Social Media

Share this page on:

Ada Jual Beli Organ Tubuh di Malang? (21)

Meski Dokter RSSA Mengelak Dituding sebagai 'Makelar' Ginjal, Tapi...

24-12-2017 - 17:43
dr Rifai saat menjawab pertanyaan awak media terkait keterlibatannya dalam indikasi jual beli ginjal di RSSA Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
dr Rifai saat menjawab pertanyaan awak media terkait keterlibatannya dalam indikasi jual beli ginjal di RSSA Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Salah satu sosok kunci dalam polemik 'jual-beli' ginjal adalah dr Rifai. Dokter yang bertugas di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) sekaligus anggota tim transplantasi itu disebut-sebut menjadi 'makelar'.

Rifai dituding mempertemukan pendonor Ita Diana, warga Kota Batu, dengan penerima ginjal Erwin Susilo, warga Kota Malang. 

iklan

Saat melakukan konferensi pers terhadap awak media, Rifai mengelak atas tudingan itu. Namun pernyataan Rifai yang seolah tidak mengetahui apa-apa, dibantah oleh kedua pasien transplantasi, yakni Ita dan Erwin. 

Terlebih, pihak RSSA Malang tampaknya menutup-nutupi soal prosedur pendafataran Ita sebagai pendonor ginjal. Saat didesak untuk mengurai kronologi terlibatnya Ita dalam proses awal tersebut, pihak rumah sakit hanya memberi penjelasan tanpa disertai bukti data karena disebut sebagai rahasia pasien. 

Dalam pernyataannya pada awak media, dr Rifai justru menuding Ita yang 'menawarkan' ginjalnya. "Persyaratan jadi donor banyak, termasuk administratif. Saya dan tim tidak mengenal Bu Ita. Yang terjadi, Bu Ita datang dengan sendirinya memperkenalkan diri untuk menjadi donor transplantasi, secara ikhlas," ujar Rifai.

Dia melanjutkan, setelah mendaftar, data diri Ita dicatat di rumah sakit dan tidak serta merta diproses. Melainkan dilakukan serangkaian tes untuk menemukan penerima yang cocok. "Bu Ita secara aktif datang berkali-kali ke tempat kami dan menyatakan kesanggupannya menjadi donor," tambahnya. 

Pernyataan dr Rifai ini bisa jadi malah menjadi celah. Jika memang ada pendonor yang 'ngotot' memberikan organ vitalnya pada orang lain, sebagai insan berpendidikan sangat mustahil tidak mengetahui motif lain di baliknya. Namun, Rifai mengelak. "Soal motif uang Rp 350 juta itu malah baru saya ketahui di MalangTIMES," sebutnya. 

Media berjejaring terbesar di Indonesia ini memang menguraikan secara detail kasus dugaan jual-beli ginjal. Termasuk nilai hutang Ita Diana yang rencananya dilunasi setelah menjual ginjal kirinya. Dari pengakuan Ita, dia sudah mengungkapkan masalah kesulitan ekonomi jauh sebelum tindakan trasplantasi dilakukan. 

"Ada empat tahap pemeriksaan yang dilakukan Bu Ita, mulai general hingga tingkat kecocokan sel. Yang memutuskan adalah tim. Tidak benar kalau ujug-ujug saya datangi (Bu Ita)," ujarnnya.

Jika dikroscek dengan pengakuan Ita, pernyataan tersebut ada benarnya. Sebab sebelum bertemu dr Rifai, Ita sempat bertemu satu staf rumah sakit terlebih dahulu. Sosok ini yang hingga saat ini masih belum ditemukan. 

Soal percakapan melalui pesan WhatsApp antara Ita dengannya, dr Rifai mengaku hanya ingin meminta kejelasan soal masalah yang terjadi.

"Kami tanya ke Ita, ada masalah apa kah sampai wartawan ikut campur? Maka kami berinisiatif beri tahu dia segera menghadap dr Atma (ketua tim transplantasi) untuk menjelaskan," terangnya. 

"Intinya pesan itu agar beri tim bisa memberi penjelasan menyeluruh. Apakah masalah itu terkait (proses dan hasil) transplantasi atau tidak. Kalau tidak (terkait tindakan medis) ya di luar kewenangan kami," sebutnya. 

Pernyataan-pernyataan itu dibantah oleh kuasa hukum Erwin Susilo, Suwito. Pada awak media, Suwito membeber kronologi proses transplantasi itu. Dari versinya, Erwin sudah menjadi pasien RSSA Malang di bawah penanganan dr Rifai selama tujuh bulan. 

Sepanjang pengobatan, Erwin berkali-kali cuci darah. Menurut Suwito, Erwin diperkenalkan kepada Ita Diana oleh pihak rumah sakit, dalam hal ini dr Rifai. "Klien saya Erwin mengalami gagal ginjal, akhirnya dalam perjalanan diperkenalkan kepada Ita Diana oleh RS. Sudah disediakan, untuk menawarkan donor ginjal yang dibutuhkan klien kami. Waktu itu tak ada pikiran terima operasi ginjal karena takut," ungkapnya.

Menurut Suwito, kedua pihak akhirnya sepakat karena kebutuhan masing-masing. Erwin sedang sakit parah, sementara Ita dikejar-kejar utang. Setelah itu, kesepakatan pendonoran ginjal ini dinyatakan dalam surat pernyataan bersama.

Pernyataan yang didasarkan UU nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, serta PP nomor 18 tahun 1981 itu tidak mencantumkan soal perjanjian bawah tangan tentang utang-piutang dan nominal 'tali asih' yang diberikan. 


Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha

Top