Social Media

Share this page on:

Ada Jual Beli Organ Tubuh di Malang? (16)

Terkesan Lepas Tangan Soal 'Jual Beli' Ginjal, RSSA Malang Sebut Transplantasi Sesuai Prosedur

22-12-2017 - 19:45
Suasana konferensi pers tim dokter Rumah Sakit Saiful Anwar soal indikasi jual beli ginjal. (Foto: Nurlayla Ratri/ MalangTIMES)
Suasana konferensi pers tim dokter Rumah Sakit Saiful Anwar soal indikasi jual beli ginjal. (Foto: Nurlayla Ratri/ MalangTIMES)

Ada Jual Beli Organ Tubuh di Malang? (16)

Pihak Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang akhirnya angkat suara soal polemik 'jual beli' ginjal yang melibatkan Ita Dianan, warga Kota Batu, dengan Erwin Susilo, warga Kota Malang. Rumah sakit plat merah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu terkesan lepas tangan atas transaksi yang dilakukan dua pasiennya itu. 

iklan

Hal tersebut tampak saat konferensi pers di ruang Majapahit. Menemui awak media, Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan RSSA Hanief Noersjahdu, Ketua Komite Medik RSSA Istan Irmansyah, serta ketua tim transplantasi ginjal dr Atma Gunawan. Selain itu, hadir pula dokter-dokter yang terlibat dalam operasi, termasuk dr Rifai yang disebut-sebut sebagai 'perantara' antara Ita dengan Erwin. 

Berdalih waktu yang terbatas, awak media diberi kesempatan selama satu jam untuk bertanya jawab. Hanief Noersjahdu di awal konferensi pers tersebut membacakan empat pernyataan sikap RSSA terhadap pemberitaan soal indikasi jual beli ginjal itu. 

Empat poin itu, pertama, proses transplantasi dilakukan secara institusional dan tidak dilakukan secara pribadi. "Jadi ada tim yang berjumlah sekitar 20 orang dokter yang mengawal prosesnya. Bukan atas nama dr Atma atau dr Rifai. Memang dr Atma yang menjadi ketua tim transplantasi," ujar Hanief. 

Kedua, kegiatan yang telah dilakukan saat ini mengacu pada Permenkes 38 tahun 2016 yang berlaku di RSSA dan seluruh institusi lain di Indonesia yang melakukan transplantasi ginjal. Ketiga, dalam Permenkes dan SOP yang diterapkan untuk transplantasi ginjal di RSSA tidak ada unsur jual beli, tidak ada unsur menawar, dilakukan secara sukarela, tulus iklhas, tanpa paksaan. 

Dan keempat, dalam hal ini RSSA juga sedang melakukan tindakan audit internal. Soal audit internal ini akan MalangTIMES bahas dalam tulisan selanjutnya. 

Sementara itu, dr Atma Gunawan menerangkan bahwa pelaksanaan transplantasi bisa dilakukan jika ada pendonor dan recipient atau penerima. "Kami tidak pernah mencari-cari donor, kami sifatnya pasif. Sesuai aturan juga dilakukan tidak ada akad jual beli. Tidak ada perjanjian di luar perjanjian yang disepakati," ujarnya.

Soal perjanjian antara Ita dengan Erwin, Atma mengaku baru mengetahui beberapa minggu terakhir. Dia juga menegaskan dalam perjanjian yang dipegang rumah sakit, ada klausul yang menerangkan bawa tidak boleh ada tuntut-menuntut pasca-tindakan.

"Dan kalau ada perjanjian antara pendonor dengan penerima, itu adalah di luar tanggung jawab dari rumah sakit kami," tuturnya.

Terlebih, menurut Atma ada saksi-saksi yang ikut menandatangani perjanjian pra-tindakan. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari jual beli atau makelar. "Setelah dua pihak sepakat, kami beri waktu berpikir pada mereka. Tapi intinya rumah sakit tidak bertanggung jawab setelah transplantasi di luar kesepakatan yang disepakati di perjanjian," paparnya.


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Aditya Fachril Bayu

Top