Social Media

Share this page on:

Serial Puisi 0

18-03-2017 - 15:00
Ilustrasi puisi 0 (istimewa)
Ilustrasi puisi 0 (istimewa)

*dd nana

 

iklan

Saat Mesin Bertanya dan Kita Sibuk Mencatat Luka

1

Tentang rasa yang menggelinjang. Awalnya, entah. Karena pengetahuan belum mampu merengkuh makna benda-benda.

bahkan, jejaringan tubuhnya yang telanjang, tak menjadi makna apa-apa.

Tentang rasa yang menggeliat, diciptanya kembaran, syahwat yang kuat. 

Sabda-Nya : jauhi bayang rindang dan segarnya buah yang menggelayut indah;

dan, atas titah yang tidak dilisankan, rasa yang entah, rindang ranjang yang mengundang dan kilau buah yang telanjang; kita merayakan kemanusiaan.

Rasa berkarib syahwat.

pengetahuan dibukakan dan kita diberi kuasa, mengelola sesuatu yang asing.

Perpisahan.

2

aku menunggumu.

di bawah rimbun saga yang dulu kita tanam bersama. 

lihatlah, nama kita masih lekat di kulit rasa. begitu merah, sayang.

meski terkadang kita memercikkan warna lainnya.

Hujan, mungkin sebentar lagi turun tapi rindu telah memayungiku, cinta.

aku menunggumu. karena rindu meminta ruang dan di bawah rimbun saga ini, kuguratkan aksara baru

cinta.

3

di suatu titik. kenangan, masa lalu yang dirakit getah purba, melahirkan dirinya sendiri. menelanjangiku.

begitukah rupa rindu, kekasih? layak secangkir kopi di pagi hari. 

di suatu titik. aku terkenang puisimu tentang kopi dan teh. kenangan membawaku untuk menelaah ulang raut wajahmu.

masihkah tirus seperti dulu?

di suatu titik. aku mengulang setiap hela nafas kenangan...

4

hati adalah padang ilalang. ruang menampung segala jejak. ia tidak mencari, menterjemah paksa, membuat cerita; tentang adanya.

ia adalah semesta yang merunduk yang memberikan makna pada segala jejak. 

tapi, kekasih, percayalah tidak semua jejak, lekat membekas menjadi symponi. hanya jejak yang diasah kasih. jejak yang memberi ruang nafas, yang akan membuat hati bercerita dengan riang.

5

namaku tidak lagi merah.

getah rindu telah merobeknya. menggenapi. memberi ruang untuk kembali membaca akar diri.

kaulah, kekasih, yang datang dengan derap rindu, dari masa yang tak mungkin kita gapai kembali.

memberiku nama baru peristiwa baru menuntaskan dalam suatu tanda akan cerita yang terlepas sekian waktu.

aku, mengkhidmatinya, cinta.

 6

lelaki itu masih menatap langit yang sempurna terbakar.

senja. tidak ada angin, sayang.

deru yang mengibaskan ragumu, adalah titik-titik rindu. dan, ijinkan aku lirihkan bahasa ini.

di ulir telinga indahmu di pori-pori tubuhmu yang menguarkan aroma ilalang senja hari.

'apa yang kau cari dari tubuh letih ini? 'tanyamu, serapuh senja.

7

lelaki itu masih mengaduh. mencipta tanda. mewartakan rahsa.

dan kau? masihkan segelisah dulu ditikam waktu dan peristiwa.


Pewarta : MALANGTIMES
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Top