Social Media

Share this page on:

Dimulainya Revolusi Mental Kota Malang (5)

Dulu Kotor dan Dijuluki Kampung Preman, Kini Bersih dan Sadar Wisata

24-03-2017 - 20:20
Ilustrasi
Ilustrasi

MALANGTIMES - Sekitar 1980 an masyarakat yang bertempat tinggal di Jalan Jaksa Agung Suprapto Dalam RW 6, Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang, terkenal dengan julukan Kampung Preman. Kenapa dijuluki Kampung Preman? Jawabannya karena warga yang berada di bantaran Sungai Brantas tersebut nyaris semuanya menjadi preman.

MalangTIMES menelusuri RW 6 Klojen yang dahulu terkenal sebagai penghasil preman. Untuk memasuki Kampung Preman, wartawan online ini harus masuk gapura selebar 4 meter bertuliskan Jalan Jaksa Agung Suprapto Dalam.

iklan

Walaupun lebarnya empat meter, namun mobil tidak masuk. Itu karena kondisi jalannya menurun sekitar 10 meter. Jalannya terbagi menjadi tiga bagian, kanan kiri berundak tangga, dan di tengah khusus jalur motor.

Usai melewati jalan turunan, kami disapa senyum hangat dari warga sekitar. Pagi itu, sekitar pukul 10.00, Kamis (23/3/2017), aktivitas warga setempat beragam. Ada yang memandikan burung kenari di sangkar, mencuci motor, hingga menjemur pakaian di depan teras rumah.

Setelah masuk sekitar 20 meter (dari gapura depan), jalan terbagi menjadi dua gang kecil lagi. Ukurannya sekitar bentangan tangan dewasa. Saat MalangTIMES masuk ke gang-gang kecil tersebut, suasananya sangat nyaman dan bersih.

Sebagian rumah sudah dicat putih dengan kombinasi warna pintu dan jendela hijau. Sedangkan di bagian sisi lainnya terlihat aktivas beberapa warga sedang melakukan pengecatan. Semua rumah di kawasan tersebut akan dicat seragam dengan warna utama putih. Karena itulah, kawasan yang dulunya kumuh ini sekarang dijuluki Kampung Putih.  

Di kampung tersebut juga ada sebuah bangunan dua. Lantai bawah digunakan untuk menyimpan alat kematian, sedangan di lantai atas beralaskan tikar yang difungsikan sebagai tempat pos penjagaan.

Usai melintasi pos penjagaan, wartawan media online berjejaring terbesar di Indonesia ini menyusuri jalan bertangga menurun menuju ke arah sungai yang dihuni warga RT 7. Posisi sungai berada di sebelah kanan deretan rumah warga.

Sesampai di pinggiran sungai, sudah tidak terlihat tumpukan sampah di sepanjang bantaran sungai. Pemandangan bersih seperti ini tak terlihat sebelum kawasan ini dinyatakan sebagai Kampung Putih oleh Wali Kota Malang Moch. Anton.

Dulunya, kawasan ini dikenal sebagai salah satu pemukiman kumuh. Kini, Kampung Putih siap menyusul saudara tuanya Kampung Warna Warni dan Kampung Tiga Dimensi (3D) menjadi destinasi wisata. Warga Kampung Putih kini secara perlahan juga mengalami revolusi mental.

"Awalnya masyarakat menyebut kawasan ini sebagai Gang Buntu, ada juga yang mengatakan Kampung Preman. Tapi itu dulu," kata Ketua RW 6 Jalan Jaksa Agung Suprapto Dalam, Gendut Santoso, saat ditemui MalangTIMES di kediamannya.

Namun, seiring perkembangan zaman dan bergantinya generasi, lambat laun pola pikir perkembangan masyarakatnya mengalami transisi perilaku yang positif. Sekitar tahun 2000 an masyarakat sedikit demi sedikit mulai berubah, mereka lebih peduli lingkungan.

"Memang ada beberapa sebagian kecil warga yang masih membuang sampah terutama di RT 7. Tapi sekarang mereka sudah tertib membuang sampah di tempat pembuangan sampah," tuturnya.

Perubahan mental warga RW 6 Klojen semakin cepat setelah Pemkot Malang menjadikan kawasan kumuh tersebut menjadi destinasi wisata dengan tema Kampung Putih.

"Warga sangat senang dan mendukung program pemerintah. Apalagi kampung kami terlihat bersih dan sekarang sudah menjadi jujugan wisatawan. Kami akan menjaga kebersihan lingkungan, kami juga akan membentuk tim kreatif ke depannya," terang Gendut.

 

Pewarta : Imam Syafii
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Aditya Fachril Bayu

Top