Social Media

Share this page on:

Lebih Baik Buta Mata Daripada Meminta-Minta

11-12-2016 - 11:55
Budiono (56) pengamen tuna netra yang pantang meminta-minta (11/12)
Budiono (56) pengamen tuna netra yang pantang meminta-minta (11/12)

MALANGTIMES - "lebih baik buta mata dan kututup telinga- dari pada harus menanggung luka dalam dada-diriku kini bagai kayu yang rapuh,". Lirik lagu Lebih Baik Buta Mata-nya Caca Handika ini mengalun dari mulut tua Budiono (56) di Jembatan Pom Bensin Talangagung Kepanjen.

Lirik lagu tersebut serupa dengan kondisi Budiono, pengamen tua tuna netra warga Kepanjen yang beralamat di sekitar Jalan Panji Kepanjen Kab. Malang.

iklan

"Lagu ini cocok dengan kondisi saya. Walau saya buta saya pantang meminta-minta, isin. Makanya saya ngamen lagu saja," kata Budiono dengan logat jawa malangannya kepada MALANGTIMES, Minggu (11/12).

Kondisi fisiknya yang ringkih serupa lirik lagu yang didendangkan "bagai kayu yang rapuh" dan tuna netra, tidak membuatnya menyerah menjalani kehidupan yang semakin keras. 

"Sabar dan ikhlas itu pegangan saya mas. Gusti Allah tidak sare, selama makhluknya berusaha," ujarnya sambil sesekali mengecil-besarkan volume soundsystem mininya.

Budiono telah hampir 10 tahun mengamen di berbagai pom bensin di wilayah Kepanjen, Bululawang, Pakisaji dan Turen. Dengan bersila dan ditemani soundsystem mini, kotak uang dan secangkir kopi, Budiono bernyanyi lagu-lagu dangdut menghibur para pengendara.

Panas dan hujan tidak membuatnya mengeluh. Budiono yang mengamen dari jam 07.00 WIB sampai jam 15.00 WIB mengatakan bahagia dengan hidup yang dijalankannya.

"Berapapun uang yang didapatkan, saya selalu bersyukur. Itu resep hidup yang membuat tubuh ringkih saya sehat walau berpanas-panas dan kehujanan. Bahagia hati," ungkap Bapak dari tiga orang anak yang kini hidup sendirian ini.

Dia juga mengatakan bahwa anak-anaknya memang seringkali melarang, tetapi rasa malu harus mengandalkan pemberian membuatnya terus mengamen.

"Selama saya sehat, saya isin menerima bantuan uang walau dari anak sendiri. Apalagi misalnya harus meminta-minta kepada orang lain. Jadi pengemis gitu," ujarnya yang memilih mengamen sebagai profesinya kini.

Setiap hari Budiono mampu menyambung hidupnya lewat lagu-lagu dangdut yang sumbang dinyanyikan mulut tuanya. Pemberian para pengendara yang lewat, terkadang ikut duduk dan bernyanyi bersamanya, lebih dari cukup buat Budiono.

"Saya tidak tahu berapa uang yang saya dapatkan, mas. Tetapi saya bisa makan dan bayar ojek yang setiap hari antar jemput saya ke tempat ngamen," ujar Budiono yang kembali mendendangkan lagu Gelandangan-nya Rhoma Irama.


Pewarta : Dede Nana
Editor :
Publisher : Aditya Fachril Bayu

Top