Social Media

Share this page on:

Dimulainya Revolusi Mental Kota Malang (7)

Pakar Psikologi UB: Kebutuhan Warga Kampung Kumuh Dipenuhi Pemkot, Revolusi Mental Cepat Terealisasi

25-03-2017 - 22:31
Ilustrasi
Ilustrasi

MALANGTIMES – Revolusi mental di tiga kawasan yang dulunya kampung kumuh di Kota Malang bisa dibilang seperti sulapan. Dikatakan sulapan, karena perubahan mentalnya bisa berlangsung secara cepat dan menghibur.

Padahal, di daerah lainnya, atau bahkan di negara maju, untuk melakukan sebuah revolusi mental dibutuhkan waktu yang cukup lama.

Tak hanya waktu yang cukup lama, revolusi mental di suatu daerah atau negara biasanya juga dilakukan secara represif. Menggunakan cara-cara pemaksaan.

Namun, apa yang yang terjadi di kawasan kumuh Kota Malang seperti Jodipan, Klojen, dan Ksatrian, revolusi mental bisa dilakukan dengan cara menyenangkan.

Tak ada penggusuran warga kawasan kumuh seperti yang kerap dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.  

Cukup dengan mengecat sebuah kawasan pemukiman kumuh dengan tema-tema tertentu, maka jadilah area yang dulunya kotor menjadi sebuah destinasi wisata.

Perubahan lingkungan inilah yang membuat manusianya juga berubah secara cepat, menyesuaikan dengan lingkungannya.

Kawasan yang dulunya dijauhi warga, kini berubah secara cepat menjadi objek yang kerap dikunjungi wisatawan.

Masyarakat setempat yang dulunya senang memasang tampang sangar, kini terus berusaha menebar senyum.

Ketua Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan  Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi. Ph.D mengatakan, perubahan mental secara cepat ini terjadi, karena pemerintahannya bisa mengetahui kebutuhan dasar warganya.

”Sebenarnya perubahan mental manusia berubah jika kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi. Jika kebutuhannya tidak terpenuhi maka akan menjadi tekanan kepada psikologinya mereka,” kata Cleoputri, Jumat, (24/3/2017).

Menurutnya, pola pikir masyarakat tiga kampung kumuh itu secara otomatis berubah usai wilayahnya dijadikan objek wisata. Itu karena adanya timbal balik antara individu dengan lingkungan sosialnya.

”Perubahan lingkungan sosial secara sistematis pasti akan membuat psikis dan rasa percaya diri masyarakatnya meningkat. Maka selanjutnya, akan ada rasa tanggung jawab yang tinggi untuk memiliki dan memeliharanya,” terang perempuan 40 tahunan tersebut.

Cleoputri mengatakan revolusi mental di tiga kampung kumuh tersbeut tidak hanya timbul dari pembangunan fisik saja, tapi karena adanya perubahan keramahan lingkungan. Yakni banyaknya warga yang berkunjung ke pemukiman mereka.

Selain itu, warga setempat juga ingin membuktikan diri kepada masyarakat luar bahwa mereka juga mampu beraktualisasi dengan cara positif.

“Adanya program pembangunan fisik itu, sebagai awal perubahan psikologi mereka secara perlahan levelnya akan meningkat ke level selanjutnya,” jelas wanita Solo itu.

Sebab, setiap manusia pasti melalui fase tingkatan revolusi mental secara berjenjang, bila kebutuhan dasar kehidupannya terpenuhi.

Cleoputri lantas mengutip teori Abraham Maslow tentang hirarki kebutuhan manusia. Yang menyatakan manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak tercukupi terlebih dahulu, sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi. Dasar itulah yang akan menjadi motivasi.

Konsep kebutuhan dasar itu, Maslow menggambarkan sebagai hierarki kebutuhan manusia meliputi kebutuhan fisiologis, sosial, kebutuhan akan rasa aman, rasa memiliki, kasih sayang, penghargaan, dan kebutuhan akan aktualisasinya.

 

Pewarta : Imam Syafii
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Aditya Fachril Bayu

Top