Social Media

Share this page on:

Dimulainya Revolusi Mental Kota Malang (1)

Revolusi Mental dari Kawasan Kumuh, Preman Jadi Guide Wisata

24-03-2017 - 17:43
ilustrasi
ilustrasi

MALANGTIMES - Revolusi mental yang didengungkan Presiden Joko Widodo, hingga saat ini masih banyak menuai perdebatan.

Karena konsep revolusi mental Jokowi masih ada di awang-awang. Namun, di Kota Malang ini, revolusi mental bisa dilakukan dengan cepat.

iklan

Dan uniknya lagi, revolusi mental ini dilakukan di kawasan kumuh. Di Kota Malang ini sudah ada tiga kawasan kumuh yang bisa berevolusi mental dengan sangat cepat.

Kawasan kumuh di Kelurahan Jodipan, Ksatrian, serta Klojen yang awalnya menjadi area zona merah, kini berubah menjadi destinasi wisata.

Dulu dikatakan zona merah, karena tiga kawasan kumuh tersebut bisa dibilang menjadi salah satu pusat kejahatan di Malang. Polisi pun seolah enggan masuk ke kawasan tersebut.

Mabuk, perjudian, dan bentuk kejahatan lainnya sudah lazim terjadi di tiga tempat itu. Bisa dibilang, tiga kawasan itu dulunya merupakan salah satu pusat pemasok preman.

Namun, hanya dalam waktu relatif cepat, dengan penanganan yang efektif, kawasan kumuh zona merah tersebut kini menjadi objek wisata. Orang yang awalnya takut masuk tiga kawasan tersebut, kini justru malah mendatanginya.

Kampung kumuh Jodipan kini berubah menjadi Kampung Warna Warni. Semua rumah di kawasan tersebut dicat dengan warna-warni. Sehingga kampung yang ada di bantaran Sungai Brantas tersebut terlihat indah.

Area kumuh di Ksatrian diubah menjadi Kampung Tiga Dimensi (3D). Dinamakan Kampung 3D karena di setiap rumah di kawasan tersebut ada lukisan yang seolah-olah muncul atau yang dikenal dengan gambar tiga dimensi.

Sedangkan di kawasan Kumuh Klojen, kini diubah menjadi kampung putih. Semua rumah di kawasan tersebut dicat putih. Kawasan-kawasan yang awalnya kotor tersebut kini berubah menjadi bersih dan enak dipandang mata.

Hasil penanganan kawasan kumuh yang awalnya diinisiasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan kemudian dilanjutkan oleh Pemkot Malang tersebut, tak hanya membuat indah. Kini, tiga kawasan tersebut berevolusi menjadi destinasi wisata.

Keunikan tiga kampung tersebut menarik minat warga Malang untuk mengunjungi kawasan tersebut. Dan hanya dalam waktu yang singkat, dengan kemajuan teknologi online, berita keunikan tiga kampung kumuh tersebut menyebar ke seantero Indonesia dan dunia.

Kampung kumuh Jodipan, Kstarian, dan Klojen yang ketiganya berada di bantaran sungai, kini sudah menjadi jujugan wisata domestik dan mancanegara. Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke tiga kawasan tersebut rupanya membuat masyarakat mengalami perubahan mental yang cukup cepat.

Cara hidup masyarakat setempat juga berubah. Dulu, warga asing masuk kawasan tersebut selalu diawasi dengan penuh kecurigaan dan tatapan sangar. Kini warga asing disambut ramah dengan penuh senyum.

Jangan heran, jika di tiga kampung tersebut, pengunjung mendapati banyak pria bertato yang menyapu kotoran. Karena memang awalnya mereka dulu adalah preman. Tapi, kini mereka berubah menjadi guide atau pemandu wisata bagi kampungnya.

Perubahan mental masyarakat inilah yang kini akan diusahakan Pemkot Malang di beberapa titik kawasan kumuh. Kawasan yang dulunya dipandang sebelah mata, kini mampu tampil mengejutkan dunia.

Saat ini di Kota Malang ada 29 kawasan kumuh dengan total luasan sekitar 600 hektare tersebut. Wali Kota Malang Moch. Anton sendiri cukup kaget dengan adanya perubahan mental yang dialami warganya.

Bagaimana cerita fakta dan berita revolusi mental di kampung kumuh dari berbagai sisi akan dibahas secara tuntas dalam serial tulisan Dimulainya Revolusi Mental di Kota Malang.

 

Pewarta : Imam, Anggoro, Hendra
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher :


Top