Social Media

Share this page on:

Lewat Buku, Mantan Menteri Ini Cerita Blak- blakan

19-09-2016 - 09:31
Pengarang buku Sepanjang Jalan Kenangan bekerja dengan tiga tokoh bangsa berbeda (Foto: Anggara Sudiongko/ MalangTIMES)
Pengarang buku Sepanjang Jalan Kenangan bekerja dengan tiga tokoh bangsa berbeda (Foto: Anggara Sudiongko/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Perpustakaan UB (Universitas Brawijaya) bersama tokoh pengarang buku Sepanjang Jalan Kenangan, Wardiman Djojonegoro mengadakan bincang buku sambil ngopi serta berbagi pengalaman dan kunci kesuksesan di ruang pertemuan Perpustakaan UB, Minggu (18/09/2016).

Dalam diskusi serta sharing tersebut, ada pemateri lainnya yang juga memberikan tanggapan tentang buku Sepanjang Jalan Kenangan yakni, Fachrizal Afandi Ph. D Cand. dari Van Vollenhoven Institute, Faculty of Law Universiteit Leiden dan merupakan dosen fakultas Hukum UB serta Dosen Komunikasi UB Megasari Noer Fatanti.

iklan

Wardiman Djojonegoro yang juga merupakan mantan Menristek serta Mendikbud di era BJ Habibie dan Soeharto ini mengisahkan dalam buku itu. Bagaimana pengalaman dirinya saat bekerja diantara tokoh yang berbeda dan karater yang berbeda yakni Ali Sadikin yang merupakan mantan Gubernur Jakarta, BJ.Habibie yang merupakan mantan presiden ke 3 dan Presiden Soeharto yang merupakan presiden RI ke 2.

Dalam bukunya, ia banyak ngomong blak- blakan tentang pejabat-pejabat titipan di masanya, seperti ia mencontohkan dalam bukunya, seperti peristiwa di Surabaya, bahwa banyak pejabat-pejabat titipan.

“Dulu masih bisa dipilih-pilih yang mana yang layak dan yang mana yang tidak, yang tidak masuk yang tidak diangkat. Kalau untuk sekarang sulit sekali karena banyak terjamah politik, kalau dulu masih bisa,” beber Wardiman yang juga pernah menjadi ketua dari Putri Indonesia ini.

Selain itu ia juga bercerita tentang pendidikan masa sekarang bahwa secara prinsip pendidikan kita sudah jalan, namun semua tergantung daerah masing-masing untuk menjalankannya. Selain itu juga terkait perlindungan guru karena semua mengacu pada UU HAM, padahal dalam tujuannya adalah melakukan pembinaan untuk kedisiplinan, maka peraturannya harus diubah.

“Guru nyubit muridnya sudah dilaporkan, padahal tujuannya adalah untuk kebaikan bukan untuk menyakiti, itulah yang harus diperjuangan,” ujarnya.

Ketika ditanya pada masa pemimpin siapa yang menurutnya sangat berarti dan menarik baginya, ia tidak bisa menjawab, karena pada masa itu semua punya arti masing-masing dan sulit ketika harus dibandingkan.

“Wah kalau yang paling menarik ya semua punya pengalaman masing-masing tidak bisa dibandingkan. Pak Ali Sadikin, saya kagum dimana seorang Mayor jendral punya visi harus mengayomi masyarakat tidak menerapkan visi militer saat itu, Pak Habibie saya kagum ia ingin membangun bangsa melalui Iptek yang berkembang, sedangkan untuk Pak Harto saya banyak sekali pengalaman, namun ya sedikit rumit,” pungkasnya. (*)


Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Adek Alfian Jaya

Top