Social Media

Share this page on:

Revolusi Kemasan Kopi, Tak Lagi Hanya Sekadar Bungkus

30-12-2017 - 10:08
Kemasan kopi menjadi bagian dalam menguatkan branding di pasaran. (Istimewa)
Kemasan kopi menjadi bagian dalam menguatkan branding di pasaran. (Istimewa)

MALANGTIMES - Kopi adalah minuman familiar di berbagai negara. Dari megapolitan sampai di pelosok perdesaan. 

Aromanya yang menyihir sejak pertama kali kopi ditemukan yaitu sekitar 3.000 tahun lalu di Ethiopia, telah menjadikan kopi sebagai minuman dunia.

iklan

Kemasan botol kopi.

Perkembangan kopi, sejalan dengan perkembangan zaman mengalami berbagai revolusi. Baik dari pola rasa sampai pada kemasan (packaging). Untuk yang terakhir ini, perubahannya cukup revolusioner.

Dari sekedar dibungkus ala kadarnya dengan berbagai medium (biasanya plastik), sampai pada berbagai bentuk unik kemasan bagi produk kopi di berbagai belahan dunia.

Misalnya bentuk botol yang sekilas terlihat seperti parfum dari produk Ferro. Atau serupa botol minuman kemasan yang dilansir KoHaNa atau Cold Press Coffee.

Kemasan kopi dengan gambar para petani dan sejarah kopi.

Yang bersifat konvensional, yaitu kopi balutan alumunium foil dan kertas pun, kemasannya berubah dengan radikal. Seperti Prime Luwak Coffee atau Caffia dengan kemasan sederhana yang ekselen dan disenangi para pecinta kopi di hotel-hotel berbintang.

Seluruh kemasan tersebut, tidak sekedar sebagai pembungkus saja. Tapi, lebih pada sebuah branding kopi yang merupakan nilai tambah. 

Packaging kopi di Eropa telah berkibar. Walau secara rasa, kopi lokal lebih menggigit dan dikenal secara mendunia. Seperti Java Coffee, Amstirdam atau Kopi Merah dari lereng Gunung Kawi. Tapi dalam persoalan kemasan memang belum seperti yang ada di berbagai daerah kopi dunia.

"Kita masih berkutat dalam persoalan produksi. Untuk kemasan masih belum tersentuh maksimal. Standar saja, tidak aneh-aneh dulu," kata Teguh petani kopi merah Jambuwer.

Kemasan eksekutif luwak kopi.

Packaging unik dan mencerminkan branding kopi yang dipasarkan, masih sebuah persoalan bagi para petani yang memasarkan produk kopinya. Selain persoalan dana, pemasaran produk kopi rakyat masih sebatas di pasar konvensional.

"Kita jual di event-event dan beberapa tempat saja. Masih belum bisa merambah ke hotel atau cafe kelas atas," ujar Teguh yang berharap adanya kemasan kopi dengan grafis wajah para petani dan sejarahnya sebagai petani dalam kemasan.

Kondisi tersebut, menyisakan ruang dalam pertumbuhan pemasaran kopi lokal Kabupaten Malang. Cita rasa dunia kopi sudah saatnya disentuh dengan kemasan unik, elegan dan mengundang pembeli terpesona.

Karena, pada kemasan biasanya pandangan pertama pembeli jatuh cinta.


Pewarta : Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha

Top