk meningkatkan kualitas air menjadi air untuk tanaman. Setelah kualitas air meningkat, air ditampung pada sumur resapan yang kemudian dipompa dan masuk ke sprinkler yang sudah diletakkan di taman kota untuk pengairan.

Penggunaan sistem ini sangat efisien, karena memerlukan daya hanya pada proses pemompaan. Pada serangkaian alatnya tidak memerlukan daya apapun, karena pengaliran air dari satu alat ke alat lain menggunakan gravitasi. Sehingga, dapat menekan APBD untuk pengairan taman kota. Tidak hanya untuk anggaran biaya daerah, pemanfaatan air limpasan ini dapat dirasakan masyarakat dikarenakan air genangan di jalan raya sedikit banyak akan berkurang, sehingga akan memberi kenyamanan bagi pengguna jalan.

Selain itu, air yang dihasilkan merupakan air bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tidak hanya untuk penyiraman taman kota. Saat ini sistem DSS berpotensi  mendapatkan hak paten dan akan dipresentasikan oleh tim kami untuk monitoring dan evaluasi Dikti pada 10 Juni 2015.

 


Pewarta : Rochmat Shobirin
Editor :
Publisher :


Top