Social Media

Share this page on:

Batik Hanya untuk Pakaian Itu Kuno, Kini Sajadah pun Berbatik

03-10-2017 - 12:56
Hardi, salah satu pengrajin sajadah batik dari Sengguruh, Kepanjen, yang tergabung dalam Sanggar Batik Seng saat membuat sajadah batik. (Nana)
Hardi, salah satu pengrajin sajadah batik dari Sengguruh, Kepanjen, yang tergabung dalam Sanggar Batik Seng saat membuat sajadah batik. (Nana)

MALANGTIMES - Kreativitas para perajin batik Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen. patut diacungi jempol. Pasalnya, mereka yang tergabung dalam Sanggar Batik Seng dan berlokasi di Gondomono RT 15 RW 02 Sengguruh tidak berpuas diri dengan berbagai hasil kerajinan batiknya.

Buktinya, batik yang identik dengan busana atau pakaian, di tangan para perajin Seng ini direvitalisasi. Batik dibebaskan dalam berbagai produknya. Tidak hanya dibuat untuk menghiasi pakaian saja, tapi sajadah pun tak luput dari keindahan batik yang ditorehkan para perajin.

iklan

Sajadah batik pun lahir di Sengguruh dan siap menjadi bagian kekayaan produk batik di Kabupaten Malang.

Hardi, salah satu pengrajin di sanggar Seng, mengatakan dajadah batik merupakan terobosan baru dalam dunia perbatikan. Banyak hal yang melatarbelakangi terjadinya proses sajadah batik. "Salah satunya masih belum banyak yang masuk di wilayah ini," katanya kepada MalangTIMES, Selasa (03/10).

Ceruk pasar yang masih kosong inilah yang ditangkap oleh para perajin batik Seng Sengguruh. Selain tentunya sebagai bentuk pencarian varian baru, baik motif maupun bahan batik dan peruntukannya.

Selain hal tersebut, menurut Hardi, proses pembuatan sajadah bermotif batik ini secara waktu juga lebih cepat dibandingkan dengan batik pakaian.

Untuk menyelesaikan satu produk sajadah batik, hanya butuh waktu paling cepat 3 hari, tergantung motif. "Siap jual membutuhkan waktu paling lama 5 hari," terang Hardi.

 Ada beberapa tahapan yang harus dilalui sebelum sajadah batik siap untuk dipasarkan. Diawali gambar desain, lalu di-canting, kemudian diberi warna serta difiksasi atau penguncian warna. "Difiksasi butuh waktu 24 jam agar maksimal," jelas Hardi.

Setelah tahapan tersebut,  baru direbus untuk menghilangkan garis bekas cantingan atau menghilangkan lilinnya. Setelah selesai, masuk proses jahit. 

Lima pengrajin di Sanggar Batik Seng tersebut menghasilkan 15 lembar kain sajadah siap jual. Sementara harga sendiri dibanderol sesuai kerumitan dan tergantung permintaan pembeli.

"Harga kami patok mulai Rp 75 ribu rupiah sampai Rp 80 ribu, tergantung motif. Kalau motifnya rumit, ya sampai Rp 80 ribu rupiah. Juga tergantung bahan yang digunakan," ungkap Hardi yang menyampaikan juga bahwa bahan yang digunakan adalah kain katun. (*) 


Pewarta : Dede Nana
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Top