Social Media

Share this page on:

Ternyata 68 Persen, Manager Perusahaan Menerima Pelamar Kerja Berdasarkan Sikap di Sosial Media

27-12-2016 - 18:41
Ilustrasi wawancara kerja antara manager dengan pelamar kerja. (foto: istimewa)
Ilustrasi wawancara kerja antara manager dengan pelamar kerja. (foto: istimewa)

MALANGTIMES - Bagi Anda yang ingin melamar pekerjaan di sebuah perusahaan, Anda harus memperhatikan saat melakukan wawancara dengan manager perusahaan tersebut.

Apalagi, di era sosial media seperti sekarang ini, perusahaan tidak hanya mengandalkan CV, wawancara dan psikotes saja untuk merekrut karyawan baru. Namun manager memiliki cara pendang sendiri untuk menilai dan menentukan apakah pelamar benar-benar layak bekerja atau tidak.

iklan

Berdasarkan hasil studi dari Reppler yang melibatkan 300 manajer sebagai responden. Ternyata, sebanyak 68 persen manajer mempekerjakan seseorang berdasarkan perilakunya di sosial media. 
Seperti, aktivitas Anda di Twitter, Facebook maupun sosial media lainnya juga bisa menjadi pertimbangan.

Tercatat, sebanyak 39 persen manajer menerima seseorang bekerja sebagai karyawan karena melihat kesan positif terhadap kepribadian si pelamar kerja yang dilihatnya dari sosial media. 
Serta 36 persen manajer yang menerima pelamar karena profil mereka di sosial media sesuai dengan kualifikasi secara profesional. Lalu, 34 persen memilih pelamar jadi karyawan karena respon yang positif dan baik dari teman-temannya di akun sosial media.
Tak jarang bagian personalia mengurungkan niat untuk mempekerjakan pelamar meskipun CV dan hasil tes serta wawancara bagus. Personalia juga melihat perilaku mereka yang dianggap kurang pantas. 
Anda bisa mengambil contoh kasus Pandu Wijaya, karyawan PT Adhi Makmur yang mendapat teguran keras dari perusahaannya karena dianggap telah menghina ulama ternama KH Mustofa Bisri atau Gus Mus di Twitter. Lewat cuitannya Adhi mendapat surat peringatan dan nyaris dipecat.


Peristiwa yang menimpa Adhi bisa dijadikan contoh bahwa aktivitas di sosial media dan internet sangat berdampak pada kemajuan karier seseorang. Termasuk menentukan nasib apakah Anda bisa diterima kerja atau tidak. Jika tidak ingin berlama-lama jadi pengangguran, sebaiknya hindari tiga perilaku sosial media ini.
Pertama, jangan mempromosikan diri berlebihan. Seperti Miriam Salpeter, penulis Social Networking for Career Success menyebut perilaku ini termasuk salah satu yang terburuk dalam dunia online khususnya sosial media. Saat memposting sesuatu di blog atau update status sosial media, sebaiknya tidak semua postingan selalu mengenai diri Anda.
"Seimbangkan isi postingan Anda dengan misalnya kelahiran anak seorang teman atau kerabat, share berita yang inspiratif maupun sedang viral (dengan tetap memerhatikan sumber berita yang kredibel). Bisa juga, memperlihatkan kebaikan seseorang," katanya. 
Dengan begitu Anda tidak akan terlihat seperti orang yang egois tapi juga memerhatikan sekitar. Postingan yang bervariasi juga akan membuat akun sosial media Anda lebih menarik dan follower atau teman pun semakin bertambah.
Kedua, jangan terlalu banyak mengumbar foto tak pantas. Mungkin Anda ingin memamerkan foto liburan di pantai yang indah saat berbikini. Atau ketika Anda berpesta di klub dengan gaun seksi. 
Hal itu sah-sah saja, namun harus batasi. Satu atau dua foto seksi mungkin tidak menjadi masalah. Tapi berpuluh-puluh foto yang diposting di Instagram atau Facebook?. Perusahaan bisa saja menganggap Anda orang yang suka mencari perhatian atau pamer. 
Hal yang sama juga berlaku saat memperlihatkan kemesraan dengan kekasih atau suami. Foto-foto yang terlalu mesra sebaiknya tidak perlu diunggah di sosial media. Seperti dikutip dari Real Simple, beberapa foto sebaiknya cukup dinikmati diri sendiri atau pasangan. Anda juga tidak perlu memamerkan semua kehidupan Anda di sosial media.
Ketiga, jangan sering mengeluh di sosial media. Alangkah bijaksanannya jika Anda curhat masalah pribadi hanya kepada orang-orang terdekat. Bukan di ranah publik khususnya sosial media. 
Keluh kesah boleh saja dilontarkan di social media, tapi jangan jadikan itu sebagai postingan rutin. Perusahaan akan menganggap Anda sebagai orang yang senangnya berkeluh kesah dan bukan tidak mungkin kejelekan perusahaan juga Anda bagikan ke setiap orang.


Pewarta : imam syafii
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Top