Social Media

Share this page on:

Dimulainya Revolusi Mental Kota Malang (4)

Pemuda Kampung Warna-Warni Tepis Anggapan Miring dengan Kreativitas

24-03-2017 - 19:39
Syaiful paling kiri bersama rekannya di depan gang Kampung Warna Warni (Hendra/MalangTIMES)
Syaiful paling kiri bersama rekannya di depan gang Kampung Warna Warni (Hendra/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kampung kumuh dinilai sebagian orang tidak bisa berkembang lantaran sumber daya manusia yang terlampau rendah. Namun hal itu tidak berlaku untuk RW 02 Kelurahan Jodipan yang sekarang menjadi Kampung Warna-Warni.

Sebelum menjadi kampung yang dikenal oleh banyak orang, RW 02 Kelurahan Jodipan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Karena letak goegrafis yang berada di sebelah Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

iklan

Berkat kerja keras dan berfikir yang sangat cerdas, akhirnya pemuda Kampung Warna-Warni menuai hasil yang telah ia perjuangkan dengan memberi warna pada seluruh sudut kampung dengan corak berbagai macam gambar dan warna.

Namun hal itu tak lepas dari peran Pemerintah Kota Malang yang mendukung penuh kampung tematik itu. Hal itu sekaligus menjadikan mental pemuda dan masyarakat berubah dengan seketika.

Salah satu pemuda yang bertugas menjaga parkir motor, Syaiful (24) mengatakan saat ini ia dan juga rekannya sangat bangga dengan kampungnya yang setiap hari bisa dikunjungi oleh orang.

Bahkan, Pemerintah Kota Malang sangat mendukung kreativitas yang ditunjukkan oleh warga Kampung Warna-Warni sehingga dapat mengangkat Kota Malang menjadi lebih baik.

"Perubahannya sekarang ya cukup meningkat mas, sejak kampung kita kayak gini. Dulu anak-anak ya ngamen (jadi pengamen, red), nyepek (jadi polisi cepek, red) di perempatan sini. Apalagi dulu kampung sini hanya terlihat dari atas kayak gitu, sekarang sudah berubah," ujar Syaiful sembari menata motor.

Syaiful menambahkan, perubahan yang terjadi kepada kampungnya sangat berimbas ke finansial yang masuk untuk warga dan juga dirinya.

"Sekarang kenakalan juga berkurang, karena kan kita sudah punya kegiatan ini. Dan lagi teman-teman rata-rata juga sudah berkeluarga, jadi sekarang berfikir untuk cari uang," katanya sembari senyum.                        

Tumbuhnya kreativitas para pemuda dengan mengubah kampungnya menjadi destinasi wisata terbukti telah membuat kagum para wisatawan dari berbagai daerah.

Contohnya, Dede, mahasiswa Universitas Jember (Unej).  Mahasiswa asal Bengkulu, Sumatera Barat ini menyempatkan waktunya hanya karena penasaran ingin melihat bagaimana Kampung Warna-Warni itu.

Dia datang ke Kampung Warna-Warni ini bersama empat mahasiswa lainnya. Para mahasiswa semester akhir itu mengaku sangat respect dan kagum dengan keberadaan kampung tematik di dekat daerah aliran sungai (DAS).

"Tidak terfikirkan saja mas sebelumnya kalau ada kampung yang bisa kayak gini. Kan biasanya kalau kampung-kampung yang rapet gini kesannya seperti kumuh, tapi setelah dibikin kayak gini ya ternyata hebat jadinya. Saya respect banget mas sama warga sini," kata Dede.

Keingintahuan mahasiswa yang terlihat kebingungan mencari spot untuk berfoto ini berawal dari media sosial (Instagram).

Melihat banyak yang memakai caption Kampung Warna-Warni ini, membuat ia ingin terjun langsung melihat kondisi tempatnya.

"Awalnya kita tahunya dari Instagram, kan di situ terlihat kawasan kampung warna-warni sini hits lah bahasanya. Makanya kita penasaran dan ke sini, ternyata ya bagus mas," katanya.

Setelah wawancara disertai dengan jalan-jalan, jurnalis MALANGTIMES melihat ada Warna-Warni Pustaka, yakni semacam perpustakaan mini yang berada di dekat rumah ketua RW Kampung Warna-Warni.

Menurut Dede, Warna-Warni Pustaka sangat bagus dihadirkan di tengah spot untuk berfoto, karena tak hanya tempat wisata yang ditonjolkan, namun juga ada sisi edukasi di dalamnya.

"Mengenai Warna-Warni Pustaka di sini saya kira sangat bagus. Karena pengunjung yang datang tidak hanya untuk foto-foto, namun juga bisa membaca. Kan kita tahunya cuma banyak yang berfoto, tapi setelah datang ya kayak gini, bagus banget malahan ini," tutupnya.


Pewarta : Hendra Saputra
Editor :
Publisher :


Top