Social Media

Share this page on:

Mahasiswa Malang Buat Alat Deteksi Gempa Lebih Canggih dari Seismograf

16-08-2017 - 16:52
Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang (UM) ciptakan alat pendeteksi gempa dengan biaya rendah. Mereka beri nama alat itu Pease (foto: Wahida Rahmania Arifah/ MalangTIMES)
Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang (UM) ciptakan alat pendeteksi gempa dengan biaya rendah. Mereka beri nama alat itu Pease (foto: Wahida Rahmania Arifah/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Selama ini peringatan terhadap bahaya gempa bumi diketahui dari seismograf, yakni perangkat pengukur dan pencatat gempa bumi. Sayangnya alat ini memiliki kelemahan, sehingga membuat tim mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) menciptakan alat yang lebih canggih.

Salah satu anggota tim, Rangga Eka Santoso mengatakan kerja seismograf ternyata memiliki kelemahan, yakni kinerja alat tersebut juga membutuhkan operator dan dimensi alat seismograf cenderung lebih besar. Padahal hasil deteksi gempa seismograf itulah yang disiarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kepada masyarakat luas.

"Adanya gempa bumi juga baru diketahui masyarakat setelah hasil seismograf disiarkan BMKG. Itulah yang menurut kami suatu kelemahan. Karena ada jeda waktu lama antara peringatan bahaya gempa bumi dan proses evakuasi," tutur Rangga pada MALANGTIMES, Rabu (16/8/2017).

Karena kinerja seismograf yang perlu jeda waktu itulah akhirnya Rangga dan ketiga rekannya di Fakultas Teknik UM menciptakan inovasi alat pendekteksi gempa bumi.

Ketiga rekan Rangga dalam satu tim itu ialah Septya Hananta Widyatama, Yusuf Aji Wicaksono, dan Fitri Ika Mardiyanti. 

"Kami pun menciptakan alat pendeteksi gempa yang lebih praktis dan hemat biaya. Selain itu tidak perlu operator dalam pengoperasian alat," imbuh dia.

Alat itu mereka beri nama Pease yang merupakan kepanjangan dari Pendulum Earthquake Sensor.

Rangga menjelaskan alat ini memiliki komponen yakni micro-controlstabilizerloadspeaker, dua buah pendulum/bandul, ring, desain produk fitting lampu, pcb layout, dan timah.

"Kami butuh waktu sekitar lima bulan untuk menciptakan alat deteksi gempa bumi ini. Dengan biaya untuk pembuatan sebesar Rp 600 ribu. Tapi kalau sekarang bisa dengan biaya Rp 250 ribu saja," ungkap dia. 

Pease karya mahasiswa Fakultas Teknik UM itu punya beberapa kelebihan. Rangga menjelaskan Pease mampu mendeteksi gempa bumi lebih akurat.

Terpenting, lanjutnya, alat ini dapat langsung memberi peringatan melalui loudspeaker bila akan terjadi gempa kepada masyarakat luas.

Ke depan karya inovatif mahasiswa ini tidak hanya akan ditampilkan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).

Rangga dan timnya berencana menempatkan alat ini di beberapa lokasi agar masyarakat dapat langsung mengetahui bila ada terjadi gempa bumi. (*)


Pewarta : Wahida Rahmania Arifah
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :


Top