Social Media

Share this page on:

Hari Toilet Sedunia, Saat Kebutuhan Jamban Masih Dipandang Sebelah Mata (5)

Kredit Jamban, Lembaga Keuangan Mikro Ikut Penuhi Kebutuhan Sanitasi Masyarakat Miskin

20-11-2017 - 15:16
Direktur Operasional Koperasi Mitra Dhuafa (Komida) Sugeng Riyono saat memberi paparan kepada awak media di Hotel Aston, Bojonegoro. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Direktur Operasional Koperasi Mitra Dhuafa (Komida) Sugeng Riyono saat memberi paparan kepada awak media di Hotel Aston, Bojonegoro. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Malu. Perasaan itu kerap muncul di batin Sujono. Sebagai ketua RT, rumahnyalah yang sering jadi jujukan jika ada pejabat desa atau tamu dari luar datang ke dusunnya. Dia malu karena tidak punya jamban dan kamar mandi yang layak. 

Beberapa tahun terakhir, Sujono menjadi ketua RT 19/RW 04 Dusun Kedung Ngingas, Desa Kolong, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro. Ditemui di rumahnya dalam agenda media visit peringatan  World Toilet Day atau Hari Jamban Sedunia, Sujono dan Supeni, istrinya, mengaku bahwa dirinya baru punya jamban setahun belakangan. 

Selama ini, dia dan masyarakat di dusun tersebut masih memanfaatkan jumbleng atau jamban sederhana berupa lubang galian dari tanah. Kondisi rumah Sujono sendiri terbilang sederhana. Lantainya masih tanah dengan dinding dominasi papan kayu. Beberapa almari kayu tampak jadi perabot utama rumah, selain itu ada televisi 14" juga tampak di ruang tamu. "Pas ada tamu, tanya toiletnya mana kami bilang nggak punya. Nah itu malu, terus kami ingin punya," ujar Sujono.

Meski demikian, dirinya tidak bisa langsung membangun toilet karena keterbatasan dana. Meski sehari-hari bekerja sebagai petani, ditambah sang istri yang membuka warung kecil, mendapatkan uang jutaan rupiah untuk membangun jamban bukan hal yang mudah. 

Dia pun bersepakat bersama istrinya lalu mengajukan kredit tanpa agunan ke salah satu lembaga keuangan mikro (LKM). "Kami nyicil bahan sedikit-sedikit, tapi kalau nggak diberanikan utang yaa susah, nggak kuat biayanya," ujar Sujono. 

Sujono mungkin hanya salah satu gambaran di lapangan soal kesulitan masyarakat mengakses air bersih dan sanitasi yang layak. Kebanyakan keluarga di Indonesia dengan status masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tidak mempunyai kemampuan untuk membayar sambungan air baru. Mereka juga tidak mempunyai biaya untuk membangun sarana air seperti sumur dan toilet tanpa dana tambahan, yang membantu pembiayaan dari waktu ke waktu.

Manager Advokasi Water.org Musfarayani mengungkapkan, selama ini persoalan buang air besar sembarangan (BABs) masih belum dipandang sebagai isu strategis dan prioritas. Sehingga masyarakat awam pun tidak mudah memahami. Namun, lanjut dia, kondisi ini tertolong dengan hadirnya lembaga keuangan mikro (LKM) yang bisa melayani MBR untuk urusan ini. "Kami memiliki program water credit, atau pinjaman untuk kebutuhan akses air bersih serta sanitasi atau jamban," ujar Fay, sapaan akrabnya.

Mengenai program water credit, lembaga internasional nonprofit yang berbasis di Kanada itu berkerja sama dengan LKM lokal yang juga punya kepedulian terhadap isu-isu kesehatan masyarakat. Total sudah ada 11 LKM yang menjadi mitra water.org untuk water credit. 

Beberapa LKM itu di antaranya Kopsyah Benteng Mikro Indonesia, Koperasi Mitra Dhuafa (Komida), Koprasi Karya Usaha Mandiri, BMT BUS, dan lain-lain. "Kami memang lebih ke LKM, karena bank-bank besar lebih sulit untuk diajak menangani isu ini karena kebanyakan mereka mengejar profit tinggi untuk kredit yang dikeluarkan," jelasnya.

Hingga akhir 2016, sudah 84.367 orang penerima manfaat dengan 22.144 pinjaman sanitasi yang sudah dicairkan. Bentuk kemitraan Water.org dengan 11 LKM itu mendorong lembaga keuangan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat mengenai akses air bersih dan sanitasi.

Menurut dia, jika dilihat dari sisi bisnis, tentu sektor ini sangat seksi. Apalagi masih puluhan juta masyarakat Indonesia yang mengalami kesulitan untuk akses sanitasi. Selanjutnya, jika kerja sama sudah terbangun, Water.org memberikan pelatihan kepada staf LKM untuk peningkatan kapasitas dan pengetahuan terkait dengan kesanitasian dan air bersih. 

Proses ini mereka namakan technical assistant. "Nah bekal ini yang digunakan untuk mitra kami mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya jamban. Mengapa tidak kami lakukan sendiri, karena kami ingin hal ini menjadi program berkelanjutan. Sehingga ada atau tidak ada Water.org, program tetap berjalan," beber Fay.

Fay menguraikan, Water.org mulai masuk di Indonesia 2014 lalu. "Nah untuk gelar Hari Jamban Sedunia tahun ini, Water.org meminta Komida untuk mencarikan daerah yang sudah memanfaatkan water credit dan representatif, lalu direkomendasikan Kabupaten Bojonegoro ini," terangnya. 

Menurut Direktur Operasional Koperasi Mitra Dhuafa (Komida) Sugeng Riyono, pihaknya fokus menggarap sektor sanitasi masyarakat miskin karena tidak ada lembaga keuangan besar yang mau menggarap sektor ini. "Sudah tiga tahun kami membantu pembiayaan masyarakat miskin dari sisi kesehatannya dan berhasil," ujarnya.

Komida kini mentargetkan pembiayaan air bersih dan sanitasi layak untuk 20 ribu anggota perempuan miskin. Berbeda dengan lembaga keuangan besar, pihaknya mau mengerahkan personil untuk melakukan jemput bola mengincar anggota atau nasabah hingga ke desa-desa. "Kami mengurangi resiko dengan memberikan kredit dalam bentuk barang secara bertahap, dan kami juga berkonsultasi langsung dengan tukang yang hendak membangun jamban tersebut," jelasnya.

Pihaknya mengaku tidak bisa memberikan bunga kredit di bawah 22% untuk masyarakat miskin dalam program tersebut. Karena 70% dana yang dikucurkan itu bersumber dari pinjaman ke bank yang bunganya sebesar 13-14% per tahun. "Mungkin kalau hanya dipandang dari bunganya terlihat besar, tetapi semua kami perhitungkan juga dengan lama masa pinjam dan kemampuan besaran angsuran mingguan nasabah," jelasnya. 

Lalu bagaimana di Malang Raya, apakah kredit jamban atau keperluan sanitasi itu sudah masuk dalam program pemerintah? Hal tersebut akan MalangTIMES beberkan di tulisan selanjutnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, tahun ini MalangTIMES berkesempatan mengikuti peringatan Hari Jamban Sedunia bersama lembaga internasional non profit Water.org yang selama ini memberi perhatian serius pada isu akses sanitasi dan air bersih bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Water.org bersama Koperasi Mitra Duafa (Komida) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyelenggarakan Media Visit dan Workshop II Jurnalis Jatim. 

Mengangkat tema Peran Lembaga Keuangan untuk Akses Air Bersih dan Sanitasi bagi MBR, kegiatan tersebut dilangsungkan di Kabupaten Bojonegoro selama empat hari, mulai Jumat (18/11/2017) hingga hari ini (20/11/2017). Sekitar 25 awak media di Jawa Timur (Jatim) dan beberapa bloger dilibatkan untuk melihat langsung fakta lapangan soal kurangnya kesadaran masyarakat atas kepemilikan jamban. (*)


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Yunan Helmy
Publisher :


Top