Social Media

Share this page on:

Ternyata, Nonton Film Horor Bisa Bikin PeDe

28-12-2017 - 15:48
Salah satu adegan film horor Indonesia yang meraup penonton sampai ribuan orang. (Istimewa)
Salah satu adegan film horor Indonesia yang meraup penonton sampai ribuan orang. (Istimewa)

MALANGTIMES - Menonton film genre horor, ternyata bisa membuat penontonnya percaya diri atau PeDe dalam kehidupan nyata sehari-hari. 

Hal ini bukan sekedar isapan jempol belaka. Tapi telah diuji dalam sebuah penelitian ilmiah oleh Profesor dari Brian Lamb School of Communications, Universitas Purdue, Indiana. Profesor ini mengatakan, seseorang bisa lebih PeDe setelah menonton film horor. "Karena dia mampu melewati ketakutan yang dilihatnya di dalam film," ujarnya seperti dikutip psychcentral.com.

Maka, jangan heran apabila film genre horor, baik layar lebar maupun yang ditayangkan di televisi, selalu meraup penonton terbilang besar. Contohnya, film Pengabdi Setan garapan Joko Anwar yang ditonton 4 juta orang sampai bulan November 2017.

Di layar televisi, kegandrungan masyarakat menonton tayangan para hantu dengan berbagai wujud menyeramkannya maupun yang dikemas dengan cara reality show, telah lama mencuri hati. Dulu sampai kini. Walaupun saat ini konsep tayangan horor mulai berubah konsepnya. Yaitu membungkus tema mistis atau horor dengan narasi tentang karma baik dan buruk. Tentunya lengkap dengan siksa Tuhan bagi hambanya yang melakukan kejahatan.

"Kalau dulu itu seramnya kena. Kayak Dunia Lain (tayang tahun 2003, red) dilanjut (Masih) Dunia Lain. Uka-Uka, Ekspedisi Alam Gaib atau Pemburu Hantu. Seram banget tapi saya tidak pernah melewatkannya," kata Nuraini (32) warga Sumberpucung yang mengoleksi cakram film horor dalam dan luar negeri ini. 

Nuraini bercerita, dulunya dia tergolong penakut. Apalagi sudah mendengar atau melihat cerita dan film horor. Dia pasti akan segera lari dan meninggalkannya. Tapi, kondisi ini akhirnya menyiksa dirinya sendiri. "Di rumah semua suka nonton tayangan hantu. Karena saya yang paling tidak suka, akhirnya selalu sendirian. Lama-lama kok enggak enak sendiri," kenangnya.

Akhirnya dia memberanikan diri untuk melihat tayangan horor di televisi. Lama kelamaan sikap percaya dirinya tumbuh. "Akhirnya jadi kecanduan nonton film hantu," kata Nuraini sambil tertawa.

Hal serupa juga terjadi kepada Ananta Dewa (9) warga Kromengan. Anak SD kelas 3 ini, terbilang sangat penakut. "Iya anak saya penakut sekali. Mau pipis ke belakang saja minta antar. Entah kenapa sejak dia suka lihat tayangan tivi Iiihhh Serrreemm, malah jadi berani," ujar Sriwati, Ibu Ananta.

Tayangan yang sebenarnya tidak serem-serem banget ini, karena balutannya lebih ke komedi dan petualangan anak-anak, ternyata menumbuhkan keberanian Ananta. Hantu dalam tayangan tersebut hanyalah sebuah strategi kreasi televisi dalam boomingnya kembali acara hantu ke rumah-rumah masyarakat.

Lepas dari adanya pro kontra dalam masyarakat mengenai tayangan horor, kenyataannya genre yang mengeksploitasi berbagai jenis hantu ini laris manis bak kacang rebus di musim penghujan.

Rahmat warga Talangagung, Kepanjen yang di kampungnya dipercaya bisa menyembuhkan berbagai kesurupan karena ulah makhluk astral mengatakan, kondisi ini karena masyarakat familiar dengan hal-hal tersebut.

Paparan cerita hantu telah terjadi sejak kecil sampai mereka tumbuh dewasa. Tapi, beragam cerita turun temurun ini hanya berhenti di wilayah imajinasi. "Kan tidak semua orang bisa melihat makhluk astral, mas. Mungkin itulah yang membuat film horor bisa laris. Karena bisa memuaskan bayangan mereka selama ini. Padahal kan tidak semua makhluk astral kayak di film," urai Rahmat.

Lepas dari kepentingan industri, film horor telah menjadi bagian kehidupan masyarakat. Bahkan, secara tidak langsung telah menumbuhkan PeDe bagi para penontonnya.


Pewarta : Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :


Top