Social Media

Share this page on:

Ritual Minta Hujan di Indonesia, Terunik Ada di Kabupaten Malang

27-12-2017 - 15:10
Banyak ritual memanggil hujan yang unik di berbagai daerah. Salah satunya di Kabupaten Malang melalui media mengawinkan kucing. (Istimewa)
Banyak ritual memanggil hujan yang unik di berbagai daerah. Salah satunya di Kabupaten Malang melalui media mengawinkan kucing. (Istimewa)

MALANGTIMES - Ritual merupakan budaya bagi suku-suku di Nusantara ini, khususnya Jawa. Berlangsung sejak berabad-abad, ritual dalam masyarakat terus bertahan dalam gempuran modernitas saat ini.

Kepercayaan masyarakat terhadap aktivitas yang dipandang takhayul, tidak logis dan sebagainya oleh sebagian kalangan tidak menghilangkan budaya ritual. Misalnya, ritual meminta hujan saat kemarau datang berkepanjangan. Ritual ini masih terus dilakukan di beberapa daerah, misalnya di Kabupaten Malang. 

Ragam ritual meminta hujan di setiap daerah berbeda-beda. Tapi yang pasti selalu mengundang masyarakat untuk berkumpul dan melihatnya. Keunikan, aura mistis, serta ragam bentuk ritual bahkan telah menjadi bagian dari pariwisata.

Lantas, ritual meminta hujan seperti apa saja yang terbilang unik? MalangTIMES merangkumnya untuk Anda.

1. Ritual Kawinkan Kucing

Ritual mengawinkan kucing untuk memanggil hujan.

Ritual terunik dalam meminta hujan ini merupakan adat turun-temurun warga Desa Sumberrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Melalui media menikahkan sepasang kucing layaknya pernikahan manusia, ritual ini menjadi hal terunik yang ada di Nusantara.

Kucing jantan yang akan dikawinkan diberi nama seperti manusia. Diletakkan di dalam kandang terbuat dari bambu, si kucing jantan ini akan diarak ke tempat pengantin wanitanya.

Setelah itu. sepasang pengantin ini bertemu dan diarak ke mata air Kali Putih di Dusun Sumberwangi. Di sana kucing akan dimandikan dan dilepaskan.  

2. Ritual Ojung

Ojung, tarian penurun hujan yang masih dilakukan di wilayah Kabupaten Malang

Warga  di Dusun Sempring, Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, memiliki ritual ojung dalam meminta hujan. Ritual ini juga masih dilaksanakan di Suku Tengger.

Baju dilepas dan diganti sarung yang dililitkan di pinggang warga yang akan melakukan ritual saling sabet rotan sepanjang satu meter. 

Musik  mengiringi aksi mereka. Tubuh berdarah kena sabet rotan inilah yang diharapkan akan dapat mengundang turunnya hujan.

3. Tari Sintren

Tari Sintren masyarakat Cirebon, Jabar yang berbalut mistis.

Tarian tradisional masyarakat Cirebon, Jawa Barat, ini masih kerap ditemukan. Tari yang juga disebut dengan lais itu merupakan tarian mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.

Diperankan seorang gadis yang masih perawan dan diikat sebelum  dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang ditutupi kain. Pawang kemudian berjalan memutari kurungan ayam itu sembari merapalkan mantra memanggil ruh Dewi Lanjar. Jika pemanggilan ruh Dewi Lanjar berhasil, maka ketika kurungan dibuka, sang gadis tersebut sudah terlepas dari ikatan dan berdandan cantik, lalu menari diiringi gending.

4. Tari Gundala-Gundala Karo 

Tari Gundala-Gundala Karo, Sumut

Tari yang berasal dari Kabupaten Karo, Bukit Barisan, Sumatera Utara, dalam bahasa Batak di sebut Ndilo Wari Udan. Memakai kostum dengan pakaian seperti jubah dan topeng yang terbuat dari kayu, tarian meminta hujan ini berkelindan dengan mitos zaman dulu.

Dikisahkan pada zaman dahulu terjadi kesalahpahaman antara putri seorang raja dan seekor burung Gurda – Gurdi. Awalnya mereka bersahabat, namun burung Gurda-Gurdi memiliki pantangan. Yaitu, apabila ada bagian tubuhnya terpegang oleh manusia, ia akan menjadi berang dan marah. 

Tanpa sengaja putri memegang paruh burung Gurda-Gurdi ketika sedang bercanda. Burung Gurda-Gurdi pun berang, lalu untuk kedua kalinya suami sang putri juga memegang bagian tubuh burung Gurda-Gurdi untuk menenangkan.  Akhirnya berakhir pertempuran antara pangeran dan burung Gurda-Gurdi. Hingga berakhir dengan meninggalnya burung Gurda-Gurdi.

Setelah meninggal, para manusia baru menyadari bahwa hal tersebut hanyalah karena kesalahpahaman. Pada hari meninggalnya burung Gurda-Gurdi, hari tiba-tiba mendung dan hujan turun dengan derasnya. (*)


Pewarta : Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher :


Top